Pembunuhan Sadis di Tanah Merah Kenjeran, Polisi Temui Jalan Buntu

JawaPos.com – Warga Tanah Merah, Kecamatan Kenjeran, dibuat geger Jumat malam (10/5). Soeprayitno, 53, warga setempat, menjadi korban pembacokan orang tidak dikenal. Mantan wartawan sebuah media lokal tersebut ditemukan dalam keadaan tewas dengan bersimbah darah.

Polisi langsung bergerak memburu pelaku. Dugaan sementara, pembacokan tersebut dilakukan dua orang. ”Kalau motifnya, masih kami dalami,” ujar Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto kemarin (11/5).

Dugaan tersebut bukan tanpa alasan. Dua pelaku muncul setelah polisi melakukan oleh TKP, memintai keterangan saksi-saksi, dan memeriksa rekaman CCTV. Hingga kemarin, setidaknya sudah ada tujuh saksi yang diperiksa. Yakni, kedua istri korban dan sejumlah warga di sekitar kejadian malam itu.


Dari keterangan para saksi yang diperiksa, pembacokan tersebut memang dilakukan dua orang. Namun, tidak ada yang tahu pasti ciri-ciri pelaku pembacokan. Termasuk sarana yang digunakan pelaku seperti senjata dan kendaraan. ”Para saksi hanya menyebut pelakunya dua orang. Begitu saja,” papar Agus.

Sementara itu, rekaman CCTV yang diperiksa petugas menunjukkan dugaan serupa. CCTV tersebut diperoleh polisi di rumah susun tempat istri pertama korban tinggal saat ini. Berdasar rekaman itu, sebelum terjadi pembacokan, ada dua orang yang mencari korban, tetapi tidak ketemu. Dua orang tersebut kemudian meninggalkan rumah. ”Rentang waktunya itu berurutan. Tidak terlalu lama sebelum pembacokan terjadi,” jelas Kapolres lulusan Akpol 2000 tersebut.

Selain itu, polisi kini mencari HP korban. Tujuannya, mempermudah penyelidikan. Sebab, ketika korban ditemukan, HP-nya sudah tidak ada. Pembacokan tersebut terjadi pukul 20.30 Jumat (10/5). ”Waktu saya cangkruk tidak jauh dari lokasi. Ada teriakan maling,” kata pria yang mengaku Suratno. Dia merupakan warga setempat.

Setelah mendengar teriakan tersebut, Suratno kemudian mendekat. Dia lari menuju ke lokasi teriakan. Apalagi, teriakan itu tidak terlalu jauh dari tempat Suratno cangkruk. Hanya berjarak sekitar 10 meter.

Malam itu Suratno memang mengira ada maling yang tertangkap. Namun, sesampai di sebuah balai bambu, Suratno melihat Soeprayitno terkapar. Lengan bawah sebelah kanannya menderita luka bacok. ”Saat itu korban sudah meninggal,” tambahnya.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos dari warga sekitar, ada cekcok sebelum peristiwa itu terjadi. Yaitu, antara korban dan dua orang tidak dikenal di sana. Kemudian, salah seorang pelaku mengeluarkan senjata tajam, lalu menyabetkannya ke arah korban.

Sebagian besar warga yang ditanya mengatakan bahwa pembacokan tersebut dilatarbelakangi rebutan lahan parkir di kawasan Wahyu Redjo, Tanah Merah. Yaitu, korban dengan preman parkir lain.

Meski begitu, polisi tidak mau berspekulasi. Mereka kini berusaha mengumpulkan barang bukti. ”Memang banyak informasi yang beredar. Tapi, kami tidak mau berspekulasi,” tegas Agus.

Soeprayitno adalah pria asal Sidotopo Wetan, Kecamatan Kenjeran. Selain juru parkir, dia pernah bekerja sebagai wartawan di sebuah surat kabar umum Suara Gegana Indonesia. ”Namun lama korban sudah keluar jadi wartawan kami,” kata Darsono, pemimpin redaksi Suara Gegana Indonesia.

Bukan hanya itu. Saat ditemukan meninggal, korban berada di dekat rumah istri kedua. Warga biasa memanggilnya Umi Leha, 63. Adapun istri pertama korban dan tiga anaknya tinggal di Rusun Tanah Merah.