Pasangan ini Diprediksi Unggul di Pilgub Kalbar – Pilkada Serentak 2018

Pasangan ini Diprediksi Unggul di Pilgub Kalbar

jpnn.com, JAKARTA – Pilkada Kalimantan Barat tinggal menghitung hari. Pasangan Sutarmidji-Ria Norsan adalah pasangan yang saat ini paling berpeluang menang.

Saat ini elektabilitas pasangan (pertanyaan tertutup) Sutarmidji-Ria Norsan diangka 48.5 persen.

Kemudian diikuti pasangan Karolin Margaret Natasa-Suryadman Gidot dengan elektabilitas sebesar 30.0 persen

Lali terakhir pasangan Milton Crosby-Boyman Harun dengan angka sebesar 7.2 persen. Mereka yang belum memutuskan sebesar 14.3 %.

Ini berdasarkan temuan survei terbaru LSI Denny JA. Responden sebanyak 600 dipilih berdasarkan multi stage random sampling.

Wawancara tatap muka dengan responden dilakukan serentak di semua kabupaten/kota di Kalimantan Barat dari l 8 – 14 Juni 2018.

Survei ini dibiayai sendiri sebagai bagian layanan publik LSI Denny JA. Margin of error (MoE) survei ini adalah plus minus 4 persen.

Dari simulasi pertanyaan tertutup, masih terdapat 14.3 % yang belum menentukan pilihan.

Jika 14.3 % mereka yang belum menentukan pilihan (undecided voters) dibagi habis secara proporsional ke ketiga kandidat maka elektabilitas masing-masing kandidat mengalami tambahan dukungan secara proporsional.

“Elektabilitas pasangan Sutarmidji-Norsan bisa menjadi 56.6 %, Karolin-Gidot menjadi 35.0 %, dan elektabilitas Milton-Boyman menjadi 8.4 %,” ujar 
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby.

Dukungan terhadap pasangan Sutarmidji-Norsan merata hampir di semua segmen pemilih. Namun. pasangan Karolin-Gidot juga memiliki keunggulan di beberapa segmen pemilih.

Pada segmen gender, pasangan Sutarmidji-Norsan unggul di segmen pemilih laki-laki maupun perempuan.

Di segmen agama, pasangan Sutarmidji-Norsan unggul di segmen pemilih muslim dengan dukungan sebesar 77.50 %.

Sementara pasangan Karolin-Gidot unggul di segmen pemilih Protestan (64.50 %) dan segmen pemilih Katolik (66.70%).

Pada segmen pemilih pemula (dibawah 19 tahun) kedua kandidat bersaing ketat, dengan angka dukungan yang sama sebesar 34.40 %.

“Namun, di segmen usia yang lain, keseluruhan diungguli oleh pasangan Sutarmidji-Norsan.,” imbuhnya.

Secara teritori, pasangan Sutarmidji-Norsan juga unggul di mayoritas teritori di Kalimantan Barat.

Sutarmidji-Norsan Unggul di 6 Dapil, sementara Karolin-Gidot unggul di 2 Dapil. Keunggulan Sutarmidji-Norsan di antaranya di Dapil 1 Kota Pontianak, Dapil 2 Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah,

Dapil 4 Sambas, Dapil 6 Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Sekadau, Dapil 7 Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Melawi, dan Kabupaten Sintang serta Dapil 8 Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang.

Sementara pasangan Karolin-Gidot unggul di Dapil 3 Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang, dan Dapil 5 Kabupaten Landak.

LSI Denny JA menemukan bahwa ada 3 alasan mengapa pasangan Sutarmidji-Norsan berpeluang menang?.

Pertama, pasangan Sutarmidji-Norsan paling disukai atau paling tinggi tingkat akseptabilitas.

Dari mereka yang menyatakan kenal dengan Sutarmidji, sebesar 78.80 % menyatakan suka dengan Sutarmidji.

Sementara mereka yang menyatakan suka dengan Karolin sebesar 69.70 %, dan yang menyatakan suka dengan Milton sebesar 67.0 %.

Sementara pasangan wakilnya Sutarmidji, Ria Norsan juga paling tinggi tingkat kesukaannya yaitu sebesar 74.0 %.

Kedua, Sutarmidji dipersepsikan sebagai calon gubernur yang paling bersih dari korupsi.

Isu korupsi menjadi salah satu isu penting bagi masyarakat Kalimantan Barat. Sebesar 57.50 % publik Kalbar meyakini Sutarmidji bersih dari korupsi, sebesar 8.80 % menyatakan kurang percaya, dan sebesar 33.8 % menyatakan tidak tahu/tidak jawab.

Ketiga, resistensi publik terhadap politik dinasti. Sebesar 51.0 % publik Kalimantan Barat menyatakan bahwa majunya Karolin Margaret Natasa sebagai gubernur dinilai kurang pantas/tidak pantas sama sekali, karena dianggap sebagai upaya petahana (Cornelis) melanggengkan kekuasaanya melalui keluarga.

“Dan hanya sebesar 21.5 % yang menyatakan hal itu pantas, karena hak demokrasi Karolin,” tambahnya.

Namun, dengan sisa waktu yang tersedia, masih terdapat 3 kondisi yang mampu mengubah suara.

Pertama, menang atau kalah juga ditentukan oleh kemampuan kandidat menekan tingkat golput pendukungnya.

Kandidat yang menang adalah yang mampu meminimalisir jumlah golput pendukungnya.

Kedua , negative campaign adalah kampanye menyerang lawan dengan fakta-fakta yang melemahkan.

Isu negatif yang massif terhadap seorang kandidat bisa mengubah suara kandidat tersebut.

Ketiga, “invisible hand”. dalam kasus beberapa daerah yang pilkada, intervensi dari pihak yang punya akses mengubah suara (oknum penyelenggara atau oknum penguasa) bisa mengubah suara riil yang diperoleh masing-masing pasangan calon. (flo/jpnn)