MALANG KOTA – ”Malang, kota kita…pejuang, darah kita…Malang Kota Pejuang, harus bisa… Inilah yel-yel yang kemarin (9/11) disuarakan dengan sangat lantang oleh Komandan Kodim 0833Letkol Inf Nurul Yakin di acara dialog kebangsaan yang diadakan di hall Ijen Suites Resort & Convention.

Acara yang digagas Kodim 0833 Kota Malang dan Jawa Pos Radar Malang itu dihadiri pejabat sipil-militer, rektor, pejuang veteran, dan tokoh organisasi masyarakat (ormas) dari berbagai kalangan. Mereka mendeklarasikan pencanangan Malang sebagai Kota Pejuang.

”Wacana mengusulkan Malang sebagai Kota Pejuang, keberhasilannya sangat ditentukan peserta dialog kebangsaan ini,” ujar Nurul Yakin dalam sambutannya saat mengawali deklarasi yang dikemas dalam dialog kebangsaan bertajuk ”Malang Kota Pejuang, Kenapa Tidak?” itu.

Deklarasi yang dibacakan Nurul Yakin tersebut mencakup tujuh poin. Pertama, mendukung pencanangan Kota Malang sebagai Kota Pejuang. Kedua, mendukung muatan lokal sejarah perjuangan rakyat Malang dimasukkan ke dalam mata pelajaran maupun mata kuliah sejarah, baik di sekolah-sekolah maupun di perguruan tinggi Kota Malang. Ketiga, mendukung pengusulan almarhum Mayor Hamid Roesdi sebagai pahlawan nasional.

Keempat, mencanangkan patrol kebangsaan, serta gerakan wajib pengibaran bendera merah putih di tiap rumah dan instansi, baik pemerintah maupun swasta dalam setiap peringatan hari-hari besar nasional di Kota Malang. Kelima, membentuk tim gabungan di tingkat Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) dan Musyawarah Pimpinan Kecamata (Muspika) sebagai tim peninjau lapangan guna melaksanakan poin keempat.

Keenam, mendukung penggalakan kunjungan wisata murid-murid sekolah ke situs-situs sejarah perjuangan di Kota Malang. Ketujuh, mendukung pelestarian situs-situs sejarah perjuangan di Kota Malang.

Deklarasi diakhiri dengan pembubuhan tanda tangan dari masing-masing tokoh. Yakni, Dandim 0833 Kota Malang Nurul Yakin, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad, Wakapolres Malang Kota Kompol Nandu Dyanata, Kepala Bakesbangpol Kota Malang Indri Ardoyo yang mewakili Wali Kota Malang Moch. Anton, dan Kepala Dinsos Kota Malang Sri Wahyuningtyas.

Sementara dari kalangan akademis dihadiri Rektor Unmer Prof Dr Anwar Sanusi, wakil Rektor (Warek) III Universitas Brawijaya Prof Dr Arif Prajitno, Warek I Unikama Dr Sudi Dul Aji Msi dan Wakil Dekan I FKIP Unisma Hasan Busri. Dari organisasi masyarakat (ormas) dihadiri PC Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Malang Uswatun Khasanah, Ketua PD Muhammadiyah Kota Malang Dr Abdul Haris, Kabid Perempuan PD XIII GM FKPPI Kusuma Retno Rahayoni, dan Ketua IARMI Kota Malang Juniardi. Sedangkan dari kalangan organisasi kemasyarakatan dan pemuda (OKP) dihadiri Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang Harianto.

Sebelum naskah deklarasi ditandatangani, para peserta disuguhi edisi khusus Jawa Pos Radar Malang yang mengungkap perjuangan para pahlawan asal Malang. Di antaranya, Mayor Hamid Roesdi, Mayor Damar, KH Abdul Malik, dan Mayjen Mas Isman, pejuang asal Malang yang sudah meraih gelar pahlawan nasional dari presiden Joko Widodo pada 2015 silam.

Selama pemaparan berlangsung, para peserta serius memperhatikan. Apalagi, data yang dipaparkan tim redaksi tidak banyak yang diungkap media lain.

”Foto asli Hamid Roesdi ya ini. Yang tampil di internet itu keliru,” kata Redaktur Pelaksana Kholid Amrullah yang mendapatkan foto langsung dari keluarga Hamid Roesdi tersebut.

Selain itu, Jawa Pos Radar Malang menyebut pejuang lain yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di Malang Raya. Misalnya, Ir Rais, KH Parseh Jaya, KH Abdul Khodir, Mayor Damar, KH Tamin, Ki Ageng Gribig, dan KH Malik.

Setelah pemaparan perjuangan para pahlawan, masing-masing tokoh yang hadir dalam dialog kebangsaan itu diberi kesempatan menyampaikan pendapatnya. Hayono Isman yang hadir sebagai anak Mayjen Mas Isman mendapat giliran pertama. Pria yang juga ketua umum Koperasi Simpan Pinjam Gotong Royong (Kosgoro) itu mendukung penuh upaya mewujudkan Malang sebagai Kota Pejuang.

”Surabaya sudah menjadi Kota Pahlawan. Semoga, Malang bisa menjadi Kota Pejuang,” papar Hayono.

Keponakan Hamid Roesdi, yakni Muchtar Rusdyanto yang mendapat giliran kedua, juga mengapresiasi upaya menjadikan Malang sebagai Kota Pejuang. Dalam kesempatan itu, Muchtar juga menyampaikan keinginannya.

”Saya sangat senang jika ada buku yang menulis riwayat Hamid Roesdi. Agar makin dikenal,” kata Muchtar.

Sementara itu, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad menyatakan, pencanangan Malang sebagai Kota Pejuang itu perlu diimbangi dengan upaya sekolah membudayakan siswanya untuk mengunjungi museum.

”Di Malang sudah ada koleksi sejarah yang luar biasa di Museum Brawijaya. Tinggal bagaimana mengemasnya agar masyarakat lebih tertarik datang ke museum,” kata Kum, sapaan akrab Kurniawan Muhammad.

Di sesi akhir acara, Pimpinan BRI Cabang Kawi Ketut Ariawan dan Ketua PPM Neni Widoretno menyerahkan hadiah Bedah Rumah secara simbolis kepada para veteran. Sementara Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad menyerahkan plakat kepada Hayono Isman.

Pewarta: NR8
Penyunting: Mahmudan
Copy editor: Indah Setyowati
Foto: Bayu Eka