Pembangunan Pasar Sayur Molor

TEMAS – Pembangunan Pasar Sayur Kota Batu tahap kedua yang seharusnya selesai 25 Desember mendatang dipastikan molor. Hal ini disebabkan adanya keterlambatan pengerjaan. Sehingga pembangunan pun diperpanjang 30 hari atau sampai 28 Januari 2020 mendatang.

Penanggung Jawab Pelaksana Proyek dari PT Bintang Wahana Tata, Febri Artanto, menjelaskan pembangunan Pasar Sayur terkendala pemesanan atap. ”Jadi dari pabriknya di Surabaya tidak bisa menyanggupi mendatangkan pesanan atap di bulan ini, alasannya karena overload pesanan. Mereka baru bisa menyanggupinya Januari 2020,” jelasnya.

Pasar Sayur Kota Batu tahap dua sendiri membutuhkan atap seluas 3.000 meter persegi. Febri menambahkan, tidak ada pembiayaan atau anggaran tambahan dengan adanya keterlambatan pembangunan Pasar Sayur tersebut. ”Malah pihak kami yang terkena penalti. Untuk itu, perpanjangan waktunya maksimal 30 hari karena sudah komitmen dengan dinas terkait, dinas pekerjaan umum,” tandasnya.

Perlu diketahui, pembangunan Pasar Sayur tahap 2 Kota Batu sesuai kontrak kerja proyek harus selesai dalam kurun waktu enam bulan. Atau akhir 25 Desember tahun 2019 ini rampung. ”Sampai saat ini pembangunan masih mencapai 75 persen. Tapi Insya Allah, 28 Januari 2020 sudah selesai,” jelasnya. Proyek ini sendiri sudah mulai digarap sejak 21 Juni 2019.

Di sisi lain, tujuan pembangunan pasar tersebut agar segera bisa memutar roda perekonomian para pedagang secara normal, dan kondisi pasar sudah tertata rapi dan bersih. ”Pekerjaan proyek Pasar Sayur tahap dua besaran anggarannya dari APBD Kota Batu, yakni Rp 5 miliar. Dengan proyek pasar tersebut disekat-sekat sejumlah 140 stan,” terangnya.

Wakil Ketua Komisi C dari Fraksi Partai Golkar Didik Machmud berpendapat pembangunan pasar sayur sudah tidak sesuai dengan perencanaan yang ada di Surat Perintah Kerja (SPK).

”Memang bisa melakukan adendum atau perpanjangan pengerjaan proyek maksimal 4 bulan, tetapi diberi sanksi dan itu harus diperhatikan betul, jangan sembarangan memberi adendum. Kalau nggak salah dendanya sebanyak 0,5 persen dari nilai proyek setiap harinya,” katanya.

Menurut dia, juga sangat tidak masuk akal jika suatu pabrik kekurangan bahan produksi. ”Apalagi ini akhir tahun seharusnya suatu pabrik bisa memenuhi pembelinya. Nah, ini kemudian yang saya tidak tahu, apakah pembelian barang bangunannya itu dengan cara ambil (kemudian baru), bayar, atau bayar-ambil,” katanya.

Pewarta : Nugraha
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Aris Dwi Kuncoro