Pakai Teknologi Canggih, Operasi Katarak Tidak Menakutkan Lagi

Pakai Teknologi Canggih, Operasi Katarak Tidak Menakutkan Lagi - JPNN.com

dr Rien Widyasari SpM (kiri) dan dr Yuni Astuti, MARS. Foto: Mesya/JPNn.com

jpnn.com, JAKARTA – Katarak masih menjadi penyebab kebutaan nomor satu di Indonesia. Tercatat 60 persen kebutaan disebabkan oleh katarak. Karatak paling banyak dialami oleh usia di atas 50 tahun. Namun, katarak bisa juga menyerang anak-anak.

“Katarak ini adalah penyakit yang tidak bisa dihindari. Sering bertambahnya usia, katarak akan mendekati kita. Bisa juga karena gaya hidup, misalnya masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir pantai lebih rentan kena katarak karena terpapar sinar matahari,” kata dr Rien Widyasari SpM, dokter spesialis mata dalam media gathering memeringati ulang tahun Klinik Mata Nusantara (KMN) EyeCare ke-15, belum lama ini.

Katarak merupakan kondisi kekeruhan lensa pada mata yang memengaruhi penglihatan. Biasanya disebabkan oleh faktor penuaan dan sangat umum terjadi pada orang tua. Katarak bisa terjadi pada salah satu atau kedua mata.

Katarak tidak menyebar dari satu mata ke mata lain. Seiring dengan bertambahnya usia, protein yang membentuk lensa mata mengumpul dan mengaburkan area lensa hingga membuat seseorang sulit untuk melihat.

Beberapa gejala katarak berupa; warna yang dilihat oleh mata tampak pudar, merasa silau ketika melihat sumber cahaya seperti matahari atau lampu dan muncul lingkaran cahaya. Kemudian, penglihatan malam yang buruk, penglihatan ganda atau banyak gambar dalam satu mata. Gejala ini akan semakin terasa jelas ketika katarak semakin matang.

Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan Indonesia, diperkirakan setiap tahun kasus buta katarak bertambah sebesar 0,1 persen dari jumlah penduduk atau kira – kira 250.000 orang per tahun. Oleh karena itu untuk mengangkat katarak pada mata, pasien dapat melakukan operasi katarak.

Selain disebabkan usia, katarak juga menurut Dokter Rien, bisa disebabkan oleh trauma mata, efek samping obat oral maupun tetes, minus tinggi (di atas 6), kongenital (bawaan bayi lahir).

“Bayi dapat mengalami katarak bawaan lahir atau katarak kongenital. Katarak kongenital pada bayi terjadi ketika lensa mata terhalang oleh noda semacam kabut. Hal ini kemudian menghalangi cahaya yang masuk ke mata. Tidak sekadar mengganggu penglihatan, katarak dapat menyebabkan kebutaan,” tutur Dokter Rein, spesialis mata di KMN EyeCare.