Pelaku Mutilasi Pasar Besar Malang Psikopat? Ini Penjelasan Psikolog

Sugeng pelaku mutilasi di Pasar Besar Malang

KOTA MALANG – Menurut keterangan terduga pelaku mutilasi Pasar Besar Malang (PBM), Sugeng, 49, dirinya hanya melakukan mutilasi tanpa melakukan pembunuhan. Diduga penyakit paru-paru yang ditemukan Laboraturium Forensik (Labfor) Polda Jatim menjadi penyebab korban meninggal.

Sebelum memutilasi, Sugeng kepada pihak penyidik mengatakan bahwa dia mendapat bisikan-bisikan gaib yang menuntunya untuk melakukan aksi keji tersebut. Selain itu, ada juga pernyataan bahwa si korban lah yang memintanya untuk memutilasi korban jika meninggal. Benarkah mutilasi ini dilakukan karena bisikan ghaib? Atau justru ada dalang lain yang menyuruh Sugeng berbuat demikian?

Psikolog sekaligus grafolog, Syibly Avivy Achmad Mulachela, M.Psi, CMHA mencoba membacanya. Grafolog yang memiliki sertifikat master di Karohs International School of Handwriting Analysis, Amerika Serikat ini mengatakan bahwa jika dilihat dari tulisan tangan Sugeng, ada indikasi bahwa Sugeng memiliki flat emotional atau emosi datar. Sehingga, ketika mendapat bisikan atau perintah yang dia terima, ia hanya melakukan apa yang disuruh otak tanpa menaruh perasaan puas maupun iba.

“Melihat tulisan Sugeng harus menggunakan base kacamata tidak normal. Misalnya dari tulisannya ada simbol dan kata ruwet yang ditulis berungkali. Jika pada orang normal, ini tanda orang tersebut perfeksionis atau takut salah. Namun jika pada orang tidak normal, ini tidak ada maknanya dan menunjukkan adanya gangguan psikotik,” beber dia.

Dalam gangguan psikotik atau psikosis inilah manusia memiliki flat emotional. Lalu apa bedanya psikosis dan psikopat? Psikosis merupakan suatu gangguan mental yang ditandai dengan diskoneksi dari kenyataan. Psikotik dapat terjadi sebagai akibat dari penyakit jiwa seperti skizofrenia. Dalam kasus lain, kondisi ini dapat disebabkan oleh kondisi kesehatan, obat-obatan, atau penggunaan narkoba.



“Biasanya ditandai dengan flat emotional contohnya ketika ada saudaranya tertabrak di depan mata ngga ada ekspresi sedih atau senang. Sebaliknya kalau ada hal yang menyenangkan dan lucu, dia diam aja tanpa ekspresi. Selain itu biasanya orang dengan gangguan ini sering dapat bisikan-bisikan,” terang pria yang akrab disapa Kang Afif itu.

Sedangkan psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor.

Jika dilihat dari kasus mutilasi yang dilakukan, maka kemungkinan menurut Kang Afif posisi Sugeng masih pada psikosis. Sebab menurutnya psikopat akan lebih pintar melakukan eksekusi.

“Banyak yang bilang dia psikopat padahal dari jejak yang ditinggalkan saja sudah bisa dilihat, seorang psikopat tidak akan seceroboh itu. Ia akan lebih pintar untuk lari dan menghilangkan jejak. Sedangkan Sugeng malah mmberi banyak tulisan bahkan baju-bajunya masih tertinggal,” terangnya.

Secara kepribadian, dari bentuk N dan M yang dibuat Sugeng berbentuk bulat menunjukkan bahwa sebenarnya ia orang yang perasa. Dikatakan Kang Afif ia memiliki minat budaya, mencintai keharmonisan dan kelembutan.

Namun demikian mengapa aksi mutilasi bisa dilakukan? Inilah yang patut dicurigai. Sebab pemilik flat emotional akan melakukan sesuatu berdasarkan perintah di otak. Bisa jadi karena bisikan gaib, bisa jadi karena bisikan orang bukan? Sebab dalam keadaan tersebut pelaku hanya melaksanakan apa yang menurutnya harus dilakukan tanpa ada perasaan apapun.

Pewarta: Rida Ayu
Penyunting: Kholid Amrullah