Pencemaran Kali Brantas Parah

Tingkat pencemaran air Kali Brantas mengundang perhatian serius Perum Jasa Tirta (PJT) I. Dari hasil uji lab yang dilakukan, kualitasnya menukik hingga di bawah air baku. Hasil uji lab tersebut juga rutin dikirim ke pihak terkait agar bisa jadi rujukan.

MALANG KOTA – Tingkat pencemaran air Kali Brantas mengundang perhatian serius Perum Jasa Tirta (PJT) I. Dari hasil uji lab yang dilakukan, kualitasnya menukik hingga di bawah air baku. Hasil uji lab tersebut juga rutin dikirim ke pihak terkait agar bisa jadi rujukan.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama PJT I Malang Raymond Valiant Ruritan dalam acara diskusi dengan media di My Kopi – O! Kota Malang kemarin siang (19/1). Raymond mengungkapkan, tahun ini pihaknya segera mengadakan penelitian besar terkait air Kali Brantas. ”Kami melibatkan kampus dan pakar agar hasilnya independen,” kata dia kemarin.

Dia menyebutkan, penelitian air yang kali terakhir dilakukan pada tahun 2000-an akan dibandingkan dengan hasil penelitian terbaru. Untuk saat ini, kualitas air Kali Brantas beragam. Untuk di Sumber Brantas, Kota Batu, atau hulu, kualitasnya masih bagus. Namun, setelah  turun di pusat Kota Batu, kualitasnya menurun. ”Dari Kota Batu ke Kota Malang, air kembali membaik kualitasnya,” kata dia.

Namun, saat mengalir di Kota Malang, kondisi air Kali Brantas memburuk. ”Kualitasnya jauh di bawah air baku, karena banyak limbah domestik atau rumah tangga serta limbah pestisida,” ungkap mantan direktur teknik PJT I ini.

Dia menjelaskan, pihaknya rutin melakukan pengambilan sampel dua minggu sekali. Terutama pada titik-titik yang kerap terjadi pencemaran seperti muara Kali Tengah, Bendungan Sutami, Kali Surabaya–Jagir, dan Karangpilang. ”Jumlah titik pengambilan sampel di Kali Brantas ada 55 titik,” terangnya.



Banyaknya jumlah titik pengambilan sampel itu, menurutnya, sudah mewakili keseluruhan. Sampel diambil di daerah yang mudah terjangkau. Selain itu, ada pula pemantauan secara online dengan menggunakan alat yang terpasang di beberapa titik. Sampel air ini kemudian dianalisa baku mutunya sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Pengujian dilakukan di dua laboratorium milik Jasa Tirta, yakni di Malang dan Mojokerto. ”Setiap pengambilan sampel hasilnya berbeda,” kata Raymond.

Hasil uji lab tersebut kemudian dilaporkan ke dinas lingkungan hidup, pemerintah kota/kabupaten sepanjang DAS, serta PDAM yang menggunakan air Kali Brantas sebagai bahan baku utama secara rutin. ”Itu membuat masukan ke pemkot untuk kebijakan terkait pencegahan pencemaran Kali Brantas,” kata dia.

Berdasarkan data kualitas air DAS Brantas hasil pemantauan rutin Perum Jasa Tirta I selama 2012-2016 dengan parameter utama yang diukur adalah parameter pencemar organik, antara lain kadar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO), menunjukkan kualitas baku mutu beragam. ”Tidak bisa digeneralisasi kualitasnya sama semua, karena tingkat pencemaran berbeda-beda,” kata alumni Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) ini. Pada bagian hulu, mulai Waduk Sutami, Kabupaten Malang, sampai Jembatan Tambangan, Kesamben, Blitar, parameter DO tidak memenuhi baku mutu air kelas 2 atau airnya tidak bersih.

Koran ini pernah memantau di beberapa titik. Di antaranya, di jembatan Jalan Muharto. Beberapa menit wartawan koran ini berada di lokasi, diketahui banyak warga yang membuang sampah ke Kali Brantas. Akibatnya, banyak tumpukan sampah domestik (sampah berasal dari rumah tangga) mengendap. Ada juga sampah yang menempel di bibir sungai, mulai plastik, kertas bekas, popok bayi, bahkan bangkai ayam.

Pekan lalu, warga Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, juga dibuat resah karena menjumpai banyak buih busa mengalir ke Kali Brantas. Warga sekitar melaporkan banyaknya buih tersebut ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu dan Polres Batu. Hingga kini, polisi masih menyelidiki hal tersebut untuk mengetahui apakah buih itu mengandung zat kimia berbahaya atau tidak.

Deputi Teknik Perum Jasa Tirta I Fahmi Hidayat menyatakan, pihaknya sudah melakukan uji kualitas air di Kali Brantas secara rutin. ”Hasilnya, kualitas air di Kali Brantas di bawah standar, sehingga tidak layak dipakai untuk kebutuhan sehari-hari (untuk masak, minum, dan mandi),” kata Fahmi.

Pewarta : Aris Syaiful
Penyunting : Ahmad Yani
Copy Editor : Arief Rohman