25.5 C
Malang
Senin, Februari 12, 2024

“Suluh” Pers Indonesia

 

Berbicara tentang pers nasional maka ingatan kita akan tertuju pada tahun 1907-an, di mana untuk kali pertamanya sebuah media cetak terbit di Bandung di masa penjajahan Belanda dengan nama Medan Prijaji.

Dalam sejarah pers nasional terbitnya media pada tahun 1907-an ini diklaim sebagai cikal bakal lahirnya persatuan wartawan pertama kali pada tahun 1914.

Di masa-masa selanjutnya bermetamorfosa menjadi kantor berita Antara pada tahun 1937 oleh empat serangkai Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahoetar dan Pandoe Kartawigoenn, dan keberhasilan pertamanya adalah memberitakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945.

Pers adalah instrumen perjuangan, begitu yang saya pahami. Dalam perjalanannya pers selalu menjadi corong bagi penyeimbang kehidupan di masyarakat, berbangsa dan bernegara.  Menjadi sinar di kegelapan, menjadi wangi di tengah-tengah kebusukan dan menjadi tiang penyangga di tengah kebobrokan moralitas dan mentalitas.

Baca Juga:  Hotel Kapsul di MCC Batal, Diskopindag Cari Program Pengganti

Bersyukur saya dulu pernah menjadi bagian dari pers mahasiswa, merasakan pendidikan sebagai pewarta, penulis berita dan melawati fase demi fase pers dari mulai menjadi wartawan, redaktur dan pemimpin redaksi. 

Ada banyak pengalaman yang tentu saja sangat berarti bagi saya, menjadi bekal di kehidupan berikutnya, kemampuan untuk terus berfikir kritis secara mendalam, melakukan grab data yang berkualitas terhadap temuan-temuan di lapangan dan pengolahan data serta manajemen isu dalam membentuk persepsi publik.

Hari ini, dunia pers menghadapi tantangan yang luar biasa bersamaan dengan era disruption dan kemajuan teknologi. Perilaku masyarakat yang memiliki kecenderungan membaca berita lewat internet di smartphonenya menyebabkan media cetak semakin berat untuk mempertahankan eksistensinya.

Di tambah lagi, dengan semakin mudahnya akses internet, bervariasinya media sosial dan kebebasan orang untuk membagikan setiap kejadian yang mereka temui di media sosial yang mereka miliki melahirkan citizen journalism alias semua orang sekarang bisa menjadi wartawan yang sekaligus memiliki media beritanya sendiri melalui sosial media, dan tentu situasi ini semakin tidak mudah bagi jurnalisme pers.

Baca Juga:  Kota Malang Catat Inflasi Bulanan Terendah se-Jatim

Selain itu, tahun politik yang sekarang berlangsung juga menjadi tantangan tersendiri bagi pers Indonesia untuk tetap menjaga independensi dan profesionalitasnya. Iklim politik yang sudah menghangat sejak awal tahun ini menuntut pers Indonesia untuk tetap proporsional dan berpihak kepada keadilan dan azas kebermanfaatan bagi masyarakat.

Namun perubahan zaman apapun yang terjadi, Pers Indonesia harus tetap berdiri tegak menjadi suluh bagi sepanjang sejarah kehidupan manusia dan kehadiran pers sampai kapanpun akan tetap menjadi urat nadi bagi harmonisme kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2023, jaya selalu pers Indonesia.(*)

 

Berbicara tentang pers nasional maka ingatan kita akan tertuju pada tahun 1907-an, di mana untuk kali pertamanya sebuah media cetak terbit di Bandung di masa penjajahan Belanda dengan nama Medan Prijaji.

Dalam sejarah pers nasional terbitnya media pada tahun 1907-an ini diklaim sebagai cikal bakal lahirnya persatuan wartawan pertama kali pada tahun 1914.

Di masa-masa selanjutnya bermetamorfosa menjadi kantor berita Antara pada tahun 1937 oleh empat serangkai Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahoetar dan Pandoe Kartawigoenn, dan keberhasilan pertamanya adalah memberitakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945.

Pers adalah instrumen perjuangan, begitu yang saya pahami. Dalam perjalanannya pers selalu menjadi corong bagi penyeimbang kehidupan di masyarakat, berbangsa dan bernegara.  Menjadi sinar di kegelapan, menjadi wangi di tengah-tengah kebusukan dan menjadi tiang penyangga di tengah kebobrokan moralitas dan mentalitas.

Baca Juga:  Heboh Balap Liar, Polisi Sebut Kucing-kucingan

Bersyukur saya dulu pernah menjadi bagian dari pers mahasiswa, merasakan pendidikan sebagai pewarta, penulis berita dan melawati fase demi fase pers dari mulai menjadi wartawan, redaktur dan pemimpin redaksi. 

Ada banyak pengalaman yang tentu saja sangat berarti bagi saya, menjadi bekal di kehidupan berikutnya, kemampuan untuk terus berfikir kritis secara mendalam, melakukan grab data yang berkualitas terhadap temuan-temuan di lapangan dan pengolahan data serta manajemen isu dalam membentuk persepsi publik.

Hari ini, dunia pers menghadapi tantangan yang luar biasa bersamaan dengan era disruption dan kemajuan teknologi. Perilaku masyarakat yang memiliki kecenderungan membaca berita lewat internet di smartphonenya menyebabkan media cetak semakin berat untuk mempertahankan eksistensinya.

Di tambah lagi, dengan semakin mudahnya akses internet, bervariasinya media sosial dan kebebasan orang untuk membagikan setiap kejadian yang mereka temui di media sosial yang mereka miliki melahirkan citizen journalism alias semua orang sekarang bisa menjadi wartawan yang sekaligus memiliki media beritanya sendiri melalui sosial media, dan tentu situasi ini semakin tidak mudah bagi jurnalisme pers.

Baca Juga:  Caper

Selain itu, tahun politik yang sekarang berlangsung juga menjadi tantangan tersendiri bagi pers Indonesia untuk tetap menjaga independensi dan profesionalitasnya. Iklim politik yang sudah menghangat sejak awal tahun ini menuntut pers Indonesia untuk tetap proporsional dan berpihak kepada keadilan dan azas kebermanfaatan bagi masyarakat.

Namun perubahan zaman apapun yang terjadi, Pers Indonesia harus tetap berdiri tegak menjadi suluh bagi sepanjang sejarah kehidupan manusia dan kehadiran pers sampai kapanpun akan tetap menjadi urat nadi bagi harmonisme kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2023, jaya selalu pers Indonesia.(*)

Artikel Terkait

Kepincangan Layanan Pendidikan

ChatGPT, I, Robot dan Anak Cak Nun

Jaring Pengaman Antibunuh Diri

Pudarnya Wisata Kuliner Payung

Terpopuler

Artikel Terbaru

/