Pasokan utama Starbuck dari Indonesia, dari sini dari Lintong

”Pemasok utama Starbuck dari Indonesia dari sini dari Lintong,” kata Branch Manager North Sumatra PT Olam Indonesia Sourav Shakraborty di sela acara penyerahan CSR kepada Kelompok Tani Olam Klasik Kopi Lintong dari PT PLN (Persero) Wilayah Sumut, di Desa Sigumpar, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut, Selasa (19/12).

Sourav mengungkapkan, kopi lintong dipilih oleh Starbuck karena punya rasa dan tekstur yang unik. ”Rasanya juga berbeda ketimbang varietas kopi dari daerah lain,” ujar Sourav. Per tahunnya kopi lintong yang diekspor pihaknya hampir lima tahun mecapai 500-1.000 ton.

General Manager PT PLN (Persero) Wilayah Sumut Feby Joko Priharto saat melihat proses penjemuran kopi lintong di Desa Sigumpar, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut.
(Budi Warsito/JawaPos.com)

Jumlah tersebut merupakan hasil dari lahan seluas 89 hektar milik Kelompok Tani Olam Klasik. Per kilogramnya, green bean (kopi yang telah dikupas) siap ekspor dari petani dihargai Rp 28 ribu per kilogram jika masa panen besar.



”Sekarang harganya Rp 35 ribu per kilogram karena musim panen mulai habis. Sehingga produksinya mulai berkurang. Jadi harga juga tergantung musim. Kalau lagi musim harga bisa lebih murah,” jelas Sourov.

Selain memasok kopi dari Indonesia, Olam Indonesia juga memasok kopi dari Vietnam. Kopi-kopi itu diekspor ke Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa. Pada penyerahan CSR itu Kelompok Tani Olam Klasik Kopi Lintong mendapat beberapa bantuan.

Di antaranya berupa delapan mesin pulper (mesin pengupas) kopi, 100 gunting dahan, dan uang sejumlah Rp 129.723.512. Bantuan tersebut untuk mengembangkan komoditas Kopi Lintong dari PT PLN (Persero) Sumut.

General Manager PT PLN (Persero) Wilayah Sumut Feby Joko Priharto menungkapkan, kopi lintong menurutnya patut dikenakan di seluruh nusantara bahkan dunia. ”Dari penelitian di Jember, rumah kopi, kopi Lintong ternyata terbaik di Sumatera Utara dengan nilai 97 dan terendah itu 87. Sehingga kami ingin ini menjadi program unggulan PLN Wilayah Sumatra Utara,” tegas Feby.

”Kami berharap bukan hanya bisa mendongrak produksi, namun volumenya juga terjaga. Kemudian juga masalah kualitas. Itu juga menjadi hal yang sangat penting. Itu hendaknya bisa dijaga para petani,” tukas Feby.


(bew/JPC)