PDAM Olah Air Rolak Kedungkandang

MALANG KOTA – Polemik dengan Kabupaten Malang terkait pengelolaan air di Sumber Wendit membuat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang menyiapkan pasokan baru. Rencananya, air yang dipasok kepada pelanggan tidak hanya mengandalkan sumber yang saat ini dikelola. Seperti Sumber Banyuning (Bumiaji, Kota Batu) dan Sumber Karangan (Karangploso, Kabupaten Malang).

Tapi, PDAM berusaha membuat pasokan tambahan dengan mengolah air di Rolak Kedungkandang. Lokasinya di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Dengan demikian tidak akan berkonflik dengan daerah lain karena di wilayahnya sendiri.

”Konsepnya nanti terintegrasi. Ada wisatanya juga,” ujar Direktur Utama (Dirut) PDAM Kota Malang M. Nor Muhlas usai mendampingi Wali Kota Malang Sutiaji bersama rombongan melakukan sidak di Sumber Wendit kemarin (14/6).

Pengolahan air dari sungai sudah dilakukan PDAM di sejumlah daerah. PDAM Surya Sembada di Surabaya misalnya, air yang dipasok kepada pelanggannya bukan dari sumber. Tapi, mengolah air dari Kali Mas.

Muhlas menargetkan, pengolahan air Rolak Kedungkandang akan dimulai pada 2020/2021. Sedangkan biaya yang dibutuhkan mencapai ratusan miliran rupiah.

Disinggung mengenai polemik pengelolaan Sumber Wendit, Muhlas menyatakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya ke proses hukum. ”Itu sudah masuk wilayah hukum. Pemkab nuntut ke pusat (Kementerian PUPR RI),” kata mantan anggota DPRD Kabupaten Malang itu.

Seperti diketahui, Pemkab Malang tidak terima dengan harga air yang ditetapkan oleh pusat. Yakni, PDAM Kota Malang membayar Rp 130 per meter kubik. Dana itu tidak semua masuk kas daerah (kasda) Kabupaten Malang. Tapi, sebagian ke pemerintah pusat. Sementara pemkab ingin PDAM Kota Malang membayar Rp 610 per meter kubik.

Muhlas menambahkan, sebelum terbit Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pengelolaan air jadi wewenang daerah. Namun, usai UU ini diterbitkan, semua jadi wewenang pusat. ”Dulu wewenang pemda, tapi sekarang pusat. Jadi, kesepakatan sebelumnya itu batal demi hukum,” imbuh mantan anggota parlemen Kabupaten Malang ini.

Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan, pihaknya sengaja memberi tantangan pada direksi PDAM Kota Malang yang baru. Yaitu, merealisasikan program pengelolaan air permukaan di Sungai Rolak Kedungkandang.

”Ini saya tantang Pak Direktur yang baru. Bisa apa enggak merealisasikan ini (mengolah air Rolak Kedungkandang untuk pelanggan) pada tahun depan (2020) atau 2021,” ungkap Sutiaji.

Dia juga menjelaskan tentang anggapan warga bahwa harga air PDAM relatif tinggi. Padahal, belinya dari Kabupaten Malang sekitar Rp 130 per meter kubik. ”Prosesnya nggak dilihat. Untuk listrik saja sampai Rp 2 miliar per bulan,” tandas Sutiaji.

Pihaknya juga bakal merealisasikan detail engineering design (DED) pengolahan air permukaan Sungai Rolak tersebut pada anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) induk 2020. ”Supaya segera bisa direalisasikan,” harapnya.

Pewarta : Imam Nasrodin
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan
Fotografer : Darmono