Paradigma Pembelajaran Harus Diubah, Sekolah Tak Sekadar Ranking

JawaPos.com – Paradigma pembelajaran siswa masih berkutat soal ranking. Padahal, maknanya jauh di atas itu. Mulai dari membangun karakter siswa sampai kecakapan berpikir kritis.

Diakui Director Education Cambridge International Tristian Stobie, kebanyakan siswa dan orang tua masih berorientasi pada ranking di sekolah. Guru pun demikian, tak jarang menekankan nilai pada siswa dalam sistem pembelajaran.

Padahal, dalam pendidikan, hal terpenting yang harus dicapai bukan lah sekadar ranking. Siswa harusnya didorong untuk mencapai potensi optimal mereka bukan sibuk dibandingkan dengan siswa lain.

Chris Watkins mempunyai gagasan tentang perubahan tersebut. Bagaimana pendidikan harus bertransisi dari orientasi prestasi (performance orientation) ke orientasi pembelajaran (learning orientation).

“Tapi ini sulit ketika orang tua ingin nilai-nilai bagus dan ingin anak-anak mereka masuk Harvard, Yale, Oxford atau Cambridge. Padahal, kalau kita benar-benar berorientasi pembelajaran, prestasi juga akan naik,” paparnya dalam acara Cambridge Schools Conference di Bali, Senin (9/12).

Perubahan ini, kata dia, sudah diterapkan di Singapura. Menurutnya, pemerintah sudah tak lagi berfokus pada urusan kompetisi akademik. Ranking bukan lagi indikator dalam pendidikan dasarnya. Langkah ini juga sekaligus menghilangkan soal siapa paling tinggi nilainya dan paling rendah di kelasnya.

“Ini adalah revolusi melawan pemikiran orang tua di Singapura yang sangat kompetitif dan berbasis pada nilai,” katanya.

Perubahan ini tentu tidak mudah. Guru harus kerja keras dalam mengubah metode pengajarannya. Guru dituntut untuk lebih memahami siswanya, tentang sejauh mana penguasaan siswa pada materi yang diajarkan, bagaimana siswa bisa berpikir kritis, hingga penerapan nilai-nilai sosial di lingkungannya.

Satu hal lagi, lanjut dia, pendidikan tak bisa dipisahkan dari lingkungan atau budaya lokalnya. Sebab, menjaga kearifan lokal sejatinya hal yang penting. Karenanya, aktivitas belajar mengajar harus merefleksikan nilai-nilai sosial yang ada di lingkup budaya lokalnya.

“Pembelajaran merupakan proses pembuatan makna. Bukan sekadar transmisi informasi dari satu orang ke orang lain tanpa adanya proses,” tegasnya.

Sayangnya, hal ini cukup sulit diterapkan. Diakui Rutdiana, pengajar SPK Saint Peter School Jakarta, orientasi nilai dan ranking ini masih mengakar kuat pada orang tua. Dirinya pernah melakukan terobosan, dengan tak memberikan ujian pada siswa. Sayangnya banyak pihak yang akhirnya menentang.

Padahal, dia hanya ingin memberikan apresiasi pada kerja keras siswa dengan cara berbeda. Tak melulu soal nilai dan ranking.

“Terus dibilang, yakin kamu gak mau ada tes? Nanti orang tua siswa gimana? Saya jadi mikir lagi kan. Karena memang (mereka, red) masih soal ranking dan nilai,” keluhnya.

Topik ini muncul dalam meja diskusi di acara Cambridge Schools Conference 2019. Digelar selama dua hari, 9-10 Desember 2019, di Bali, konfrensi ini membahas soal tantangan-tantangan terdepan di bidang pendidikan, termasuk inovasi pembelajaran dan pemberdayaan guru. Sebanyak 271 perwakilan sekolah dari 37 negara Asia Pasifik, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan hadir untuk ikut serta membahas tantangan dalam dunia pendidikan tersebut.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Zalzilatul