Paling Susah saat Ajarkan Arti Ekspresi Wajah

Keterbatasan fisik (maaf Tuli) yang dialami Sumiati Sukesih tak menyurutkan dia memberi manfaat pada orang lain. Melalui Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin), dia mengajak semua orang bisa paham dengan bahasa kaum tuli. Yakni lewat bahasa isyarat.

ERRICA VANNIE ARSHITA

Puluhan orang tampak asyik berkumpul di Car Free Day Radar Malang (CFD) Jalan Ijen Minggu (1/9). Ada yang unik dengan mereka. Ternyata mereka asyik berbincang dengan gestur yang ekspresif tanpa menimbulkan suara.

Rupa-rupanya mereka adalah anak-anak dan mahasiswa yang ingin belajar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Itu merupakan program sosialisasi dan belajar bersama yang digelar Gerkatin Malang. Dua minggu sekali acara itu dilakukan.

Suasana belajar itu dibuat senyaman mungkin. Mereka duduk berkumpul di atas rumput beralas karpet. Mereka berkelompok dengan pelatih bahasa isyaratnya. Ada yang satu orang satu pelatih, adapula yang satu pelatih dua orang.

Terlihat ada beberapa kartu alfabet Bisindo dan beberapa kartu kata. Dengan sabar, pelatih memperagakan isyarat dari tiap kata yang tersedia. Ada yang belajar cepat, adapula yang harus mengulang beberapa isyarat karena tidak begitu paham gerakannya.

Sumiati Sukesih selaku ketua Gerkatin Malang juga mengawasi proses belajar bertajuk ”Ayo Belajar Bisindo”. Menurut dia, siapa saja (termasuk orang nondifabel) boleh belajar. Gratis pula. Seperti yang terlihat pagi itu, mereka dari kalangan mahasiswa maupun pelajar yang belajar. Tidak semuanya Tuli.

Sumiati menerangkan, tantangan dalam mengajarkan bahasa isyarat itu kadang gampang-gampang susah. Dimulai dari bahasa isyarat dasar huruf, angka, dan budaya orang Tuli sederhana terlebih dahulu. Yang paling susah mengajari cara membaca bentuk ekspresi wajah dan membaca gerak bibir.

Ada sejumlah ekspresi yang harus bisa dipahami. Mulai mengernyitkan dahi, senyum kecut, senyum lepas, senyum tipis, dan lain-lainnya. ”Misal saat marah, maka ekspresinya mengernyitkan dahi dan mrengut. Susahnya lagi komunikasi kami dengan gerak bibir, kadang mereka tidak mengerti apa yang kami sampaikan,” terang Sumiati.

Dia menambahkan, pelatihan tersebut ditujukan untuk pengunjung CFD selama dua minggu sekali. Tujuannya agar teman dengar (sebutan nondifabel) dapat berkomunikasi dengan teman Tuli (sebutan tunarungu) dengan bahasa isyarat.

Sehingga ketika dua orang ini bertemu bisa berkomunikasi layaknya sama-sama orang nondifabel. ”Kadangkala kami memperjelas maksud kami dengan ekspresi muka dan gestur agar mereka lebih paham komunikasinya dan lebih jelas,” ungkap dia sembari mencontohkan mimik marah.

Di Indonesia, imbuh dia, ada dua bahasa isyarat. Yakni, Bisindo dan Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SiBI). SiBI adalah bahasa isyarat yang dikembangkan oleh pemerintah dan digunakan di sekolah-sekolah inklusi. SiBI dalam praktiknya cukup kompleks dan lama jika diterapkan sehingga banyak dari teman Tuli yang menggunakan Bisindo sebagai bahasa sehari-hari.

Sebab, Bisindo adalah bahasa isyarat yang berkembang di daerah-daerah. Bahasa ibu lebih dominan. Jadi, cara menghafal dan mempelajari Bisindo lebih mudah. ”Bisindo tiap daerah ada beberapa yang berbeda, contohnya Malang dan Bandung ada beberapa gerakan yang berbeda,” ungkapnya dengan gerak bibir.

Karena Bisindo lebih mudah dihafal, maka dalam pelatihan dan sosialisasi ini yang diajarkan adalah jenis bahasa isyarat tersebut. Harapannya, karena lebih mudah dan sering dipakai dalam bahasa sehari-hari, jadi lebih mudah mengerti. Selain melakukan sosialisasi di CFD, Gerkatin juga menyediakan kelas Bisindo Malangan untuk anak-anak.

Dan ke depannya, mereka memiliki rencana membuka kelas Bisindo untuk juru bahasa isyarat. ”Karena kita orang Malang, kelas Bisindo yang disediakan ya bahasa Malangan,” ungkap wakil ketua Forum Malang Inklusi (Fomi) tersebut.

Selain mengajarkan bahasa isyarat, Gerkatin juga memberi workshop terkait deaf awareness, seminar, kerajinan tangan, hingga di beberapa bidang kepemudaan. Seperti olahraga, perkemahan, adventure, hingga latihan dasar kepemimpinan. Sedangkan untuk workshop terkait deaf awareness sudah sering dilakukan, mulai dari acara nasional hingga internasional.

Gerkatin Cabang Malang ini berdiri pada Oktober 1991. Selama dua puluh delapan tahun Gerkatin berdiri, dari sekitar 200 teman Tuli yang terdaftar. Sedangkan yang sekadar gabung ada sekitar 100 orang. Saat ini baru ada dua juru bahasa isyarat dari orang nondifabel. ”Mereka mahasiswa UB dan satu lagi UM,” terangnya.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib