pembunuhan wanita bercadar

pembunuhan wanita bercadar

KEDIRI –  Rekonstruksi kasus pembunuhan Nurul Khotimah, memunculkan banyak fakta baru yang sebelumnya tak terungkap. Dari adegan dalam reka ulang tersebut polisi mengetahui bahwa tersangka Makrus, 38, beberapa kali mengubah lokasi pembuangan mayat kekasihnya. Warga Desa Wates, Kecamatan Wates, itu bahkan sempat hendak membuang tubuh Nurul di depan Ponpes Al Hikmah, Purwoasri. Namun batal karena saat itu ramai orang.

“Tersangka hendak menaruh jasad korban, awalnya, di wilayah Kecamatan Purwoasri,” terang Kasatreskrim Polres Kediri AKP Hanif Fatih Wicaksono.

Memang, dari adegan reka ulang Rabu (24/1), Makrus tak langsung berniat membuang mayat di halaman masjid Anas bin Fadholah. Sebelum memutuskan meletakkan mayat di dekat tempat wudu masjid yang ada di Desa Menang, Kecamatan Pagu itu, tersangka berputar-putar terlebih dulu. Hal itu tergambar dalam adegan ke-11. Yaitu setelah dia membeli spidol dan kertas di daerah Purwoasri. Spidol dan kertas itu akan digunakan untuk membuat surat palsu.

Lokasi pertama yang dipilih Makrus adalah di sekitar Ponpes Al-Hikmah. Dia memilih lokasi di sekitar pondok untuk mengelabui polisi. Agar mereka tak curiga dengan mayat itu dan langsung dimakamkan sesuai syariat Islam. Karena itulah dia mendandani tubuh kekasihnya dengan cadar. Sekaligus menulis surat wasiat yang menguatkan agar mayat segera dimakamkan.

“Saat itu dia (Makrus, Red) melaju dari arah Purwoasri menuju Papar. Ketika melewati pondok (Al-Himah, Red) tersebut mobil Nissan Grand Livina yang dikendarai pelaku dan korban sempat berjalan pelan,” urai Hanif.



Namun, pelaku akhirnya mengurungkan niat membuang mayat di tempat itu. Penyebabnya, di sekitar ponpes terlalu ramai. Makrus pun merasa risiko diketahui warga sangat besar ketika dia nekat membuang mayat. Karena itulah pelaku kemudian melaju terus.

“Setelah mengurungkan niatnya mobil pun terus melaju hingga ke traffic light perempatan Papar. Kemudian belok ke timur arah Pagu,” terang polisi berpangkat balok tiga itu.

Pelaku kemudian memutuskan niat membuang mayat di depan masjid Anas bin Fadholah.  Niatan awal membuang di depan masjid. Namun, saat mengeluarkan jasad yang berada di samping kemudi itu, Makrus kembali ragu. Penyebabnya, di depan masjid ada seseorang yang tengah bermain ponsel. Makrus kemudian berniat memutar balik mobilnya.

Namun, ketika memutar balik itulah dia melihat parkiran masjid lengang. Makrus pun kembali berubah pikiran. Dia memarkir mobil di parkiran dekat tempat wudu.

Agar tak terlalu mencurigakan, Makrus pura-pura mengambil air wudu. Setelah itu dia kembali ke mobil untuk mengambil tubuh kekasihnya yang sudah diberi pakaian cadar itu. Kemudian surat wasiat yang ditulisnya disertakan pula. Tubuh itu diletakkan di dekat tempat wudu. Setelah itu dia meninggalkan lokasi.

“Kasus ini terus kami lakukan penyelidikan. Agar berkas segera selesai dan bisa dilimpahkan (ke kejaksaan),” tegasnya.

(rk/fiz/die/JPR)