25.9 C
Malang
Rabu, Februari 28, 2024

Pudarnya Wisata Kuliner Payung

 

Wisata kuliner Payung pada tahun 1990-an hingga awal 2000-an sempat menjadi salah satu destinasi favorit bagi para wisatawan yang ingin menyantap menu sambil menikmati sejuknya hawa pegunungan. Bahkan, rasanya belum lengkap berwisata ke Batu jika tidak mampir ke wisata kuliner Payung.

Banyak muda-mudi kala itu yang menjadikan Payung sebagai salah satu jujukan untuk nge-date. Mereka datang berbondong-bondong dari Malang dan sekitarnya. Namun, kini kisah kejayaan wisata kuliner Payung tinggal kenangan. Tidak ada lagi hiruk pikuk di kawasan tersebut. Bahkan sejumlah warung yang ada di pinggir jalan tepi jurang itu sekarang banyak yang tutup. Kalau toh ada yang buka pengunjung ya sepi, sehingga penjualnya mengkis-mengkis karena minimnya pemasukan.

Keluhan sepinya pengunjung sudah berkali-kali disampaikan pedagang sebagaimana ditulis koran ini beberapa kali. Wisata kuliner Payung seakan tergusur dengan hadirnya banyak wisata kuliner yang kekinian. Berwisata ke Payung sama sekali tidak ada pride-nya, bahkan ada kesan ndeso wal kuno. Tidak ada cerita menarik yang bisa diceritakan dan dikenang oleh wisatawan.

Pudarnya pesona wisata kuliner Payung ini dipengaruhi banyak faktor. Yang paling kentara adalah tidak adanya upgrade dari penampilan warung-warung yang ada. Sejak dahulu kala ya begitu-begitu saja. Hal ini wajar terjadi karena rata-rata pengelola warung di Payung adalah orang-orang lawas dengan modal yang terbatas.

Sehingga, untuk meng-upgrade penampilan warungnya agar kekinian mereka juga tidak punya banyak referensi, apalagi biaya. Kebutuhan modal yang tidak sedikit menjadikan mereka memilih jalan di tempat. Buka dengan menu seadanya dan penampilan warung seadanya pula.

Baca Juga:  Wuss! Hingga Semalam 12 Rumah Tertimpa Pohon Akibat Angin Puyuh

Faktor berikutnya, bisa jadi karena selama ini ada sejumlah pengunjung yang merasa digepuk harga oleh penjual di kawasan Payung. Cerita soal aksi nakal para penjual di Payung zaman dulu itu sudah berkali-kali didengar oleh penulis, dan rupanya sudah menjadi rahasia umum. Bukan dari satu orang tetapi dari beberapa orang yang menceritakan pengalaman tidak menyenangkan selama ngandok di warung di kawasan Payung itu.

Lalu, apakah benar dua faktor tersebut yang menyebabkan kawasan wisata kuliner Payung redup. Coba kita cocokkan dengan teori marketing dalam membangun dan mempertahankan sebuah usaha. Dilansir dari entrepreneurcamp.id setidaknya ada sembilan hal yang harus dilakukan agar sebuah usaha termasuk usaha kuliner bisa bertahan di era yang serba digital saat ini. Yaitu (1) melakukan analisa bisnis dan observasi pasar (2) Melakukan perubahan dan inovasi (3) Mengikuti komunitas pebisnis (4) Manfaatkan media sosial (5) Mengikuti tren pasar (6) Pengamatan, tiru, lalu modifikasi (7) Bangun pasar bisnis kamu sendiri (8). Berikan harga yang tepat dalam produk (9) Terus belajar dan pantang menyerah.

Nah, sangat mungkin dari 9 poin di atas ada yang sudah dilakukan oleh para pemilik warung di Payung. Tetapi penulis juga yakin ada yang tidak dilakukan. Dan yang tidak dilakukan itu yang paling mencolok adalah pada poin nomor dua, yaitu melakukan perubahan dan inovasi. Yang mana, selama ini penampilan warung-warung di Payung nyaris tidak berubah. Termasuk pada poin ke empat yaitu memanfaatkan media sosial. Selama ini penulis belum pernah melihat promosi warung di Payung lewat di beranda Facebook, Twitter, Youtube maupun TikTok. Padahal media-media sosial itu sangat dahsyat untuk promosi kuliner.

Baca Juga:  Mentik dan Anak-Anak itu….

Banyak sekali tempat kuliner baru di Malang Raya yang dalam waktu singkat ramai dikunjungi pembeli setelah pengelola mempromosikan di sejumlah platform media sosial. Meskipun dari yang ramai mendadak itu ada yang bertahan lama ada yang hanya berlangsung beberapa saat saja kemudian sepi. Tapi setidaknya, dengan mempromosikan di media sosial akan dikenal banyak orang.

Memang untuk promosi di media sosial harus ada sesuatu yang diandalkan. Misalnya, kalau usaha kuliner, maka menunya harus beda dan tentunya rasanya harus sesuai dengan selera pasar. Jika menunya biasa-biasa saja, maka bisa saja yang dipromosikan adalah suasananya. Misal pemandangan alam yang indah, hawa yang sejuk dan sebagainya. Bisa juga lahan parkir yang luas dan pelayanan yang baik. Intinya harus ada produk unggulan yang bisa ditawarkan kepada para calon pelanggan.

Selain itu, tunjukkan harga yang jelas di setiap menunya. Awas, jangan sampai nge-prank pelanggan di zaman medsos seperti saat ini. Karena jika ada pelanggan yang kecewa, lalu mem-posting kekecewaannya di media sosial, dijamin usaha anda akan kena mental dan sepi mendadak. Ini peringatan bukan hanya untuk pengelola warung di kawasan Payung, tetapi untuk semua pengusaha utamanya kuliner di Kota Batu. Jangan sampai ada kasus nggepuk harga jika tidak ingin usaha anda tutup.

Semoga para pemilik warung Payung segera bisa berbenah menjadi lebih baik dalam segala hal. Sehingga mampu membangkitkan lagi kejayaan wisata kuliner Payung seperti dulu. (*)

 

Wisata kuliner Payung pada tahun 1990-an hingga awal 2000-an sempat menjadi salah satu destinasi favorit bagi para wisatawan yang ingin menyantap menu sambil menikmati sejuknya hawa pegunungan. Bahkan, rasanya belum lengkap berwisata ke Batu jika tidak mampir ke wisata kuliner Payung.

Banyak muda-mudi kala itu yang menjadikan Payung sebagai salah satu jujukan untuk nge-date. Mereka datang berbondong-bondong dari Malang dan sekitarnya. Namun, kini kisah kejayaan wisata kuliner Payung tinggal kenangan. Tidak ada lagi hiruk pikuk di kawasan tersebut. Bahkan sejumlah warung yang ada di pinggir jalan tepi jurang itu sekarang banyak yang tutup. Kalau toh ada yang buka pengunjung ya sepi, sehingga penjualnya mengkis-mengkis karena minimnya pemasukan.

Keluhan sepinya pengunjung sudah berkali-kali disampaikan pedagang sebagaimana ditulis koran ini beberapa kali. Wisata kuliner Payung seakan tergusur dengan hadirnya banyak wisata kuliner yang kekinian. Berwisata ke Payung sama sekali tidak ada pride-nya, bahkan ada kesan ndeso wal kuno. Tidak ada cerita menarik yang bisa diceritakan dan dikenang oleh wisatawan.

Pudarnya pesona wisata kuliner Payung ini dipengaruhi banyak faktor. Yang paling kentara adalah tidak adanya upgrade dari penampilan warung-warung yang ada. Sejak dahulu kala ya begitu-begitu saja. Hal ini wajar terjadi karena rata-rata pengelola warung di Payung adalah orang-orang lawas dengan modal yang terbatas.

Sehingga, untuk meng-upgrade penampilan warungnya agar kekinian mereka juga tidak punya banyak referensi, apalagi biaya. Kebutuhan modal yang tidak sedikit menjadikan mereka memilih jalan di tempat. Buka dengan menu seadanya dan penampilan warung seadanya pula.

Baca Juga:  Mentik dan Anak-Anak itu….

Faktor berikutnya, bisa jadi karena selama ini ada sejumlah pengunjung yang merasa digepuk harga oleh penjual di kawasan Payung. Cerita soal aksi nakal para penjual di Payung zaman dulu itu sudah berkali-kali didengar oleh penulis, dan rupanya sudah menjadi rahasia umum. Bukan dari satu orang tetapi dari beberapa orang yang menceritakan pengalaman tidak menyenangkan selama ngandok di warung di kawasan Payung itu.

Lalu, apakah benar dua faktor tersebut yang menyebabkan kawasan wisata kuliner Payung redup. Coba kita cocokkan dengan teori marketing dalam membangun dan mempertahankan sebuah usaha. Dilansir dari entrepreneurcamp.id setidaknya ada sembilan hal yang harus dilakukan agar sebuah usaha termasuk usaha kuliner bisa bertahan di era yang serba digital saat ini. Yaitu (1) melakukan analisa bisnis dan observasi pasar (2) Melakukan perubahan dan inovasi (3) Mengikuti komunitas pebisnis (4) Manfaatkan media sosial (5) Mengikuti tren pasar (6) Pengamatan, tiru, lalu modifikasi (7) Bangun pasar bisnis kamu sendiri (8). Berikan harga yang tepat dalam produk (9) Terus belajar dan pantang menyerah.

Nah, sangat mungkin dari 9 poin di atas ada yang sudah dilakukan oleh para pemilik warung di Payung. Tetapi penulis juga yakin ada yang tidak dilakukan. Dan yang tidak dilakukan itu yang paling mencolok adalah pada poin nomor dua, yaitu melakukan perubahan dan inovasi. Yang mana, selama ini penampilan warung-warung di Payung nyaris tidak berubah. Termasuk pada poin ke empat yaitu memanfaatkan media sosial. Selama ini penulis belum pernah melihat promosi warung di Payung lewat di beranda Facebook, Twitter, Youtube maupun TikTok. Padahal media-media sosial itu sangat dahsyat untuk promosi kuliner.

Baca Juga:  Miran

Banyak sekali tempat kuliner baru di Malang Raya yang dalam waktu singkat ramai dikunjungi pembeli setelah pengelola mempromosikan di sejumlah platform media sosial. Meskipun dari yang ramai mendadak itu ada yang bertahan lama ada yang hanya berlangsung beberapa saat saja kemudian sepi. Tapi setidaknya, dengan mempromosikan di media sosial akan dikenal banyak orang.

Memang untuk promosi di media sosial harus ada sesuatu yang diandalkan. Misalnya, kalau usaha kuliner, maka menunya harus beda dan tentunya rasanya harus sesuai dengan selera pasar. Jika menunya biasa-biasa saja, maka bisa saja yang dipromosikan adalah suasananya. Misal pemandangan alam yang indah, hawa yang sejuk dan sebagainya. Bisa juga lahan parkir yang luas dan pelayanan yang baik. Intinya harus ada produk unggulan yang bisa ditawarkan kepada para calon pelanggan.

Selain itu, tunjukkan harga yang jelas di setiap menunya. Awas, jangan sampai nge-prank pelanggan di zaman medsos seperti saat ini. Karena jika ada pelanggan yang kecewa, lalu mem-posting kekecewaannya di media sosial, dijamin usaha anda akan kena mental dan sepi mendadak. Ini peringatan bukan hanya untuk pengelola warung di kawasan Payung, tetapi untuk semua pengusaha utamanya kuliner di Kota Batu. Jangan sampai ada kasus nggepuk harga jika tidak ingin usaha anda tutup.

Semoga para pemilik warung Payung segera bisa berbenah menjadi lebih baik dalam segala hal. Sehingga mampu membangkitkan lagi kejayaan wisata kuliner Payung seperti dulu. (*)

Artikel Terkait

Kepincangan Layanan Pendidikan

ChatGPT, I, Robot dan Anak Cak Nun

Jaring Pengaman Antibunuh Diri

Bayi, Lansia, dan Pejabat

Terpopuler

Artikel Terbaru

/