Pelaku Mutilasi Pasar Besar Malang, Diusir Warga Disukai Anak-anak

KOTA MALANG – Sosok terduga pelaku mutilasi mayat wanita di Pasar Besar Malang (PBM) lambat laun terungkap. Di balik perilakunya yang sadis, ternyata Sugeng, 49, suka menyapa anak-anak dan bercanda bersamanya.

Meski warga Jodipan sering mengusirnya karena dianggap gila, namun jika Sugeng kembali anak-anak lah yang menyambut. Mereka tak takut, justru ketika bertemu dengan orang dewasa, Sugeng kerap kali menutup diri.

“Sugeng dulu tinggal bersama orang tuanya. Dia memang jarang berkomunikasi dengan warga mungkin karena tekanan dari keluarganya, bapaknya seorang Veteran bernama Sutaji,” ujar Ketua RW 6 Kelurahan Jodipan, Muhammad Luthfi,46.

Sekitar 7-8 tahun yang lalu, rumah Sugeng dibeli oleh ayah Luthfi, Sugeng dan keluarganya akhirnya meninggalkan Jodipan. Saat itu Luthfi juga tak tahu-menahu pindah kemana pria yang hanya bekerja serabutan itu.

“Sejak saat itu, Sugeng jarang sekali terlihat bersliweran di kampung. Ia lebih banyak terlihat di pinggir jalan, tepatnya di daerah Jalan Gatot Subroto hingga sekitaran Pasar Besar. Nah baru sekitar 5 bulan ini Sugeng kembali terlihat di Jodipan,” ceritanya.

Selama di Jodipan Luthfi mengatakan bahwa Sugeng tidur di samping rumah kosong yang terletak di Jalan Jodipan Wetan Gang Ill RT 02 RW 06. Di rumah itu pula, Sugeng menulis beberapa tulisan aneh. Termasuk menyebut nama tuhan dan nama beberapa keluarganya.

“Keluarga Sugeng ini banyak, namun kebanyakan ya amit sewu, memiliki kelainan juga. Seperti yang dialami Sutoyo, kakak Sugeng yang sudah tidak mau tahu lagi dengan tetangga kanan kiri,” ucapnya

Menurut Luthfi, font yang ditulis di tulisan itu, dan kata-kata yang ada ditulisan itu hampir mirip dengan yang ditulis biasa pelaku mutilasi. “Saya sudah menduga kalau pelakunya itu Sugeng. Karena setiap hari kalau saya ke masjid pasti melewati rumah yang ditinggali sugeng. Jadi saya tahu persis,” ucapnya.

Kabarnya kemarin Sugeng selain menjalani uji fisik bukti dengan kecocokan pengakuannya, pria berambut gondrong itu juga tengah diperiksa psikiater. Jika memang terindikasi gila maka proses hukum tidak bisa dilanjutkan.

“Ya orang gila kan nggak bisa diproses hukum,” tegas Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: Laoh Mahfud
Penyunting: Fia