Penasaran? Berapa Dana Kampanye Para Calon Dewan Perwakilan Mahasiswa UB

KOTA MALANG – Pemandangan Universitas Brawijaya (UB) beberapa hari ini nampak meriah dengan berbagai baliho besar yang berjejer di kampus yang terletak di Jalan Veteran, Kota Malang.


Itu karena di kampus UB ada Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) tahunan. Beberapa mahasiswa yang mencalonkan diri menjadi Eksekutif Mahasiswa (EM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UB memasang baliho besar.

Pesta demokrasi ini jelas baik khususnya bagi para mahasiswa untuk belajar lebih jauh tentang bagaimana berpolitik. Namun, yang jadi pertanyaan adalah, darimana dana mereka berasal ?


Salah satu calon DPM UB nomor urut 14 yang balihonya terpampang besar di Kampus, Kevin Maulana dihubungi radarmalang.id mengatakan, bahwa dana kampanye miliknya berasal dari kantongnya sendiri.

“Tergantung ya Mas kalau dananya, tapi kalau semisal dari kitanya bisa melakukan penghematan ya mungkin sekitar Rp 500 ribu cukup,” ungkapnya.



Tapi, menurutnya ada juga calon yang punya rezeki lebih dan mau mengeluarkan dana lebih untuk perhelatan demokrasi tahunan ini. “Mungkin bisa di atas Rp 1 juta Mas,” lanjutnya.

Selain dana pribadi, ada juga yang memiliki tim dan patungan dari tim masing masing. “Tergantung kemampuan masing-masing Mas, setinggi tingginya juga mungkin gak sampai Rp 2 juta kok Mas,” menurutnya.

Hitungan kasar miliknya adalah untuk banner, dengan budget Rp 500 ribu miliknya bakal dapat 3 banner besar dan lainnya. “Jadi alat peraga kampanye dan lain lain juga sekitar Rp 500 ribu dan itu sudah sama lain lainnya,” tutupnya.

Sementara itu, mahasiswa lain yang pernah ikut pencalonan DPM di lingkup fakultas pada 2015 yang tidak mau disebutkan namanya ini mengatakan hal serupa. Menurutnya, iuran dana kampanye berasal dari iuran tim suksesnya sendiri. “Dananya lebih banyak digunakan untuk baliho dan juga poster, tidak sampai Rp 300 ribu rupiah,” urianya.

Menurutnya hal itu harus ia jalankan karena ia bukan berasal dari background organisasi mahasiswa ekstra kampus. “Karena waktu itu memang lingkupnya hanya fakultas, mungkin teman teman yang dari universitas membutuhkan biaya yang lebih besar,” urainya.

Pewarta: Elfran Vido
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Elfran Vido