Para Seniman Melukis Ditengah-tengah Reruntuhan Yarmuk Syria | JawaPos.com

Para Seniman Melukis Ditengah-tengah Reruntuhan Yarmuk Syria | JawaPos.com

JawaPos.com – Kehidupan di garis konflik tidak selalu menjadikannya tertekan, hancurnya tempat tinggal bahkan terasa biasa bagi mereka. Seperti Abdallah Al Harith, 21 tahun, pemuda yang mengungsi di kamp Yarmuk, Syria memilih untuk memasang kanvas dengan menggoreskan cat merah yang ia letakkan di tengah-tengah reruntuhan bangunan.

Sebanyak 12 seniman muda mendirikan lapak mereka dengan meletakkan papan kanvas mereka di pinggiran Damaskus pekan lalu. Selama tujuh tahun mereka hidup di bawah ancaman tembakan hingga ledakan.

Bermodal kuas, cat, dan pensil mereka mulai menerjemahkan penderitaan yang mereka alami. Mereka melukiskan kehidupan yang telah dirusak oleh pengeboman dan pengepungan. “Kami membawa kembali kehidupan ke tempat gelap,” kata Harith seperti dilansir Channel News Asia, Kamis, (23/8).

Sebanyak 12 seniman muda mendirikan lapak mereka dengan meletakkan papan kanvas mereka di pinggiran Damaskus pekan lalu. Selama tujuh tahun mereka hidup di bawah ancaman tembakan hingga ledakan (Maher/AFP)

Dia telah melarikan diri dari Yarmuk beberapa tahun lalu namun akhirnya kembali setelah rezim itu menggulingkan ISIS pada bulan Mei lalu. Mahasiswa seni rupa itu mengatakan, ia bahkan memiliki benjolan di tenggorokannya ketika pertama kali kembali ke kamp.



“Tapi kemudian aku menyadari bahwa setiap kilasan kehidupan di tengah semua kematian ini adalah kemenangan,” katanya sambil menunjuk ke arah bangunan-bangunan usang di sekitarnya.

Harith dan rekan-rekannya kemudian mulai menuangkan segala kejadian yang telah mereka saksikan dan alami kembali di atas kanvas. Dia melukis sosok bocah kecil yang muncul dari tanah yang memegang apel berwarna merah cerah.

“Ini seharusnya mewakili kehidupan baru. Aku benar-benar melihat sesuatu seperti ini, anak-anak dengan apel bermain lagi di tanah pertempuran,” katanya.

Sebelum dilanda perang, PBB mengatakan bahwa Yarmuk telah menjadi rumah bagi sekitar 160 ribu orang. Yarmuk dibentuk pada 1957 silam untuk menampung para pengungsi Palestina, namun selama beberapa dekade menjadi distrik yang ramai.

Namun Yarmuk kini hancur berantakan, sekitar 140 ribu warga melarikan diri dari bentrokan antara rezim Bashar Al Assad dan pemberontak 2012 lalu. Yarmuk kemudian harus menghadapi kekurangan makanan di bawah krisis pemerintah.

(trz/JPC)