Panggung Sendratari Senilai Rp 1,6 M Mangkrak

Pembangunan Tahun 2015 dari APBD Kota Batu

Panggung sendratari terbuka milik Pemkot Batu yang berada di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu tak terawat dengan rumput liar yang tumbuh di setiap bagian, kemarin.

KOTA BATU – Sayang beribu sayang. Seperti itulah kondisi saat ini panggung sendratari yang ada di Jalan Sutan Hasan Halim, Kelurahan Sisir, Kota Batu. Gedung yang diimpikan, menjadi sebuah pusat pertunjukan kesenian dan tempat yang akan melahirkan seniman tari berkelas dunia dari Kota Dingin ini, sekarang ini mangkrak. Tidak terawat, dan menyeramkan seperti bangunan tua. Bangunan yang pada tahap I menelan anggaran Rp 1,6 miliar itu di panggungnya nyaris tidak terlihat karena tertutup oleh rumput liar.

Gapura setinggi kurang lebih 3 meter yang dibangun terlihat ujungnya saja, sampai tribun penonton. Di pagar pembatas yang mengelilingi, penuh dengan coretan vandalisme. Kondisi bangunan itupun sangat disayangkan. Sebab, panggung sendratari itu bisa seperti Putra Barong, yang ada di Gianyar, Bali. Di sana berisi pertunjungan tari tradisional, itu menjadi daya tarik para wisatawan asing maupun lokal yang datang.

Ketua Dewan Kesenian Kota Batu (DKKB) Fuad Dwiyono mengatakan, memang sangat disayangkan jika melihat kondisi gedung itu sekarang. Padahal, dulu itu di konsep untuk sebuah pertunjukan seni di Kota Batu. Sehingga bisa menjadi daya tarik wisata, memajukan, melestarikan kesenian daerah. Menurutnya, tidak hanya tari-tarian, bisa juga pertunjukan seni yang lainnya.

“Melihat kondisi itu, kami ingin meminta klarifikasi pada pemerintah Kota Batu,” tegas Fuad saat dihubungi kemarin.

Tujuan untuk menjadi pusat pertunjukan kesenian daerah, sangat relevan dengan Kota Batu yang tumbuh pesat sebagai Kota Wisata sekarang ini. “Dalam waktu dekat ini lah kami akan audiensi dengan Pemkot Batu, bagaimana keberlangsungan dari gedung itu,” terang dia.

Fuad menambahkan, gedung itu masih belum 100 persen selesai. “Itu baru 60 persen, belum selesai. Namun sekarang ini tidak ada yang bertanggung jawab,” kata dia.

Dari informasi yang dihimpun, panggung sendratari tersebut dulunya dibangun oleh CV. Mega Dimensi, rekanan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKR) yang sekarang menjadi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu. Pembangunanterjadi di pertengahan 2015 dengan anggaran Rp 1,6 miliar untuk tahap pertama. Yakni, berupa bangunan tembok pembatas, panggung dan paving yang luasnya kira-kira 39 meter x 70 meter. Anggaran itu belum termasuk tribun, yang sudah terbangun seperti sekarang ini.

“Kami ingin tanya, karena panggung itu membangunnya juga pakai uang masyarakat,” ujar Fuad.

Jangan sampai uang masyarakat hanya dihamburkan untuk membangun namun tidak jelas peruntukannya. “Itu sampai sekarang tidak ada yang bertanggungjawab. Bangunan juga belum diterima kelurahan Sisir. Ada beberapa sinyalemen, masih ada persoalan,” kata dia.

Karena itu, dia ingin mendesak pemerintah Kota Batu mengenai kejelasan bangunan tersebut. “Nanti juga akan kami tanyakan pada Wali Kota yang sudah terpilih, dan Dinas Pariwisata,” jelas dia.

Sementara itu Imam Suryono, Plt Dinas Pariwisata Kota Batu saat dihubungi sore kemarin nomornya masih tidak aktif. Pesan singkat yang melalui whatsapp juga tidak terkirim.

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Aris Syaiful
Foto: Bayu Eka