Pakar Modest Wear: Banyak 'Harta Karun' Fashion di Kota-Kota Kecil

JawaPos.com – Untuk bisa bersaing di kancah global, para desainer dan pelaku bisnis modest wear harus didorong dengan akses yang baik. Pesan itu diungkap dalam ajang Modest Fashion Founders Fund Celebration Days yang diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan #Markamarie di Gandaria City, baru-baru ini.

Expert Modest Wear dan Co Founder Modest Fashion Week, Franka Soeria menilai saat ini banyak desainer lokal kesulitan menjangkau akses dalam memproduksi. Padahal, para desainer lokal ternyata punya banyak potensi untuk bersaing. Dia menyebutnya peluang itu sebagai ‘harta karun’ yang terpendam.

“Saya itu justru suka mengangkat label-label baru dari kota-kota kecil. Karena mereka punya banyak kesempatan yang sama. Jangan label dan desainer yang itu-itu melulu yang tampil. Karena, banyak desainer lokal di kota-kota kecil itu harta karun lho, kenapa harta karun? Karena potensinya bagus sekali tapi yang kedengaran hanya di kota-kota besar,” tukasnya kepada wartawan.

Milsanya, dia mencontohkan banyak kain dari Jawa Barat yang menampilkan keunggulan yang tak banyak diketahui masyarakat. Seperti kain bordir tasik dan berbagai kain di Bandung.

“Lokal banget yang di kota-kota kecil harus diangkat. Bordir Tasikmalaya itu bagus sekali. Banyak juga kota-kota kecil di Sumatera, Kalimantan, Bodetabek. Di Bogor atau Ciamis, Cirebon juga misalnya, itu bagus-bagus lho kainnya. Saya senang mengangkat nama-nama baru, karena etos kerjanya bagus,” kata Franka.

Franka mencontohkan, berbagai kain batik di Pekalongan juga menghadapi berbagai tantangan dan kendala. Misalnya, kurangnya SDM dan semangat etos kerja membuat beberapa para perajin juga kewalahan memenuhi permintaan pasar. Banyak konsumen memberikan target pengerjaan batik harus selesai dalam jangka waktu tertentu, namun itu tidak bisa disanggupi.

“Bisa karena SDM, bisa karena etos kerja, sehingga saat desainer mulai berkembang butuh batiknya dalam jumlah besar, perajin kurang cepat memenuhi pesanan. Nah untuk mengatasi kendala-kendala ini harus ditemukan solusinya,” jelasnya.

Entrepreneur of Modest Fashion (EOMF) Jawa Barat, Hanny Lovelly menjelaskan, antusiasme desainer lokal dari daerah begitu besar. Mereka ingin diperhatikan dan mendapatkan akses lebih baik dan lebih terarah.

“Kami sudah siap berlari cepat dengan talenta-talenta Jawa Barat. Kami bersinergi dengan perusahaan tekstil terpercaya mendukung banyak desainer di komunitas kami,” jelas Hanny.

Ajang Modest Fashion Founders Fund Celebration Days ditutup dengan sesi terakhir dari fashion show yang menampilkan Sipatamoda, Hanny Lovelly, NA by Niena Abdat, JEEL Boutique by Jujuk Lestari, Dewi Noor, Tiasafara by Neni Nur Effendi, Destee by Hesty Widia, Santi Nugraha, Sanic Alexander by Sanic, Aya by Aya Winarko dan De Chantique by Nining Santoso.

Acara ini juga turut mengajak Top 20 Modest Fashion Founders Fund adalah Neera Alatas, Wad Studio, Sayee Indonesia, Auliya, Dresssofia, Hannie Hananto, Rhani by Ilham Mulyadi, Hwan Eco Ethnic, Keihana, Eugene Effectes, Lovage, Luluk Marla Modestwear, Koolastuffa, Nonss, Emphaty, Meeta Fauzan, Swimsweets, Monika Jufry, Baby Malika, WGB (Wah Gede Banget).

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani