Ormas Islam Siap Sweeping Prostitusi Online di Kota Beriman

JawaPos.com – Wajar saja jika Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tak menemukan kupu-kupu malam yang menjajakan diri di pinggir jalan, terutama pada bulan suci Ramadan. Apalagi di era media sosial (medsos) seperti sekarang.

Mereka tak lagi turun ke jalan, melainkan menawarkan diri secara online. Salah satu medsos yang dipakai, yakni aplikasi jejaring sosial MiChat.

Media ini mencoba menelusuri kebenaran aktivitas mereka. Via MiChat ini, puluhan wanita menawarkan diri kepada pria hidung belang.

Salah seorang di antaranya bernama Vanesa. Dia menawarkan jasa pemuas nafsu seharga Rp 700 ribu sekali main.



“Rp 700 ribu, tapi room dari Abang ya,” rayu Vanesa, dikutip dari Balikpapan Pos (Jawa Pos Group), Minggu (19/5)

Selain Vanesa, wanita pemuas nafsu lainnya, Mey bahkan tak masalah saat disinggung praktik esek-eseknya pada bulan Ramadan. Mey mengaku tetap melayani pria hidung belang yang membutuhkan jasanya.

“Ya, bisalah, kenapa enggak. Tapi saya ladies panggilan, nggak stay di room. Jadi, aku yang tinggalin kamu,” ujar Mey.

Di antara para ladies yang melakukan praktik prostitusi, ada yang menyiapkan kamar sendiri untuk aktivitas esek-eseknya. Bahkan, sebagian di antaranya berdiam di hotel berbintang. Tentu saja harga yang didapat juga tidak murah.

“Saya stay di hotel. Open Rp 1 juta, nego. Kalau deal ke sini aja. Nggak sesuai foto bisa di-cancel,” seloroh Ira, sambil membeberkan hotel tempatnya menginap, di kawasan Jalan Jenderal Sudirman.

Jasa esek-esek mereka pun tak mengenal waktu. Para ladies ini mengaku dirinya tidak berpuasa dan bisa digoyang kapan saja. “Habis buka juga nggak apa-apa,” tuturnya.

JUAL DIRI: Profil dan kutipan percakapan transaksi esek-esek via MiChat.

ORMAS ISLAM BERGERAK

Maraknya prostitusi online pada bulan Ramadan secara online mendapat respons ormas Islam. Ketua GNPF Balikpapan, Abdul Rais mengatakan, perbuatan prostitusi itu sangat dikecam agama Islam, apalagi dilakukan pada bulan Ramadan. Menurut Rais, para wanita pemuas nafsu ini seolah mencoreng bulan suci ini.

“Sebenarnya yang dilakukan mereka itu individu, cuma ya tetap saja tidak dibenarkan. Seharusnya pada bulan ini perbanyak amal ibadah, bukannya malah menambah kemaksiatan,” kesal Rais.

Bahkan, slogan Kota Beriman seolah tak berarti dengan adanya aktivitas jasa esek-esek ini. Rais mengatakan, pemerintah harusnya tidak tinggal diam dan segera melakukan pencegahan.

“Kalau masih ada, ya, pastinya slogan Madinatul Iman itu tidak tepat sebenarnya. Ini pun harus ada tindakan tegas dari pemerintah. Kan kita sudah punya Perda untuk menindaknya. Instansi atau dinas terkait juga harus menyikapi hal ini, jangan diam saja,” terangnya.

Rais mengatakan, ormas Islam siap melakukan sweeping bersama aparat kepolisian dan Satpol PP untuk menindaklanjuti masalah prostitusi tersebut. Tentu dengan mengutamakan kondusivitas kota dan keamanan warga sekitar.

“Ya, kalau memang sudah seperti itu, kami harap polisi lakukan sweeping. Kalau sweeping kami sih sangat siap turun. Kami siap dampingi teman-teman kepolisian. Permasalahan ini memang harus butuh penindakan,” pungkas dia.