Pemandu Lagu Sedih Dinilai Negatif

Pemandu Lagu Sedih Dinilai Negatif

Ketua Paguyuban Pengusaha Karaoke Pamekasan Agus Sujarwadi mengatakan, pengusaha awalnya ingin membuka tempat kareoke pada Sabtu (3/2). Namun rencana itu gagal. Sebab, sehari sebelumnya, pemerintah mengumpulkan pengusaha.

Pada pertemuan itu, rupaya pemerintah menyosialisasikan peraturan bupati (perbup) baru tentang tempat usaha karaoke. Sejumlah poin perubahan dalam perbup baru itu. Di antaranya, tempat karaoke harus disertai closed circuit television (CCTV). Kemudian, seluruh saklar wajib ada di luar ruangan karaoke.

Pemerintah juga mewajibkan kaca ruangan karaoke transparan. Sebelumnya, pemerintah hanya meminta separo ruangan harus menggunakan kaca terang. ”Seandainya tidak ada perubahan perbup, sudah kami buka,” katanya Senin (5/2).

Agus menambahkan, karena ada perubahan perbup, pengusaha harus menyesuaikan dengan aturan yang ada. Sebab, pada prinsipnya, pemilik tempat karaoke itu akan patuh terhadap regulasi yang berlaku di Pamekasan.

Dengan demikian, untuk menyesuaikan dengan regulasi baru, pengusaha butuh waktu sekitar dua pekan. Seluruh pengusaha sepakat akan membuka tempat karaoke itu kembali pada Sabtu (17/2).

Selain konstruksi ruangan, juga memperbaiki pengelolaan pemandu lagu. Salah satunya, seluruh pemandu lagu diberi tanda pengenal. Kemudian, wajib berbaju sopan di area tempat karaoke maupun di luar.

Agus menyampaikan, banyak keluhan dari masyarakat bahwa pemandu karaoke itu kerap berbaju seksi di tempat kos masing-masing. ”Kalau anak kecil lihat saja bersiul, apalagi bapaknya anak kecil yang lihat,” ujarnya.

Penataan itu semata untuk menjaga pandangan buruk masyarakat tentang karaoke dan pemandu lagu. Sebab, pada prinsipnya, hiburan tersebut tidak buruk seperti yang dibayangkan sebagian warga.

Perwakilan penyanyi karaoke Fitria Alfa Afka Rifada mengaku sedih dengan anggapan miring masyarakat terhadap penyanyi karaoke. Padahal, penyanyi tidak senegatif yang dipikirkan orang. ”Kami bekerja untuk mencari nafkah,” tuturnya.

Perempuan yang biasa dipanggil Vita itu menyampaikan, masyarakat yang menilai miring penyanyi kafe berarti belum tahu persis kondisinya. Dia berharap, sebelum menilai penyanyi kafe secara negatif, alangkah baiknya dikroscek kebenarannya.

Sebelumnya, Pemkab Pamekasan menutup seluruh tempat karaoke di Pamekasan. Penutupan itu dilakukan lantaran tempat hiburan tersebut dinilai tidak sesuai regulasi yang ada.

(mr/pen/onk/luq/bas/JPR)