Pembalap Liar ”Hijrah” dari Soehat ke Singosari

SINGOSARI – Warga di kawasan Jalan Raya Perusahaan, Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, hampir tiap malam resah. Penyebabnya, kawasan tersebut menjadi arena balap liar sepeda motor. Puluhan pemuda dengan menggunakan motor protolan dan tanpa surat lengkap menggelar pacuan motor. Bahkan, balap liar itu jadi ajang taruhan.

Nah, dari keresahan warga itu, Minggu dini hari kemarin sekitar pukul 02.45, Polsek Singosari bersama Koramil melakukan razia bertajuk Operasi Cipta Kondisi. Tujuannya menangkap para pembalap liar yang meresahkan warga. Hasilnya, 28 motor protolan yang dijadikan balapan liar diamankan. Para pembalap pun juga dilakukan pembinaan.

Kapolsek Singosari Kompol Untung Bagyo Riyanto menjelaskan, selama tiga tahun ini, kawasan Tunjungtirto telah jadi arena balap. Beberapa titik favorit bagi para boy trek (sebutan pembalap liar) di antaranya Jalan Randuagung, Bedali, Banjararum, dan wilayah Karangploso. Para remaja tersebut rata-rata masih berusia belasan tahun, antara 15–20 tahun.

”Tujuan dilakukannya razia trek-trekan (balap liar) ini, karena masyarakat sekitar resah dengan adanya kegiatan tersebut. Selain mengganggu ketenteraman di malam hari, juga membahayakan bagi masyarakat pengguna jalan,” ujarnya.

Saat berlangsungnya razia, polisi tidak mendapati indikasi penggunaan barang-barang haram, seperti narkoba dan sejenisnya. Mereka yang terlibat rata-rata hanya untuk mengisi malam Minggu. Meskipun begitu, mantan Kapolsek Lowokwaru itu menjelaskan, jika dibiarkan terus-menerus akan berdampak negatif. ”Mereka kan rata-rata kalangan pelajar. Meski hanya untuk mengisi waktu malam Minggu, jika dibiarkan akan berdampak negatif. Dan operasi ini bertujuan agar menimbulkan efek jera,” imbuhnya.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Singosari Iptu Supriyono menambahkan, para pemuda sebenarnya sudah mendapatkan imbauan dari para petugas sebelumnya. Aksi balap liar ini biasanya dilakukan saat Sabtu malam hingga Minggu dini hari. ”Secara rutin kami (petugas) sering mengingatkan dan mengimbau agar tidak melakukan kegiatan balap liar. Tapi tidak pernah dihiraukan. Tengah malam tadi akhirnya dilaksanakan penindakan,” imbuh Supriyono.

Dari razia yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, mayoritas ditemukan motor  tanpa dilengkapi surat-surat kendaraan. Beberapa komponen motor juga sudah banyak yang diganti. Usai razia, para pemilik kendaraan selanjutnya dikumpulkan dan diberi arahan serta penindakan kedisiplinan. ”Kita tindak di tempat (tilang), sebagian besar motornya protolan (tidak standar). Puluhan pemuda yang terjaring masih usia sekolah rata-rata usia antara 15–20 tahun,” bebernya.

Supriyono menjelaskan, puluhan pemuda yang kedapatan melakukan aksi balap liar tersebut berasal dari berbagai wilayah di sekitar Singosari. Dia menuturkan jika aksi balap liar tersebut merupakan pindahan dari Jalan Soekarno-Hatta, terbukti dari beberapa keterangan salah satu boy trek, banyak yang berasal dari wilayah Malang Kota, Karangploso, Lawang, dan Singosari.

”Mungkin karena di Jalan Soekarno Hatta sudah padat, akhirnya para boy trek ini pindah ke wilayah Singosari-Karangploso,” jelas Supriyono.

Meski tidak ditemukan indikasi kriminal pada malam itu, namun berdasarkan keterangan Polsek Singosari, beberapa remaja sering juga memanfaatkan ajang balap liar tersebut sebagai sarana untuk taruhan. Nominal yang dipakai dalam balap liar itu kisaran Rp 100 ribu–Rp 1 juta. ”Memang ada beberapa yang taruhan,” pungkasnya.

Pewarta: Miftahul Huda
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Abdul Muntolib
Foto: Polsek Singosari