OTT Sisir Bakal Seret Pelaku Lain

Penanganan kasus pungutan liar (pungli) terhadap dua pegawai Kelurahan Sisir bakal menyeret pelaku lain. Sebab, terkuat adanya keterlibatan perangkat kelurahan lainnya dalam persidangan yang digelar di pengadilan tindak pidana korupsi (tipikor). Dua staf honorer Kelurahan Sisir, Lukman Hakim dan Zulham Efendi, menyatakan, adanya aliran ke perangkat lainnya.

KOTA BATU – Penanganan kasus pungutan liar (pungli) terhadap dua pegawai Kelurahan Sisir bakal menyeret pelaku lain. Sebab, terkuat adanya keterlibatan perangkat kelurahan lainnya dalam persidangan yang digelar di pengadilan tindak pidana korupsi (tipikor). Dua staf honorer Kelurahan Sisir, Lukman Hakim dan Zulham Efendi, menyatakan, adanya aliran ke perangkat lainnya.

Lukman maupun Zulham tertangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) oleh tim Saber Pungli (Sapu Bersih Pungutan Liar) Polres Batu, Maret lalu. Mereka diduga melakukan pungli pada masyarakat yang akan mengurus surat tanah/penerbitan akta tanah. Dari tangan Lukman diamankan barang bukti Rp 3 juta. Sementara dari tangan Zulham diamankan Rp 11,2 juta. Sebenarnya, dalam penerbitan akta tanah seharusnya hanya dikenakan biaya 1 persen dari nilai jual objek pajak (NJOP). Namun, mereka menarik biaya lebih dari itu.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Batu Andi Ermawan SH pun membenarkan adanya indikasi keterlibatan pihak lain. Menurut dia, hal itu sebagaimana terkuak dalam persidangan yang sudah digelar sebanyak 7 kali. ”Kalau dari fakta persidangan memang sudah terungkap ada indikasi pelaku lainnya yang menerima uang dari kedua terdakwa,” kata dia.

Kepada siapa? Andi, yang juga jaksa penuntut umum dalam perkara tersebut, menyebutkan, indikasi aliran dana tersebut mengalir ke lurah dan kasi pemerintahan. Saat ini, kedua pihak yang disebut itu tengah berstatus sebagai saksi.

Atas dasar tersebut, menurutnya, tidak menutup kemungkinan setelah sidang putusan akan muncul tersangka-tersangka lain. ”Kita tunggu saja putusan hakim, sekarang ini kurang 3 sampai 4 persidangan lagi. Dari fakta persidangan dan putusan hakim nanti bisa untuk menerbitkan sprindik (surat perintah penyidikan),” tandas Andi.

Menurut dia, setiap perkara bisa saja berkembang sehingga bisa menyeret pihak lain. Hal itu bergantung sepenuhnya dalam fakta persidangan. Terlebih lagi diketahui bahwa kedua terdakwa selama ini memang melakukan pungli sendiri-sendiri. Karena itu, korbannya pun berbeda-beda.

Terkait dengan persidangan, dia menambahkan, sudah menginjak pada tahap sidang tuntutan. Rencananya, Kamis mendatang (12/10) kedua terdakwa menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Surabaya.

Dalam sejumlah rangkaian persidangan itu, diketahui bahwa keduanya memang meminta uang dari masyarakat yang mengurus surat-surat tanah. Warga dimintai uang dari yang terkecil Rp 50 ribu sampai Rp 9 juta.

Praktik tersebut sudah lama dilakoni keduanya. Yakni, sejak 2013 sampai terjaring OTT Maret lalu. Karena itu pula, korbannya amat banyak. Namun, yang dijadikan dasar laporan di kasus ini adalah korban dalam kurun tahun 2015 sampai 2017.

Tercatat, ada 7 korban yang melaporkan ke Polres Batu. Dari 7 korban itu, rinciannya 5 orang korban dari Zulham dan 2 korban lainnya dari Lukman.

Sementara itu, Lurah Sisir DF tidak bisa ditemui. Saat wartawan koran ini mengunjungi kantornya, yang bersangkutan tidak ada. ”Beliau tidak ada di tempat, Mas. Ada agenda di Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo,” kata salah satu staf yang terlihat bingung mencari keberadaan DF.

Saat dicari di kantor Kelurahan Dadaprejo, ternyata tidak ada kegiatan apa-apa di kantor kelurahan tersebut. ”Seharian ini hanya ada agenda senam ibu hamil Mas di sini, selebihnya kok tidak ada agenda selain rutinitas seperti biasanya,” tegas Didik, salah seorang staf.

Tidak berhenti di situ, wartawan koran ini juga mengonfirmasi DF lewat telepon. Sayangnya, meskipun terhubung, yang bersangkutan tidak mengangkatnya. Pesan singkat yang dikirim lewat aplikasi WhatsApp (WA) pun tidak direspons.

Pewarta : Aris Dwi & Ashaq Lupito
Penyunting : Ahmad Yahya
Copy Editor : Indah Setyowati