Organisasinya Dilarang Soekarno, Pengikut Freemason Ternyata Pernah Tinggal di Malang

MALANG KOTA – Freemason barangkali menjadi salah satu organisasi yang paling sering digunjingkan di dunia. Bahkan, keberadaannya kerap kali dikait-kaitkan dengan iluminati.

Pada 1962, Presiden Soekarno menetapkan Freemason sebagai organisasi terlarang. Sebelum kemudian dicabut di zaman Presiden Gus Dur.

Ketika masih eksis, sejumlah pengikut Freemason rupanya pernah tinggal di Kota Malang. Itu dibuktikan dengan keberadaan makam-makam pengikut Freemason di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Nasrani Sukun.

Makam pengikut freemason berbeda dari makam lainnya. Pada bagian nisannya terukir simbol freemason : berupa jangka dan mistar yang saling berhadapan.

“Ada 2 yang ketemu (makam), tapi sumber lain mengatakan banyak,” tukas Taqruni Akbar, Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) TPU (Tempat Pemakaman Umum) Disperkim (Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman) Kota Malang, Jumat, (13/12).

Taqruni mengaku pihaknya sedang menggali data itu. Sementara ini, dua yang ketemu adalah makam P.A A F Eyken dan Pieter A Allaries. Makam keduanya ada di komplek pemakaman umum seluas 12 hektar yang sudah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya oleh Pemkot Malang itu.

“Kita ketahui soalnya di nisannya itu ada logo Freemason. Sementara tulisan hier rust itu bahasa Belanda artinya beristirahat atau terbaring disini atau Here Lies dalam bahasa inggris,” terang Hariani, Staf UPT TPU Nasrani Sukun bagian pengelolaan wisata, Jumat, (13/12).

Keduanya disebut masuk dalam organisasi Freemasonry. P.A A F Eyken diketahui adalah seorang Belanda, yang lahir di Kediri tahun 1868 dan meninggal di Pujon tahun 1934. 66 tahun ia hidup di dunia.

“Eyken ini dokter yang berjasa pada Kota Malang, walau dia anggota Freemason tapi beliau berjasa menangani wabah pes di Malang kala itu,” urai Hariani.

Makam Eyken lumayan masuk ke dalam. Pusaranya berdampingan dengan sang istri. Namun, nama sang istri tak dapat diketahui, karena tak terdeteksi karena buruknya makam terkikis waktu.

Di sana hanya ada lambang berbentuk daun akasia. Salah satu simbol yang sering dikaitkan sebagai kalangan Freemensonry.

Diketahui dari makam yang dibangun leluhur Eyken itu, ia adalah pensiunan direktur pengarah pada apotik militer dan mantan direktur pada De Voskapotheek di Kota Praja Malang.

Dia adalah seorang dokter, yang berfokus pada masalah farmasi. Atau bisa dibilang apoteker. Gelarnya sendiri Dr atau dokter. Eyken punya riwayat kerja sebagai apoteker pada Rumah Sakit Militer di Malang.

Selain Eyken, Pieter A Allaries juga disebut sebagai pengikut Freemason yang pusaranya ada di Kuburan Londo. Hanya saja, Hariani mengaku kesulitan mengupas lebih dalam sejarahnya karena minim informasi di nisan.

“Hanya ada nama dan tanggal lahir dan kematiannya saja. Sementara dua itu, ada satu lagi pernah saya temukan, tapi belum jelas namanya,” tutupnya.

Adanya makam pengikut Eyken dan Pieter ini sekaligus menegaskan adanya anggota Frermasonry yang hadir dan tinggal di Malang Raya era penjajahan Hindia-Belanda. Anggota Freemasonry terlihat berasal dari kalangan professional pada zamanannya. Seperti Eyken, yang kala itu adalah seorang dokter farmasi.

Pemakaman umum yang dulu dikenal dengan nama Europese Begraafplaats Soekoen te Malang (Kuburan Orang Eropa di Sukun Nasrani) ini sendiri memang dibangun pada Masa Bouwplant III di bawah Pemerintahan H I Bussemaker I (Walikota Malang I tahun 1919-1929).

Pewarta: Elfran Vido
Foto: Elfran Vido
Editor : Indra M