Pelajar Surabaya Lebih Suka Medsos daripada Belajar

JawaPos.com – Fakta membuktikan 78 persen pelajar metropolis menggunakan internet untuk media sosial (medsos). Yang memanfaatkannya untuk referensi belajar cuma 10 persen. Sisanya menggunakan internet untuk yang lain-lain.

Lembaga Guruku Hebat mengungkap hasil penelitiannya bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kemarin (2/5). Penelitian itu dilakukan kepada 397 pelajar dan guru SMA/SMK di Surabaya.

Menurut salah seorang peneliti, Istidha Nur Amanah, penelitian tersebut terkait intensitas penggunaan internet yang terus meningkat setiap tahun. Total, ada 143,26 juta pengguna internet di Indonesia atau setara dengan 54,7 persen populasi penduduk Indonesia.

“Seharusnya di era digital ini pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung pembelajaran semakin besar,” katanya. Literasi digital sangat penting bagi pelajar di era Revolusi Industri 4.0.



Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa 37,1 persen pelajar Surabaya menggunakan internet 5-8 jam per hari. Tujuannya beragam. Persentase paling tinggi, mereka menggunakan internet untuk medsos. “Belum banyak pelajar yang memanfaatkan internet untuk kebutuhan belajar,” ujarnya.

Untuk apa sering mengakses medsos? Istidha menyebutkan, rata-rata mengaku mengakses medsos untuk hiburan. Padahal, medsos kurang memberikan kontribusi positif bagi penyediaan bahan belajar. Para pelajar berharap ada aplikasi medsos yang menyediakan berbagai bahan belajar. “Dengan official account itu, diharapkan ada sumber belajar terbaru,” ungkapnya.

Anggota Dewan Pendidikan Surabaya Murpin Josua Sembiring menambahkan, era Revolusi Industri 4.0 harus didukung dengan percepatan teknologi. Guru saat ini tidak bisa hanya mengandalkan buku paket untuk pembelajaran di sekolah.

Guru masa kini dituntut berinovasi dan kreatif. Salah satunya, memanfaatkan teknologi untuk membantu efisiensi pembelajaran. “Sekarang Surabaya sudah saatnya menjadi leading sector pembuatan bahan ajar yang bisa diakses seluruh siswa dari berbagai sekolah,” tuturnya.

Bagaimana caranya? Guru-guru terbaik dari berbagai mata pelajaran dikumpulkan untuk membuat bahan ajar ter-update. Kemudian, hasilnya dimasukkan database. Jadi, sekolah pinggiran juga bisa mendapatkan materi terbaru dari guru-guru terbaik. “Tujuannya pemerataan mutu pendidikan,” ujarnya.