OPPO

Oleh Kurniawan Muhammad
Direktur Jawa Pos Radar Malang

Saya termasuk yang tertarik dengan fenomena melejitnya handphone merek Oppo. Ekspansi pasarnya sangat agresif. Tak hanya di kota-kota besar. Tapi juga di pelosok-pelosok desa. Saya sering menjumpai di pelosok desa, jika pun ada kios handphone, merek yang dipasang di papan kios itu adalah Oppo. Selain agresif berekspansi, Oppo juga sangat gencar berpromosi. Tak tanggung-tanggung, selebriti top tanah air dijadikan brand ambassador-nya. Sebut saja: Isyana Sarasvati, Raisa, Chelsea Islan, Vanesha Prescilla, dan Raline Shah.

Karena itu, tak mengherankan, jika pada 2017, Oppo berada di peringkat ke-4 sebagai merek paling laris di Indonesia. Dalam waktu relatif singkat. Menjelang Lebaran tahun ini, Oppo mencatat rekor tersendiri. Yakni dalam 12 hari (15–27 Mei 2019) angka penjualannya meningkat 30 persen. Saat itu, seri F terbaru, F11 yang menjadi perangkat paling banyak dibeli (CNBC Indonesia).

Di Thailand, Oppo dikabarkan telah menyalip Samsung. Dan menjadi vendor smartphone nomor satu di Thailand. Ini berdasarkan data dari Canalys pada kuartal IV tahun 2018.

Agresif berekspansi dan gencar berpromosi. Hanya inikah yang membuat Oppo sukses di pasaran? Ternyata tak hanya itu. Saya bertanya ke para owner outlet yang menjual handphone di Malang. Salah satunya Hamid, pemilik outlet Ali Baba. Dia punya kesan tersendiri dengan Oppo. ”Hubungan saya dengan bos-bosnya Oppo bukan semata-mata hubungan bisnis. Tapi, lebih pada hubungan kekeluargaan. Mereka sangat mengeluarga,” cerita Hamid, pemilik sedikitnya 30 outlet Ali Baba di Jawa Timur ini.

Bagi Hamid, Oppo punya cara yang berbeda dalam memasarkan produk-produknya. Dia mengatakan, Oppo-lah yang memelopori ”menjual handphone dengan satu harga”. ”Oppo punya aturan yang sangat ketat, dealer yang harus ikut aturan dari Oppo. Jadi, membeli Oppo di mana pun, di Jawa di Papua, bahkan di China, harganya sama,” jelasnya. ”Jadi, kita berbisnis dengan Oppo pasti untung,” lanjutnya. Cara Oppo, kata Hamid, saat ini mulai diikuti merek handphone lain.

Bagi Hamid, yang sudah belasan tahun berkutat dengan dunia handphone atau smartphone, Oppo sangat konsisten dengan ciri khasnya, yakni hanya memproduksi kamera phone. Jadi, sebanyak apa pun variannya, jenisnya tetap sama, yakni kamera phone.

Suatu ketika saya berkenalan dengan Wei Bao Qian. Umurnya sekitar 32 tahun. Masih muda. Dia asli Tiongkok. Tepatnya dari Provinsi Sichuan. Dia adalah pimpinan Oppo yang membawahi daerah Malang Raya, Blitar hingga Pasuruan. Karena sudah lima tahun bertugas di sini, maka dia pun sudah fasih berbahasa Indonesia. Bao Qian sangat ramah. Dia orang yang cepat akrab. Juga mengeluarga, seperti disebutkan Hamid. Ketika Radar Malang berulang tahun Mei lalu, Bao Qian datang untuk memberikan selamat. Bahkan, dia satu-satunya perwakilan dari merek handphone yang datang. Bao Qian tak sulit juga ketika diajak negosiasi.

Menurut Hamid, para manajer, atau pimpinan Oppo, mulai dari jajaran middle manager hingga top manager, semuanya ramah seperti si Bao Qian. Intinya, mereka sangat menghargai dealer, penjual, dan konsumen. Bahkan, hubungan dengan media, juga sangat dijaga keakrabannya.

Jadi, selain gencar berekspansi dan berpromosi, Oppo juga sangat kuat tradisi perusahaannya dalam menjaga hubungan baik dengan semua jaringan di bawahnya, mulai dari agen, dealer, outlet, konsumen hingga stakeholder lain, termasuk media massa. Prinsip-prinsip menghargai dan menghormati, dalam budaya perusahaan Oppo disebut dengan ben fen. Saya sempat bertanya kepada Bao Qian, apa arti dari budaya ben fen. Dia mengatakan, prinsipnya ben fen adalah mengejar kesempurnaan.

Selain itu, Oppo juga benar-benar menjaga regulasinya dalam hal harga, sehingga harga Oppo konsisten, dari pucuk ke pucuk. Oppo juga cukup kuat menjaga trade mark-nya sebagai kamera phone. Selain konsisten dengan trade mark kamera phone, Oppo juga sangat dinamis dengan varian-variannya. Sebut saja antara lain: Oppo Realme C2, Oppo A1K, Oppo A5s, Oppo Reno, Oppo Reno 10xZoom, Oppo Realme 3 Pro, Oppo F11 Pro, Oppo Realme 3 dan Oppo Realme C1. Masih ada lagi: Oppo Realme U1, Oppo Realme U1, Oppo Realme 2, Oppo Realme 2 Pro, Oppo A7, Oppo R 17 Pro, Oppo R17, dan Oppo F9 Pro.

Nah, kita bisa belajar dari Oppo. Bagi saya, Oppo adalah wujud dari totalitas dalam berproses. Proses tidak akan pernah mengkhianati hasil. Jika prosesnya total, maka hasilnya pasti akan memuaskan. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/ IG: kum_jp)