pelaku pembunuhan wahyu di kandat

pelaku pembunuhan wahyu di kandat

Raja tega! Itu mungkin sebutan yang pas untuk tersangka pembunuh Achmat Wahyu Sobirin. Sang pelaku, Ubaitul Anas, dengan kejam menghabisi korban dengan pukulan bertubi-tubi. Setelah itu, dengan entengnya dia membakar tubuh korban untuk menghilangkan jejak.

Selain bagian kepala yang jadi sasaran kebrutalan pelaku, organ dalam korban juga luka parah. Pankreas Wahyu mengalami pendarahan. Setidaknya berdasar keterangan dokter forensik dari RS Bhayangkara Kediri, dr Tutik Purwanti.

“Kami temukan ada pendarahan pada pankreas korban (Wahyu, Red),” terang dokter asal Surabaya ini.

Dugaan sementara, pankreas Wahyu terluka akibat pukulan yang keras dan bertubi-tubi. Menyebabkan organ pencernaan itu terluka parah hingga mengalami pendarahan.

Walaupun begitu, Tutik belum bisa memastikan secara pasti penyebab kematian korban. Apakah karena  akibat pandarahan di pankreas itu. Karena, lagi-lagi, dia tetap mengaku masih ingin mengetahui hasil akhir yang dikeluarkan resmi dari Labfor Polda Jatim.

“Pastinya tetap kami menunggu hasil otopsi keluar dulu,” ujar ibu dua anak tersebut.

Lebih lanjut, Tutik menerangkan, walaupun seluruh tubuh korban terdapat luka bakar namun ada perbedaan gradasi. Perbedaan gradasi itu menunjukkan tingkat keparahan luka bakar tersebut.

Dari temuannya diketahui luka bakar paling parah terdapat pada wajah dan  bagian kanan kakinya. “Juga terdapat luka-luka bekas pukulan kami temukan,” ujarnya.

Luka pukulan terbanyak terdapat pada kepala. Kepala korban sampai membengkak. Tutik menyebutkan luka bengkak di wajah itu akibat pukulan benda tumpul. Namun, dokter forensik tersebut tak mengidentifikasikan apakah benda tumpul itu berupa kayu atau hanya tangan kosong.

“Itu bagian polisi nanti yang bisa menduganya,” ujar dokter lulusan Universitas Airlangga ini.

Namun Tutik bisa menjelaskan akibat dari pukulan yang diterima Wahyu secara bertubi-tubi itu. Pukulan itu membuat wajah korban mengalami memar. Bahkan hingga wajahnya membengkak.

Begitu kejam dan sadisnya pukulan membuat kondisi mata korban sangat parah. Hampir tak bisa dibuka penuh. Tim forensik sempat kesulitan membuka mata korban saat melakukan proses identifikasi menggunakan alat deteksi retina. Alat itupun tak bisa membantu banyak dalam melakukan identifikasi korban.

“Bukannya matanya rusak tapi akibat bengkak itu matanya tidak bisa dibuka,” tegasnya.

(rk/fiz/die/JPR)