Pemasukan Pundi-Pundi Retribusi Seret

Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso.

KOTA BATU – Kinerja Pemerintah Kota (Pemkot) Batu dalam menarik pundi-pundi pendapatan asli daerah (PAD) belum maksimal. Khususnya PAD yang bersumber dari sektor pajak daerah dan retribusi. Capaian retribusi dalam dua bulan ini pun masih seret.

Dari informasi yang dihimpun koran ini, dengan target PAD dari retribusi pada tahun 2018 sebesar Rp 11,3 miliar, yang terealisasi baru Rp 421,4 juta. Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso pun mengungkapkan bahwa penghasilan dari retribusi memang belum memuaskan. Dia menambahkan, penghasilan retribusi kalah jauh dari pajak daerah.

”Pendapatan dari pajak daerah ini tidak diimbangi dari retribusi. Baru terealisasi Rp 421 juta,” terang Punjul kemarin (18/2).

Dengan target retribusi lebih dari Rp 11 miliar, seharusnya pemasukan yang dihasilkan Pemkot Batu dalam satu bulan setidaknya sebesar Rp 1 miliar. Itu agar target yang dicanangkan tercapai hingga akhir tahun.

Menurut Punjul, pundi-pundi retribusi terbesar disumbang dari retribusi umum. Dari yang ditargetkan tahun ini, yakni Rp 5,3 miliar, yang terealisasi Rp 329 juta. Selanjutnya, dari retribusi jasa usaha dengan target Rp 2,2 miliar, yang tercapai Rp 58,9 juta. Kemudian disusul oleh retribusi perizinan tertentu dengan target Rp 3,7 miliar. Dari angka itu, yang terealisasi Rp 33,2 juta.

”Ini yang perlu ditingkatkan lagi, agar pendapatan lebih tinggi,” ujar bapak tiga anak itu.

Dia merinci, dari sektor retribusi umum, yang paling banyak penyumbangkan adalah retribusi pelayanan persampahan dan kebersihan dengan angka mencapai Rp 66,9 juta. Sebenarnya, kata dia, ada sektor retribusi yang melebihi target. Tetapi, itu disebabkan oleh sisa tahun 2017. Seperti retribusi pasar dan los, dari target Rp 30 juta, sekarang sudah terealisasi Rp 37 juta.

”Kelebihan itu didapatkan dari sisa tahun 2017 yang baru membayar,” terang dia.

Sementara itu, sumber PAD dari sektor pajak daerah terus melaju dan tidak seret sebagaimana retribusi. Dari target Rp 111 miliar, sejauh ini sudah terealisasi Rp 14,6 miliar. Itu terhitung sejak Januari sampai 12 Februari 2018. Punjul menjelaskan, pendapatan pajak daerah terbesar berasal dari sektor pajak hiburan, mencapai Rp 4,7 miliar dari target Rp 15,4 miliar. Yang kedua adalah pajak hotel, dengan target Rp 18,5 dan sudah menyumbangkan Rp 3,7 miliar.

”Pajak bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), dari target Rp 29,5 miliar, sekarang ini sudah terealisasi Rp 1,9 miliar,” ujarnya.

Selanjutnya, masih ada pendapatan dari pajak restoran, PJU (penerangan jalan umum), pajak parkir, pajak air bawah tanah, PBB (pajak bumi dan bangunan), dan pajak reklame.

”Dari 9 sektor pajak daerah yang jadi pemasukan, yang terkecil adalah pajak reklame. Dari target Rp 1,5 miliar, baru terealisasi Rp 165 juta,” jelas pria yang juga menjabat sebagai sekretaris DPC PDIP Kota Batu tersebut.

Dari pemasukan pajak daerah yang baik, Punjul optimistis penarikan akan terus lancar. Pihaknya berkaca pada tahun 2017 lalu. Pada tahun lalu, pendapatan pajak cukup memuaskan. Dari data Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Batu, setoran pajak daerah mencapai Rp 113 miliar dari target Rp 106 miliar.

Sementara itu, dari semua sektor pendapatan daerah, termasuk dari hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dana perimbangan, dan pendapatan lain-lain yang sah, sekarang ini sudah terkumpul Rp 107,2 miliar. ”Dari target anggaran Rp 935,1 miliar untuk tahun ini,” tutup dia.

Pewarta : Aris Dwi
Penyunting : Aris Syaiful
Copy Editor : Arief Rohman
Foto: Rubianto