27.1 C
Malang
Selasa, April 9, 2024

”Ayat-Ayat” Pandemi sejak Tahun 541 M

SEBETULNYA tidak ada yang baru dari fenomena pandemi penyakit menular yang saat ini terjadi. Sejak ribuan tahun lalu, sudah ada pandemi yang menyerang secara global dan merenggut banyak nyawa. Berikut ini adalah beberapa pandemi yang pernah terjadi, sengaja saya rangkum melalui tulisan ini agar kita bisa membanding-bandingkan antara peristiwa yang satu dengan lainnya.

Pertama, wabah Justinian. Pandemi ini terjadi antara tahun 541 M–549 M. Dinamakan Justinian karena mengambil nama dari salah satu Kaisar Bizantium Justinian I yang terjangkit wabah tersebut, namun berhasil sembuh. Wabah ini dipercaya disebarkan oleh hewan pengerat melalui kutu yang mengandung bakteri Yersinia pestis. Hewan ini terbawa di atas kapal dan kereta pengangkut gandum.

Konstantinopel (saat ini Istanbul, Turki) adalah kota yang sangat terdampak wabah Justinian. Maklum, kota itu adalah pusat perdagangan dan politik di era kekaisaran Bizantium. Menurut sejarah kuno, pandemi Justinian yang disebabkan wabah bubonic itu merenggut nyawa 10 ribu orang per hari.

Tak hanya Konstantinopel yang kena. Wabah Justinian ini menyebar ke kawasan lain melalui peperangan dan perdagangan. Dan ironisnya, wabah ini muncul setiap 12 tahun hingga tahun 750 M, hingga merenggut nyawa setengah populasi penduduk Eropa (30 juta–50 juta jiwa).

Kedua, Black Death. Wabah yang terjadi antara tahun 1346–1353 M ini sangat berdampak di Eropa, Afrika, dan Asia. Angka kematiannya pun mencapai 75 juta–200 juta jiwa. Kala itu, wabah ini disebut sebagai wabah penyakit yang paling mematikan yang pernah ada dalam sejarah.

Seperti halnya wabah Justinian, wabah Black Death ini juga disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis melalui hewan pengerat. Kapal yang membawa hewan inilah yang menyebabkan penularan bisa terjadi antarbenua.

Wabah ini disebut Black Death karena orang yang terkena Black Death meninggalkan bekas hitam pada kulitnya.

Ketiga, pandemi Kolera Ketiga. Berdasarkan data dari WHO, terdapat tujuh wabah kolera yang pernah terjadi. Salah satunya yang mempunyai dampak global adalah kolera yang ketiga di tahun 1852 M. Dan berlangsung hingga 1860.  Wabah ini ditengarai berasal dari India, sebelum menyebar ke seluruh bagian Asia dan Eropa, Amerika Utara, dan Afrika.

Baca Juga:  Improvisasi

Kolera disebarkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae. Bakteri ini dapat menyebabkan diare akut dan dapat merenggut nyawa penderitanya dalam hitungan jam jika tak diobati. Kala itu merenggut nyawa sekitar 1 juta jiwa.

Keempat, Wabah Flu. Wabah yang terjadi antara tahun 1889–1890 ini disebabkan Influenza A sub tipe H3N8. Wabah ini saat itu dianggap sebagai pandemi terbesar yang terjadi di akhir abad 19. Jenis influenza ini dikenal sebagai Asiatic Flu atau Russian Flu, karena wabah ini berasal dari Asia Tengah di kerajaan Rusia.

Pandemi menyebar sangat cepat melalui keberadaan jenis transportasi modern, seperti kereta api dan perahu. Hanya dalam waktu empat bulan, wabah ini menyebar di seluruh bumi, dan memuncak di Amerika 70 hari setelah angka terbanyak di St Petersburg. Angka kematian kala itu mencapai sekitar 1 juta jiwa.

Kelima, Pandemi Flu. Kasus pertama wabah influenza jenis ini pertama kali diidentifikasi di musim semi tahun 1918 pada tentara-tentara Amerika ketika Perang Dunia I, sebelum akhirnya menyebar di seluruh dunia dan menginfeksi setidaknya sepertiga dari populasi di dunia. Meskipun angka kematian masih belum diketahui secara pasti, banyak sumber menyebutkan lebih dari 50 juta meninggal dan bahkan dikatakan mencapai 100 juta orang. Angka ini membuat pandemi yang disebabkan Influenza H1N1 ini dianggap sebagai pandemi yang paling mematikan sejak wabah Black Death.

Di Amerika, wabah ini disebut sebagai flu Spanyol meskipun para ilmuwan tidak dapat mengidentifikasi asal pandemi ini. Namun, kasus-kasus terkait pandemi ini banyak dilaporkan di Spanyol, sebuah negara yang tidak terlibat dalam Perang Dunia I. Karena itu, berita tersebut tak ditutup-tutupi karena dianggap tidak mengandung informasi terkait permasalahan perang, sehingga menimbulkan dugaan seolah-olah wabah tersebut berasal dari Spanyol. Jadi, ada unsur ”politis”-nya.

Tanpa ada vaksin, pandemi ini mempunyai dua gelombang. Gelombang pertama lebih ringan dibandingkan gelombang kedua. Tentara yang kembali ke negaranya merupakan media pembawa gelombang kedua. Masyarakat pun melakukan karantina. Mengimbau pemakaian masker dan melarang segala bentuk perkumpulan guna melawan pandemi.

Baca Juga:  Umpan Sinergi 3 Kepala Daerah

Keenam, Flu Asia. Kasus pertama Flu Asia teridentifikasi di China tahun 1956. Wabah yang disebabkan Influenza A sub tipe H2N2 ini menjalar hingga Singapura, Hongkong, dan Amerika. Dilaporkan juga bahwa penyebaran wabah hingga mencapai India di tahun 1957. Gejala-gejala seperti kaki yang lemah, kedinginan, sakit tenggorokan, hidung berair, dan batuk muncul persis setelah terjangkit virus.

Ketujuh, Pandemi Flu Hongkong. Kasusnya pertama kali dilaporkan pada Juli 1968 di Hongkong. Wabah terjadi di Singapura dan Vietnam. Dan dalam 12 minggu, wabah menyebar ke belahan dunia lainnya, termasuk Afrika dan Amerika Selatan. Di Amerika diperkirakan terdapat 100 ribu orang meninggal dunia karena wabah ini.

Penyebab dari Flu Hongkong ini adalah Influenza A H3N2 sub tipe H2N2. Mutasi Flu Asia di tahun 1956 diperkirakan merupakan pemciu munculnya jenis H3N2 dalam sebuah proses yang dikenal dengan antigenic shift (pergeseran antigenik) di mana virus bermutasi.

Angka kematian, dilaporkan kala itu, sangat jauh lebih rendah daripada wabah-wabah influenza sebelumnya dengan tingkat fatalitas kasus di bawah 0,5 persen. Terdapat kemungkinan bahwa mereka yang terpapar pandemi sebelumnya menjadi kebal terhadap virus ini.

Itulah di antara pandemi yang pernah terjadi secara global. Bagi kita yang beriman, haruslah meyakini, bahwa terjadinya pandemi-pandemi itu merupakan ayat-ayat dari Tuhan yang sengaja diturunkan kepada umat manusia agar dijadikan sebagai media pembelajaran dan media perenungan.

Sebagai media pembelajaran, manusia disuruh belajar dari fenomena alam. Disuruh mengeksplorasi kemampuan akalnya untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi. Sebagai media perenungan, manusia disuruh menggunakan kepekaan hatinya untuk mau introspeksi terhadap berbagai kesalahan atau kezaliman yang pernah dilakukannya. Sehingga selanjutnya menjadi manusia yang lebih baik. Jadi, Tuhan menciptakan pandemi, sepertinya memang untuk memaksa manusia untuk jeda. Dan memaksa manusia agar mau berubah menjadi lebih baik. Maka, sudahkah kita berubah menjadi lebih baik, selama enam bulan diserang pandemi Covid-19? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

SEBETULNYA tidak ada yang baru dari fenomena pandemi penyakit menular yang saat ini terjadi. Sejak ribuan tahun lalu, sudah ada pandemi yang menyerang secara global dan merenggut banyak nyawa. Berikut ini adalah beberapa pandemi yang pernah terjadi, sengaja saya rangkum melalui tulisan ini agar kita bisa membanding-bandingkan antara peristiwa yang satu dengan lainnya.

Pertama, wabah Justinian. Pandemi ini terjadi antara tahun 541 M–549 M. Dinamakan Justinian karena mengambil nama dari salah satu Kaisar Bizantium Justinian I yang terjangkit wabah tersebut, namun berhasil sembuh. Wabah ini dipercaya disebarkan oleh hewan pengerat melalui kutu yang mengandung bakteri Yersinia pestis. Hewan ini terbawa di atas kapal dan kereta pengangkut gandum.

Konstantinopel (saat ini Istanbul, Turki) adalah kota yang sangat terdampak wabah Justinian. Maklum, kota itu adalah pusat perdagangan dan politik di era kekaisaran Bizantium. Menurut sejarah kuno, pandemi Justinian yang disebabkan wabah bubonic itu merenggut nyawa 10 ribu orang per hari.

Tak hanya Konstantinopel yang kena. Wabah Justinian ini menyebar ke kawasan lain melalui peperangan dan perdagangan. Dan ironisnya, wabah ini muncul setiap 12 tahun hingga tahun 750 M, hingga merenggut nyawa setengah populasi penduduk Eropa (30 juta–50 juta jiwa).

Kedua, Black Death. Wabah yang terjadi antara tahun 1346–1353 M ini sangat berdampak di Eropa, Afrika, dan Asia. Angka kematiannya pun mencapai 75 juta–200 juta jiwa. Kala itu, wabah ini disebut sebagai wabah penyakit yang paling mematikan yang pernah ada dalam sejarah.

Seperti halnya wabah Justinian, wabah Black Death ini juga disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis melalui hewan pengerat. Kapal yang membawa hewan inilah yang menyebabkan penularan bisa terjadi antarbenua.

Wabah ini disebut Black Death karena orang yang terkena Black Death meninggalkan bekas hitam pada kulitnya.

Ketiga, pandemi Kolera Ketiga. Berdasarkan data dari WHO, terdapat tujuh wabah kolera yang pernah terjadi. Salah satunya yang mempunyai dampak global adalah kolera yang ketiga di tahun 1852 M. Dan berlangsung hingga 1860.  Wabah ini ditengarai berasal dari India, sebelum menyebar ke seluruh bagian Asia dan Eropa, Amerika Utara, dan Afrika.

Baca Juga:  Bahasa Nusantara dan Identitas Bangsa

Kolera disebarkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae. Bakteri ini dapat menyebabkan diare akut dan dapat merenggut nyawa penderitanya dalam hitungan jam jika tak diobati. Kala itu merenggut nyawa sekitar 1 juta jiwa.

Keempat, Wabah Flu. Wabah yang terjadi antara tahun 1889–1890 ini disebabkan Influenza A sub tipe H3N8. Wabah ini saat itu dianggap sebagai pandemi terbesar yang terjadi di akhir abad 19. Jenis influenza ini dikenal sebagai Asiatic Flu atau Russian Flu, karena wabah ini berasal dari Asia Tengah di kerajaan Rusia.

Pandemi menyebar sangat cepat melalui keberadaan jenis transportasi modern, seperti kereta api dan perahu. Hanya dalam waktu empat bulan, wabah ini menyebar di seluruh bumi, dan memuncak di Amerika 70 hari setelah angka terbanyak di St Petersburg. Angka kematian kala itu mencapai sekitar 1 juta jiwa.

Kelima, Pandemi Flu. Kasus pertama wabah influenza jenis ini pertama kali diidentifikasi di musim semi tahun 1918 pada tentara-tentara Amerika ketika Perang Dunia I, sebelum akhirnya menyebar di seluruh dunia dan menginfeksi setidaknya sepertiga dari populasi di dunia. Meskipun angka kematian masih belum diketahui secara pasti, banyak sumber menyebutkan lebih dari 50 juta meninggal dan bahkan dikatakan mencapai 100 juta orang. Angka ini membuat pandemi yang disebabkan Influenza H1N1 ini dianggap sebagai pandemi yang paling mematikan sejak wabah Black Death.

Di Amerika, wabah ini disebut sebagai flu Spanyol meskipun para ilmuwan tidak dapat mengidentifikasi asal pandemi ini. Namun, kasus-kasus terkait pandemi ini banyak dilaporkan di Spanyol, sebuah negara yang tidak terlibat dalam Perang Dunia I. Karena itu, berita tersebut tak ditutup-tutupi karena dianggap tidak mengandung informasi terkait permasalahan perang, sehingga menimbulkan dugaan seolah-olah wabah tersebut berasal dari Spanyol. Jadi, ada unsur ”politis”-nya.

Tanpa ada vaksin, pandemi ini mempunyai dua gelombang. Gelombang pertama lebih ringan dibandingkan gelombang kedua. Tentara yang kembali ke negaranya merupakan media pembawa gelombang kedua. Masyarakat pun melakukan karantina. Mengimbau pemakaian masker dan melarang segala bentuk perkumpulan guna melawan pandemi.

Baca Juga:  Pergeseran Bahasa Healing dan Percobaan Bunuh Diri

Keenam, Flu Asia. Kasus pertama Flu Asia teridentifikasi di China tahun 1956. Wabah yang disebabkan Influenza A sub tipe H2N2 ini menjalar hingga Singapura, Hongkong, dan Amerika. Dilaporkan juga bahwa penyebaran wabah hingga mencapai India di tahun 1957. Gejala-gejala seperti kaki yang lemah, kedinginan, sakit tenggorokan, hidung berair, dan batuk muncul persis setelah terjangkit virus.

Ketujuh, Pandemi Flu Hongkong. Kasusnya pertama kali dilaporkan pada Juli 1968 di Hongkong. Wabah terjadi di Singapura dan Vietnam. Dan dalam 12 minggu, wabah menyebar ke belahan dunia lainnya, termasuk Afrika dan Amerika Selatan. Di Amerika diperkirakan terdapat 100 ribu orang meninggal dunia karena wabah ini.

Penyebab dari Flu Hongkong ini adalah Influenza A H3N2 sub tipe H2N2. Mutasi Flu Asia di tahun 1956 diperkirakan merupakan pemciu munculnya jenis H3N2 dalam sebuah proses yang dikenal dengan antigenic shift (pergeseran antigenik) di mana virus bermutasi.

Angka kematian, dilaporkan kala itu, sangat jauh lebih rendah daripada wabah-wabah influenza sebelumnya dengan tingkat fatalitas kasus di bawah 0,5 persen. Terdapat kemungkinan bahwa mereka yang terpapar pandemi sebelumnya menjadi kebal terhadap virus ini.

Itulah di antara pandemi yang pernah terjadi secara global. Bagi kita yang beriman, haruslah meyakini, bahwa terjadinya pandemi-pandemi itu merupakan ayat-ayat dari Tuhan yang sengaja diturunkan kepada umat manusia agar dijadikan sebagai media pembelajaran dan media perenungan.

Sebagai media pembelajaran, manusia disuruh belajar dari fenomena alam. Disuruh mengeksplorasi kemampuan akalnya untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi. Sebagai media perenungan, manusia disuruh menggunakan kepekaan hatinya untuk mau introspeksi terhadap berbagai kesalahan atau kezaliman yang pernah dilakukannya. Sehingga selanjutnya menjadi manusia yang lebih baik. Jadi, Tuhan menciptakan pandemi, sepertinya memang untuk memaksa manusia untuk jeda. Dan memaksa manusia agar mau berubah menjadi lebih baik. Maka, sudahkah kita berubah menjadi lebih baik, selama enam bulan diserang pandemi Covid-19? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Kepincangan Layanan Pendidikan

ChatGPT, I, Robot dan Anak Cak Nun

Jaring Pengaman Antibunuh Diri

Pudarnya Wisata Kuliner Payung

Terpopuler

Artikel Terbaru

/