Pemprov Back Up Ring Road Buring–Bululawang

KABUPATEN – Perlunya ring road luar kota yang diwacanakan oleh Bupati Malang (nonaktif) Rendra Kresna dalam pertemuan tiga kepala daerah se-Malang Raya, Agustus 2018 lalu, direspons positif Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak. Suami Arumi Bachsin itu bakal mem-back up pembangunan ring road.

Menurut Emil, kawasan yang pantas dijadikan ring road adalah sepanjang jalan raya dari Buring (Kota Malang) menuju simpang Bululawang (Kabupaten Malang). ”Kan ada jalan yang lewat GOR Ken Arok itu.

Jalur ini bisa dimanfaatkan untuk menangkap traffic dari arah Selatan sehingga langsung ke tol (Malang–Pandaan),” ujar Emil di sela-sela kunjungannya ke stadion Kanjuruhan pada Minggu lalu (24/2).

Sebelumnya, Rendra menggelar pertemuan dengan Wali Kota Malang Sutiaji dan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko. Dalam pertemuan yang digelar di Balai Kota Malang pada Agustus 2018 lalu, masing-masing kepala daerah menyampaikan usulannya. Sutiaji misalnya, mengusulkan pembangunan tol tengah kota.

Dewanti fokus pada pengembangan pariwisatannya, sedangkan Rendra jalur lingkar luar (JLL) sistem ring road. Menurut Rendra, jalur lingkar berpotensi mengurai kemacetan di pusat Kota Malang.



Minta Bakorwil Tembusi Kemen-PUPR

Usulan masing-masing kepala daerah itu dimatangkan lagi dalam pertemuan di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) pada Januari 2019 lalu. Namun dalam pertemuan lanjutan yang diinisiasi Jawa Pos Radar Malang itu, Rendra diwakili oleh Wakil Bupati (Wabup) H M. Sanusi.

Masing-masing kepala daerah itu berkomitmen akan menginstruksikan sekretaris daerah (sekda)-nya untuk menindaklanjutinya. Namun hingga kini belum ada pertemuan lanjutan antarsekda.

Emil menuturkan, by pass atau ring road bisa dibangun selama sudah ada jalan yang bisa digunakan menjadi alternatif. Hal itu mengacu Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan.

Meski menilai layak, Emil tetap menunggu studi kelayakan. Jika hasil studi kelayakan memastikan bahwa jalan Buring–Bululawang itu cocok untuk ring road, baru akan direalisasikannya. Dia menyebut perlu ada pelebaran ruas jalan di kawasan tersebut.

Dalam waktu dekat ini, Emil akan berkoordinasi dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR). Dia juga akan melibatkan Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang.

”Terlepas dari klasifikasinya, daya dukung jalannya juga (harus dipertimbangkan) seperti apa. Termasuk tata guna di kiri-kanannya (jalan), ini yang menjadi penting kenapa bakorwil harus duduk bareng dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional,” kata pejabat berusia 35 tahun itu.

Lalu kapan pembangunan ring road dimulai? Emil memastikan, ring road untuk Malang Raya tersebut menjadi program prioritas pasangan Gubernur-Wakil Gubernur (Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak) dalam jangka waktu lima tahun ke depan. ”Makanya kami perlu berkoordinasi dengan bakorwil dan balai besar. Karena tahun ini mulai Pandaan, Malang, sampai Kepanjen ada kegiatan (peningkatan jalan) yang cukup besar. Sekarang saya masih menunggu update sampai berapa lama pekerjaan itu,” jelas Emil.

Disinggung mengenai wacana perpanjangan tol Mapan hingga Kepanjen, Emil menyebut arah pengembangan Malang Raya lebih prioritas. Bukan hanya untuk Malang Raya saja. Sinergitas akses diharapkan juga sampai Pasuruan.

”Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu, dan Pasuruan ini jantungnya Jawa Timur. Maka sistem by pass di kota ini yang sebenarnya harus terbangun. Jadi dari Kepanjen langsung ke utara menuju Pasuruan tanpa harus memutar dulu di Kota Malang,” bebernya.

Pemkab Garap Akses Exit Tol Pakis

Sebelumnya, upaya penyesuaian infrastruktur terus dilakukan pemkab guna persiapan operasional tol Mapan. Lobi-lobi pada pemerintah provinsi maupun Kemen-PUPR juga terus digeber. Terutama untuk jalan-jalan lokal yang berbatasan langsung dengan exit tol Mapan. ”Mayoritas jalan yang berhubungan langsung dengan exit tol sekarang statusnya masih jalan lokal, sangat tidak seimbang jika dibandingkan dengan kualitas jalan tol,” kata Kepala Dinas PU Bina Marga Kabupaten Malang Romdhoni.

Oleh sebab itu, sebagai solusi strategis diperlukan adanya peningkatan kelas jalan yang terhubung dengan exit tol. Romdhoni telah memetakan beberapa titik jalan yang memerlukan peningkatan status dan kelas. Di antaranya jalan Desa Mangliawan, Bunut, dan Ampeldento yang menjadi akses exit tol Pakis.

”Termasuk perlu dipertimbangkan juga ruas jalan lanjutan dari Ki Ageng Gribig menuju Jalan Raya Sempalwadak (Bululawang). Sebab, kendaraan dari exit tol yang menuju arah selatan lewatnya di situ (Sempalwadak),” kata pejabat eselon II B pemkab itu.

Mantan kepala dinas cipta karya itu menuturkan, ada beberapa aspek yang menyebabkan perlunya peningkatan status jalan lokal. ”Pertama, kalau tidak ditingkatkan akan ada perbedaan kelas jalan yang sangat jauh sekali antara tol dan jalan kabupaten,” kata Romdhoni. Dampaknya, akan terjadi penumpukan kendaraan di luar exit tol.

Kedua, dari aspek kekuatan jalan. Pantauan koran ini, beberapa jalan kabupaten seperti di sepanjang ruas Jalan Raya Pakis Tumpang, Ampeldento, dan Sekarpuro memang terjadi kerusakan. Kemungkinan besar disebabkan tingginya intensitas kendaraan angkutan besar yang mengangkut material berat menuju lokasi proyek tol. ”Salah satu dampaknya, jalan kita jadi cepat rusak,” tukasnya.

Sutiaji Anggap Peningkatan Status Jalan Lebih Pas

Terpisah, Wali Kota Malang Sutiaji menilai, pembangunan ring road membutuhkan waktu terlalu lama. ”Prosesnya panjang. Bisa jadi realisasinya butuh waktu lima tahun. Kan harus ada pembebasan lahan juga,” kata Sutiaji.

Menurut Sutiaji, solusi yang pas untuk mengurai kemacetan adalah peningkatan status jalan. Hingga kini, sepanjang jalan dari Ki Ageng Gribig hingga simpang Bululawang berstatus jalan kabupaten/kota.

Untuk jalan Ki Ageng Gribig, pihaknya sudah mengajukan peningkatan status menjadi jalan nasional. ”Kami sudah ajukan dan pemerintah pusat sudah meminta data,” ucap mantan anggota DPRD Kota Malang itu.

Pewarta               : Farik Fajarwati
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Mahmudan