Para Pelajar Berani menjadi Bom Hidup, Heroik

Para Pelajar Berani menjadi Bom Hidup, Heroik - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA – Berkaitan dengan peringatan HUT ke-74 RI, Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel mengingatkan peran anak-anak bangsa yang masih usia remaja, dalam mempertahankan kemerdekaan.

Tidak puas terhadap para petinggi yang dinilai terlampau lamban, anak-anak muda memutuskan ambil jalan keras. Mereka bergabung dalam Boo Ei Teisintai. Barisan berani mati yang terinspirasi oleh Jibakutai itu utamanya terdiri dari kaigun heiho dan para pelajar SMP.

“Dalam buku Pelajar Pejuang (Asmadi, 1985) diuraikan perlawanan para pelajar dan rakyat luas terhadap sekutu di Surabaya. Mereka bertempur dengan membawa bahan peledak. Dengan menjadi bom hidup, para pelajar yang berusia masih sangat belia itu lantas menabrakkan diri mereka ke kendaraan-kendaraan pasukan Sekutu hingga rusak tak bisa difungsikan lagi,” tutur Reza memaknai HUT Kemerdekaan RI yang ke-74.

Jika aksi-aksi heroic mereka dilihat dari sudut pandang kekinian, menurut Reza, bisa dibilang merupakan peristiwa ‚Äúpelibatan anak-anak dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan”, dan “pelibatan anak-anak dalam peperangan”.

“UU Perlindungan Anak telah dilabrak hingga tak bersisa. Begitu simpulan absurd ketika situasi tempo dulu dilihat dengan teropong hari ini,” ucapnya.

BACA JUGA: Koko Ardiansyah, Paskibra Labuhan Batu Diajak ke Istana Merdeka, Menitikkan Air Mata

Dalam konteks itu, lanjutnya, ada dua tugas masyarakat dalam menghargai para anak-anak bangsa yang ikut aktif berjuang memertahakan kemerdekaan RI .

Pertama, memastikan anak-anak kita tetap merdeka. Merdeka dari neokolonialisme dan neoimperialisme, sebagai prasyarat untuk menjadi anak-anak yang sehat, cerdas, berakhlak mulia.