Optimistis Capai 5,2 Persen

JawaPos.com – Performa ekonomi RI pada kuartal pertama lalu tidak sesuai harapan. Namun, pemerintah tetap optimistis target pertumbuhan ekonomi tahun ini tercapai. Belakangan, sejumlah indikator menunjukkan tren positif. Pemerintah yakin kinerja perekonomian pada kuartal kedua tahun ini meningkat sehingga target pertumbuhan 5,2 persen akan tercapai.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut panen raya sebagai salah satu indikator yang membuatnya optimistis mengenai pertumbuhan ekonomi. Tahun ini panen raya terjadi pada awal kuartal kedua. Sementara itu, tahun lalu panen raya terjadi pada kuartal pertama. “Arah pertumbuhan ekonomi akan baik pada kuartal kedua,” ujar pria 70 tahun itu saat dijumpai di rumahnya Rabu (5/6).

Selain dampak positif pemilu yang berjalan lancar, momen Ramadan dan Lebaran menjadi faktor penunjang tumbuhnya perekonomian. Sebab, pada Ramadan dan Lebaran, tingkat konsumsi masyarakat meningkat pesat. Bukan hanya pada lingkup korporat, melainkan juga rumah tangga.

“Mungkin pengeluaran konsumtif kita tidak sebagus tahun lalu. Tapi, paling tidak kita bisa mengharapkan pengeluaran dari LNPRT (lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga) meski tidak banyak,” terang Darmin. Karena itu, pemerintah yakin perekonomian RI masih akan tumbuh.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Hendra Eka/Jawa Pos)

Pendapat senada dipaparkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Dia optimistis laju pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal kedua lebih cepat. Sama seperti Darmin, dia menyebut Ramadan dan Lebaran sebagai salah satu faktor pendongkrak ekonomi domestik. Terutama dari sisi konsumsi rumah tangga. “Kami tentu berharap momen ini bisa dimanfaatkan,” katanya kepada wartawan di rumah dinasnya.

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu menambahkan, mudik kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyaknya tol terbukti mampu mengurai kemacetan yang biasanya menjadi problem utama saat mudik. Karena bebas macet, sebagian besar pemudik memilih jalur darat. Dampaknya, kota-kota tujuan mereka menjadi objek konsumsi masyarakat.

“Spillover-nya (dampak) kepada ekonomi di setiap kota tujuan (pemudik). Sebab, mereka jadi punya cukup waktu untuk membelanjakan uangnya sambil bersilaturahmi,” jelas Ani. Puncak aktivitas konsumsi masyarakat itu, menurut dia, akan menimbulkan denyut ekonomi.

Namun, kinerja ekspor dan impor memang masih harus diperbaiki guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Tinggal kita mampu tidak menumbuhkan investasi ketika competitiveness (daya saing) bagus,” kata Darmin. Jika investasi bagus, imbuh dia, impor bisa berkurang.

Menurut Ani, laju ekonomi pada kuartal kedua berpotensi terhambat ekspor dan investasi. Sebab, dua komponen tersebut sangat bergantung pada situasi global. Sementara itu, situasi global masih tidak pasti setelah memanasnya perang dagang AS dan Tiongkok. “Kita juga waspada dari sisi korporasi karena banyaknya tekanan global. Apakah itu export oriented maupun sentimen investasi. Tapi, kita nggak boleh give up sampai finish line,” tandasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (vir/ken/c12/hep)