Pak Kumis sang Mafia Narkotika Jaringan Internasional Masih Misterius

JawaPos.com – Kasus yang melibatkan sembilan terpidana mati asal Jatim tersebut bermula pada 22 Maret 2018. Saat itu polisi berhasil membongkar rencana pengiriman narkoba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang.

Barang bukti yang diamankan adalah 3,05 kg sabu-sabu dan 4.950 butir ekstasi. Barang haram tersebut disimpan dalam dua kardus cokelat oleh-oleh bertulisan Lenggok. Akhirnya satu per satu anggota jaringan Letto cs dibekuk jajaran Ditnarkoba Polda Sumsel.

Hasil penelusuran polisi, dalam sekali pergerakan dari Sumatera ke Jawa, kelompok itu bisa membawa sedikitnya 15 kg sabu-sabu. Biasanya diangkut dengan truk yang ditutupi muatan ubi. Letto bersama delapan temannya dikenal sebagai sindikat dan mafia narkotika jaringan internasional. Mereka bergerak di bawah komando seseorang yang biasa disapa Pak Kumis. Hingga kini polisi belum berhasil membekuk Pak Kumis. Otak peredaran narkoba itu masih misterius.


Komplotan Letto mengedarkan narkoba di beberapa daerah, yakni Sumsel, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Banjarmasin. Mereka juga punya hubungan dengan jaringan narkoba di Malaysia.

Dari sisi barang bukti, total narkotika yang disita polisi dari Letto dan teman-temannya cukup banyak, yakni 80 kg sabu-sabu dan 4.950 butir ekstasi. Dari jumlah itu, sebanyak 5,8 kg sabu-sabu diamankan di Surabaya. Dalam persidangan, hakim menyebutkan bahwa terdakwa dan teman-temannya terlibat aktif dalam jaringan narkotika internasional.

Keuntungan berdagang narkotika itu diduga mencapai miliaran rupiah. Letto alias Nazwar yang diduga dedengkot komplotan bahkan memiliki tabungan Rp 6,5 miliar. Itu diketahui ketika polisi membekuknya di sebuah hotel di Jakarta pada 1 Mei 2018.

Letto diketahui merupakan warga Sidoarjo. Dia tinggal di Jalan Zainal Abidin, Waru. Ada seorang lagi yang beralamat di Sidoarjo, yakni Ony Kurniawan. Dia diketahui beralamat di Jalan Jenderal S. Parman Gang VII, Waru. Sedangkan Faiz Rahmana adalah warga Jombang. Dia tinggal di Desa Pulo Kalimalang, Kelurahan Pulo Lor.

Sindikat tersebut sering menghabiskan uangnya untuk foya-foya. Frandika, salah seorang anggota kelompok Pak Kumis, pernah menerima upah Rp 230 juta. Uang itu dia pakai untuk membeli mobil dan handphone. Semua barang yang dibeli para terdakwa kini sudah disita untuk barang bukti sidang kasus TPPU (tindak pidana pencucian uang).

Rustini dan Arif Rahman, penasihat hukum para terdakwa dari Posbakum Sejahtera, mengatakan bahwa klien-klien mereka terpaksa berbisnis narkoba karena terlilit utang.

“Peran mereka hanya mengantarkan dan bukan pemakai,” ucap Rustini kepada Sumatera Ekspres. Dari sembilan terdakwa, hanya Frandika, Faiz, dan Shabda yang tidak terbukti terlibat TPPU. 

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (yun/ce2/c9/oni)