Pendakian Gunung Semeru dan Bromo Naik Harga, Ini Rinciannya

Pariwisata menjadi salah satu sektor yang digarap Pemkab Malang untuk meningkatkan PAD 2019

KOTA MALANG – Sejalan akan dibukanya kembali pendakian Semeru dan Gunung Bromo oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada 12 Mei esok. TNBTS memutuskan juga bakal menaikkan harga tiket masuk, baik Gunung Bromo maupun Pendakian Gunung Semeru terhitung sejak 1 Juni 2019 mendatang.

“Dari hasil rapat koordinasi yang juga memutuskan membuka kembali pendakian di taman nasional, TNBTS juga memutuskan kenaikan harga masuk,” terang Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, John Kennedie.

Premi Asuransi jadi penyebab TNBTS akhirnya memutuskan kenaikan tiket ini. Kennedie mengatakan, kenaikan tiket masuk menuju Gunung Bromo dan Semeru ditambah penambahan premi asuransi dari sebelumnya sebelumnya Rp 2500 menjadi Rp 4000 per tiket.

Kenaikan tiket plus premi asuransi ini menjadikan harga tiket masuk Gunung Bromo dari yang semula Rp 27.500 menjadi Rp 29 ribu pada hari kerja. Sedangkan untuk hari libur naik dari harga Rp 32.5 ribu menjadi Rp 34 ribu untuk wisatawan lokal.

Sementara itu, tiket masuk ke Gunung Semeru menjadi Rp 19 ribu dari yang sebelumnya Rp 17.5 ribu di hari biasa. Di hari libur, tiket ke Gunung Semeru menjadi Rp 24 ribu dari yang sebelumnya hanya Rp 22.5 ribu.



Sementara itu, tiket untuk wisatawan mancanegara tidak mengalami kenaikan karena tidak ada penambahan premi asuransi.

“Tiket di TNBTS dibedakan menjadi wisatawan lokal dan mancanegara. Kenaikan tiket ini juga sesuai pasal 20 huruf f Undang-undang (UU) Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Dalam pasal tersebut disebutkan bahwa setiap wisatawan berhak memperoleh perlindungan asuransi untuk kegiatan pariwisata yang berisiko tinggi,” pungkasnya.

Kegiatan pariwisata beresiko tinggi ini sendiri meliputi kegiatan mendaki yang bisa dilakukan di Gunung Bromo maupun Gunung Semeru. Wisata alam seperti panjat tebing, arung jeram, permainan jet coaster dan mengunjungi objek wisata tertentu seperti menyaksikan satwa liar juga termasuk kegiatan pariwisata yang beresiko tinggi.

Berdasarkan data Balai Besar TNBTS dari tahun 2016 hingga 2019 saja sudah tercatat 10 orang meninggal dunia karena sakit, sembilan orang meninggal karena kecelakaan dan 62 orang dirawat karena penyebab yang sama saat melakukan pariwisata di wilayah TNBTS. Selain itu, 23 orang juga dievakuasi dengan berbagai penyebab.

“Berdasarkan catatan Asuransi, TNBTS menduduki peringkat pertama dari kecelakaan yang terjadi. Maka dari itu disebut pariwisata yang beresiko tinggi dan harus memakai premi asuransi,” tutup John.

Pewarta: Elfran Vido
Foto: Rubianto
Penyunting: Fia