Penderita HIV Malu Lapor, Kadinkes kota Malang: Jangan Didiskriminasi!

Aids

KOTA MALANG – Diskriminasi lingkungan yang menimbulkan rasa malu dan takut menjadi penghambat penderita HIV/AIDS untuk memeriksakan diri. Padahal, kondisi tersebut justru memuat penyebaran HIV/AIDS menjadi lebih mudah dan cepat.

“Tolong jangan didiskrimi, justru harus dibantu. Penyebaran virus HIV itu juga karena sumbernya tidak mau memeriksakan diri,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Asih Tri Rachmi

Di sisi lain, upaya untuk terus menekan tingginya angka pengidap HIV adalah dengan mengarah ke sumber penularan. Salah satunya LGBT. “Kemudian, LSL (Laki Suka Laki), memang secara agama salah. Tapi Dinkes tentunya harus bisa menjaring mereka agar perilaku menyimpang itu dibatasi,” jelas perempuan berkacamata ini.

Melalui Puskesmas, Dinkes memberikan penyuluhan juga klinik khusus untuk memeriksa penderita HIV. “Misal di puskesmas di Dinoyo itu fasilitasnya lengkap, dari Klinik LSL sampai pemberian obat antiretroviral (ARV),” tutur Asih


Ia melanjutkan, ARV bukan untuk menyembuhkan. Tapi dapat mencegah sekaligus menekan penularan jika penderita rutin meminumnya.

“Misalnya ibu hamil yang menderita HIV, agar tidak menular ke janin ia harus meminum ARV secara rutin. Atau untuk pasangan suami istri, selain memakai pelindung kondom, juga harus demikian,” tutupnya

Pewarta : Feni Yusnia
ilustrasi : dok JPNN
Penyunting : Fia