Pembangunan Tol Dalam Kota Bandun Akan Ada Jalur Motor

JawaPos.com – Rencana pembangunan tol dalam kota Bandung telah memasuki tahapan pembahasan. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengusulkan penambahan lajur khusus roda dua pada tol dalam kota North South (NS) Link.

Jalur tersebut tidak lain layaknya seperti Suramadu yang bisa dilewati oleh pengendara roda dua. Dengan harapan usulan itu bisa diakomidir oleh PT Citra Marga Lintas Jabar (CMLJ) selaku pemrakarsa proyek pembangunan tersebut. Sebab ini merupakan salah satu cara untuk memecahkan kepadatan lalu lintas di Kota Bandung.

“Apabila memungkinkan tol ini bisa mengakomodasi roda dua. Akan dikomunikasikan karena akan menambah lebarnya. Dalam konsep awal kan lebar untuk roda empat sudah ada dua lajur, kalau dengan sepeda motor harus menambah lagi,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung, Arif Prasetya, Kamis (24/1).

Menurutnya, jalur atau lajur yang diusulkan dengan tetap pada trase yang sama, agar pengendara sepeda motor pun diberikan kelancaran. Namun pengendara pasti tetap harus membayar sesuai dengan aturan tarif yang telah ditentukan pemerintah pusat.

“Yang penting lebih banyak bermanfaat bagi Kota Bandung. Jangan sampai saat selesai dan turun dari jalan tol malah jadi masalah. Interkoneksi dengan jalan lain pun harus dipikirkan,” jelasnya.

Sementara Kepala Bappelitbang Heri Antasari menyebutkan, pertumbuhan kendaraan bermotor di Kota Bandung cukup pesat. Data sebuah penelitian menyebutkan bahwa pertambahan STNK rata-rata 300 unit per hari atau 108 ribu per tahun untuk roda dua. Sementara 300 unit per minggu atau 15 ribu per tahun untuk roda empat.

Bahkan data itu hanya kendaraan dari Samsat di Bandung, belum ditambah Cimahi atau daerah lain yang beraktivitas atau melintas di Kota Bandung. “Ibaratnya debit air masuk ke mangkuk, mau diperbesar sebesar apapun mangkuknya tidak akan tertampung apabil debitnya tidak berkurang,” ucap Heri.

Selain itu, Heri mengatakan adanya sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa orang Bandung mengeluarkan biaya untuk transportasi publik 18 persen lebih mahal dan lebih lama dibandingkan dengan menggunakan kendaraan pribadi. Untuk itu, harus pikirkan agar masyarakat mau menggunakan transportasi massal.

Editor           : Bintang Pradewo

Reporter      : Siti Fatonah