Pedagang Masih Bertahan di Tempat Relokasi yang Makin Tak Layak

Proyek pembangunan Pasar Kota Batu unit sayur tahap pertama sudah rampung tahun lalu. Namun, hingga kemarin (8/4) bangunan pasar yang menyedot anggaran Rp 8,9 miliar tersebut masih dibiarkan kosong. Para pedagang yang sudah setahun terakhir menempati tempat penampungan berharap bisa segera menempati kios barunya.

KOTA BATU – Proyek pembangunan Pasar Kota Batu unit sayur tahap pertama sudah rampung tahun lalu. Namun, hingga kemarin (8/4) bangunan pasar yang menyedot anggaran Rp 8,9 miliar tersebut masih dibiarkan kosong. Para pedagang yang sudah setahun terakhir menempati tempat penampungan berharap bisa segera menempati kios barunya.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Sayur (P2S) Kota Batu Agus Yulianto mengatakan, sejak bulan April tahun lalu para pedagang sudah menempati tempat relokasi.  Mereka berharap bisa segera pindah ke dalam pasar yang sudah selesai dibangun itu. Apalaggi, saat ini kondisi tempat penampungan sudah makin tak layak digunakan untuk berjualan. ”Tentu kami berharap segera bisa berjualan normal seperti semula. Karena kami sudah menempati tempat relokasi sejak sekitar April tahun lalu,” terangnya.

Keinginan itu pun sudah disampaikan pedagang ke Pemerintahk Kota (Pemkot) Batu. ”Sekitar dua minggu lalu kami juga sudah ada pertemuan dengan dinas (koperasi, usaha mikro, dan pergadangan),” ujar Agus. Meski tak menyebut waktu secara pasti, pihak dinas menjanjikan pedagang akan segera menempati kiosnya yang baru.

Menurut Agus, ada ketentuan yang harus dipenuhi pedagang yang akan menempati kios baru. ”Para pedagang yang akan menempati ini sifatnya masih pinjam,” ungkap dia. Dengan sistem pinjam ini, jelas Agus, pedagang menempati pasar baru tersebut untuk sementara sampai pembangunan pasar tahap dua beres.

Ketentuan tersebut disepakati pedagang karena dianggap lebih adil. Sekarang ini, sekitar 42 pedagang yang berada di tempat relokasi. ”Kami harap bisa segera lah. Pasar kan sudah jadi, dan sudah ada pertemuan. Kami harap segera ada realisasi untuk menempati kios baru,” ungkap Agus.

Untuk diketahui, baru ada 136 kios pada pembangunan pasar tahap pertama ini. Padahal, ada 244 pedagang yang ada di Pasar Kota Batu unit sayur. ”Masih ada 108 pedagang yang belum (dapat tempat). Ini menunggu yang tahap kedua,” tutur Agus.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Kota Batu Endang Triningsih mengatakan, pemanfaatan pasar tersebut masih menunggu kelengkapan administrasi. ”Kami juga ingin pasar tersebut bisa segera digunakan. Tapi sekarang ini kami masing menunggu penyerahan dari (Bidang) Aset (Badang Keuangan Daerah),” kata dia.

Endang tak menampik kalau bangunan tahap pertama itu memang sudah siap ditempati. Dikatakannya, bangunan pasar tahap pertama tersebut juga sudah diserahkan pihak kontraktor ke Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kota Batu dan dilanjutkan ke Bidang Aset. ”Memang statusnya masih dalam perawatan. Namun sebenarnya tidak apa-apa itu dimanfaatkan meski masih dalam status perawatan. Asalkan pemakaiannya benar dan tidak dirusak,” ujar Endang.

Menurutnya, meski masa perawatan yang selama 6 bulan itu masih jadi tanggungan kontraktor yang membangun, status itu sudah bisa diserahkan Bidang Aset ke pengelola. ”Tapi sekarang masih di (Bidang) Aset, belum sampai ke kami. Kalau sudah, ya kami kelola. Kalau belum, ya kami tidak berani. Nanti malah ada permasalah,” ungkap birokrat perempuan yang juga menjabat asisten 2 Pemkot Batu tersebut. ”Kemarin juga sudah dibahas dengan Pak Sekda (Sekretaris Daerah) mengenai pasar itu. Kami harap minggu depan sudah bisa dimanfaatkan,” tukas Endang.

Sementara itu, pembangunan pasar tahap dua yang mendapatkan anggara Rp 5,9 miliar juga tetap berada di bawah naungan DPKPP. Hanya, sampai kemarin proyek ini masih belum masuk ke LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik) Pemkot Batu.

pewarta :Aris Dwi
penyunting : Ahmad Yani
copy editor :Arief Rohman
foto : Bayu Eka