Pasien BPJS Kartunya Nonaktif

Pasien BPJS Kartunya Nonaktif

PULANG PAKSA: Hamifa terpaksa harus pulang paksa meski belum sembuh betul karena BPJS-nya nonaktif.
(Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

MAYANGAN – Hamifa, 41, warga RT 19/RW 5, Desa Bayeman, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, terpaksa pulang paksa dari RSUD dr. Moh Saleh. Padahal ia belum sembuh benar.

Selain itu, keluarganya pun harus cari utangan ke sana-sini untuk membayar biaya perawatan di RSUD sebesar Rp 9,7 juta.

Biaya itu untuk perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD selama 3 hari, sebesar Rp 9 juta. Dan, biaya perawatan di ruang utama, Rp 700 ribu.

Sugi 54, suami Hamifa, akhirnya dapat utangan Rp 6,9 juta. Kurang Rp 2,8 juta. Sugi mengaku, pada Sabtu (27/1) malam, istrinya masuk ICU RSUD karena sakit jantung.

Di ICU, ia kebingungan melihat istrinya kejang-kejang. Di sisi lain, saat itu Sugi baru tahu bahwa kartu BPJS Kesehatan milik istrinya nonaktif. Tanpa pikir panjang, Sugi memutuskan untuk merawat istrinya tanpa BPJS atau pasien umum.

“Waktu itu saya dikasih tahu bahwa BPJS istri saya nonaktif. Tapi, saya melihat istri kasihan karena kejang-kenang. Jadi, saya tak berpikir panjang. Yang penting istri dirawat,” terangnya.

Padahal, pasien umum dikenakan biaya Rp 3 juta untuk perawatan ICU selama 1 x 24 jam saja. Hamifa sendiri, tiga hari dirawat di ICU.

Pada hari kedua di ICU, Sugi diminta membayar DP Rp 5 juta. Dia pun mencari utangan untuk membayar DP itu.

“Istri saya ada di ruang ICU sekitar 3 hari. Waktu semua peralatan dilepas, saya minta pindah kamar. Kalau di ICU terus, takut biayanya tambah besar,” tambahnya.

Sayangnya, saat itu kamar kelas II dan III penuh. Yang ada hanya kamar utama. Akhirnya, Sugi memindah istrinya ke kamar utama, yakni ruang Kemuning nomor 4.

Namun, tidak sampai sehari Hamifa di ruang Kemuning. Keluarganya memutuskan untuk pulang paksa karena takut biaya akan terus membengkak. Saat itu, total biaya yang harus ditanggung Rp 9,7 juta. Artinya, Sugi harus membayar kekurangan biaya Rp 4,7 juta.

“Kalau di sini terus, saya dapat dari mana lagi uang. Akhirnya kami (keluarga) memutuskan untuk pulang paksa. Saya cari pinjaman sana-sini untuk nutup kurangnya, yaitu Rp 4,7 juta. Tapi, baru dapat 1,9 juta. Kurang Rp 2,8 juta,” terangnya.

Beruntung, malam itu pihak desa dan camat membantu. Camat Tongas Sugeng Wiyanto, Kades Bayeman Sumarto, dan Kasun Sentong Imam Syafii datang. Kekurangan biaya sebesar Rp 2,8 juta dibayar Camat Sugeng. Hamifa pun bisa pulang Selasa (30/1) malam.

Sugi sendiri mengaku kecewa pada BPJS. Sebab, kartu BPJS milik istrinya nonaktif tanpa pemberitahuan. Padahal, mereka berasal dari keluarga tidak mampu.

(br/rpd/mie/mie/JPR)