23.4 C
Malang
Rabu, Februari 28, 2024

Jaring Pengaman Antibunuh Diri

RADAR MALANG – Jembatan Golden Gate, San Francisco menjadi bangunan ikonik dan menjadi destinasi wisata setelah tuntas dibangun tahun 1937. Memiliki panjang 2,7 kilometer dan tinggi 227 meter, jembatan ini pernah memegang rekor terpanjang sedunia di eranya. Ironisnya, jembatan ini juga menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengakhiri hidup.

Saking banyaknya kasus percobaan bunuh diri, kini ada jaring pengaman berbahan baja dipasang di bagian bawah jembatan. Posisi jaring anti bunuh diri itu membentang di kedua sisi jembatan dan berada sekitar 6 meter di bawah jembatan. Mulai dipasang sejak tahun 2017, jaring jumbo itu ditargetkan selesai dipasang tahun ini.

Proyek jaring baja tersebut menelan biaya sekitar USD 200 juta atau setara Rp 2,8 triliun. Meski belum selesai, namun kehadirannya efektif menyelamatkan nyawa orang yang meloncat dari atas jembatan. Meskipun tetap dengan risiko terluka hingga patah tulang dialami oleh para penyintas.

Wacana membuat pengaman jembatan atau pagar di Jembatan Soekarno-Hatta (Soehat) Kota Malang kembali muncul seiring kasus bunuh diri seorang remaja pria pada 26 Mei lalu. Apalagi hanya berselang dua hari, seorang remaja putri dilaporkan sudah amping-amping di pinggir Jembatan Soehat. Beruntung aksinya diketahui warga hingga akhirnya bisa diselamatkan.

Pagar atau jaring pengaman atau apa pun namanya memang bisa mencegah orang melompat dari jembatan. Kehadirannya tentu penting untuk menghalangi mereka yang berniat mengakhiri hidup di jembatan yang dibangun tahun 1988 itu.

Hanya saja, seperti pembangunan jaring pengaman di Golden Gate di San Fransisco, dibutuhkan waktu yang sangat lama hingga usulan itu terwujud. Ide membuat jaring baja sudah digagas sejak tahun 1950-an setelah marak terjadi aksi bunuh diri. Namun proyek ini baru dikerjakan tahun 2017 atau sekitar 80 tahun setelah ide jaring baja antibunuh diri digulirkan. Sepanjang 80 tahun itu, sedikitnya 2.000 orang dilaporkan melompat dari Golden Gate.

Baca Juga:  Pudarnya Wisata Kuliner Payung

Sambil terus mendorong perlunya membuat pagar atau jaring pengaman jembatan Soehat, yang tak kalah penting dilakukan adalah membangun kesadaran kolektif tentang bagaimana mencegah seseorang melakukan aksi bunuh diri. Karena umumnya, para korban sudah menunjukkan indikasi atau tanda-tanda secara eksplisit. Meski pun di banyak kasus, sign atau indikasi itu baru benar-benar disadari setelah kejadian.

Bagi pelaku bunuh diri, tindakan menyudahi hidup dianggap satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah yang tak kunjung terurai. Paparan terhadap kejadian keberhasilan bunuh diri juga dapat menjadi faktor penguat yang mendorong seseorang yang putus asa untuk membulatkan tekadnya menyudahi rasa sakit secara psikologis akibat masalah yang dihadapi.

Edwin Shneidman, pakar dari Amerika yang banyak meneliti tentang fenomena bunuh diri menyatakan, hampir 90 persen orang yang melakukan bunuh diri menunjukkan atau memperlihatkan tanda-tanda tertentu. Seperti membuang barang-barang miliknya, mengutarakan sesuatu yang tak biasa, merasa tak berguna, tiba-tiba terlihat tenang dan damai, sementara masalah yang dihadapi belum ada solusi. Sehingga orang di lingkungan sekitar, mulai dari keluarga, sahabat, teman, atau orang terdekat bisa menangkap tanda-tanda tersebut.

Di sejumlah kasus percobaan bunuh diri, banyak orang yang merasa tak siap menghadapi situasi tersebut. Tak terkecuali para petugas seperti anggota polisi, pemadam kebakaran, apalagi masyarakat umum. Mereka tak tahu harus melakukan apa. Bagaimana cara mendekati, dan berbicara dengan orang yang terindikasi akan melakukan aksi bunuh diri.

Baca Juga:  Jimat (5)

Satu hal yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan terhadap orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda bunuh diri. Misalnya mulai membicarakan tentang bunuh diri. Atau dalam percakapan lantas menyisipkan keinginan mau mati atau menyampaikan perasaan lelah dengan masalah yang dihadapi. Bisa juga tanda itu muncul dengan perkataan sudah lelah dengan penyakit yang diderita.

Yang tak kalah penting adalah mencermati orang di sekitar yang memiliki kebiasaan tanpa berpikir panjang (impulsif) dalam perilaku maupun bicara. Termasuk orang dengan masalah jiwa berat yang memiliki halusinasi tentang kematian. Risiko untuk bunuh diri juga lebih tinggi bagi mereka yang memiliki kebiasaan melukai diri sendiri untuk mendefinisikan luka batinnya.

Jika ditemukan perilaku – perilaku tersebut pada saudara, teman atau orang terdekat tentu bisa diwaspadai dengan melakukan tindakan pencegahan. Misalnya dengan cara menemani atau mendengarkan ceritanya. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan membantu serta mendorongnya mengakses layanan pusat kesehatan mental terdekat. Seperti rumah sakit, praktik mandiri psikolog klinis, psikiater atau rumah sakit jiwa. Termasuk memastikan dia tidak mengakses senjata tajam, alat-alat untuk bunuh diri, dan pergi ke tempat-tempat berbahaya.

Secara sosial, membiasakan saling menyapa di komunitas juga ampuh mengurangi resiko bunuh diri. Karena seperti dikatakan oleh Emile Durkheim, bunuh diri terjadi karena adanya perasaan teralienasi atau terasing dari lingkungan sosial. Menyapa tetangga adalah tindakan sederhana yang membuat tetangga merasa tetap terhubung dengan orang lain di lingkungannya.

Sehingga ”jaring pengaman” berupa kepedulian orang-orang terdekat diharapkan bisa menjadi penyelamat bagi mereka yang punya keinginan untuk bunuh diri.(*)

RADAR MALANG – Jembatan Golden Gate, San Francisco menjadi bangunan ikonik dan menjadi destinasi wisata setelah tuntas dibangun tahun 1937. Memiliki panjang 2,7 kilometer dan tinggi 227 meter, jembatan ini pernah memegang rekor terpanjang sedunia di eranya. Ironisnya, jembatan ini juga menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengakhiri hidup.

Saking banyaknya kasus percobaan bunuh diri, kini ada jaring pengaman berbahan baja dipasang di bagian bawah jembatan. Posisi jaring anti bunuh diri itu membentang di kedua sisi jembatan dan berada sekitar 6 meter di bawah jembatan. Mulai dipasang sejak tahun 2017, jaring jumbo itu ditargetkan selesai dipasang tahun ini.

Proyek jaring baja tersebut menelan biaya sekitar USD 200 juta atau setara Rp 2,8 triliun. Meski belum selesai, namun kehadirannya efektif menyelamatkan nyawa orang yang meloncat dari atas jembatan. Meskipun tetap dengan risiko terluka hingga patah tulang dialami oleh para penyintas.

Wacana membuat pengaman jembatan atau pagar di Jembatan Soekarno-Hatta (Soehat) Kota Malang kembali muncul seiring kasus bunuh diri seorang remaja pria pada 26 Mei lalu. Apalagi hanya berselang dua hari, seorang remaja putri dilaporkan sudah amping-amping di pinggir Jembatan Soehat. Beruntung aksinya diketahui warga hingga akhirnya bisa diselamatkan.

Pagar atau jaring pengaman atau apa pun namanya memang bisa mencegah orang melompat dari jembatan. Kehadirannya tentu penting untuk menghalangi mereka yang berniat mengakhiri hidup di jembatan yang dibangun tahun 1988 itu.

Hanya saja, seperti pembangunan jaring pengaman di Golden Gate di San Fransisco, dibutuhkan waktu yang sangat lama hingga usulan itu terwujud. Ide membuat jaring baja sudah digagas sejak tahun 1950-an setelah marak terjadi aksi bunuh diri. Namun proyek ini baru dikerjakan tahun 2017 atau sekitar 80 tahun setelah ide jaring baja antibunuh diri digulirkan. Sepanjang 80 tahun itu, sedikitnya 2.000 orang dilaporkan melompat dari Golden Gate.

Baca Juga:  Mazhab News Phobia

Sambil terus mendorong perlunya membuat pagar atau jaring pengaman jembatan Soehat, yang tak kalah penting dilakukan adalah membangun kesadaran kolektif tentang bagaimana mencegah seseorang melakukan aksi bunuh diri. Karena umumnya, para korban sudah menunjukkan indikasi atau tanda-tanda secara eksplisit. Meski pun di banyak kasus, sign atau indikasi itu baru benar-benar disadari setelah kejadian.

Bagi pelaku bunuh diri, tindakan menyudahi hidup dianggap satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah yang tak kunjung terurai. Paparan terhadap kejadian keberhasilan bunuh diri juga dapat menjadi faktor penguat yang mendorong seseorang yang putus asa untuk membulatkan tekadnya menyudahi rasa sakit secara psikologis akibat masalah yang dihadapi.

Edwin Shneidman, pakar dari Amerika yang banyak meneliti tentang fenomena bunuh diri menyatakan, hampir 90 persen orang yang melakukan bunuh diri menunjukkan atau memperlihatkan tanda-tanda tertentu. Seperti membuang barang-barang miliknya, mengutarakan sesuatu yang tak biasa, merasa tak berguna, tiba-tiba terlihat tenang dan damai, sementara masalah yang dihadapi belum ada solusi. Sehingga orang di lingkungan sekitar, mulai dari keluarga, sahabat, teman, atau orang terdekat bisa menangkap tanda-tanda tersebut.

Di sejumlah kasus percobaan bunuh diri, banyak orang yang merasa tak siap menghadapi situasi tersebut. Tak terkecuali para petugas seperti anggota polisi, pemadam kebakaran, apalagi masyarakat umum. Mereka tak tahu harus melakukan apa. Bagaimana cara mendekati, dan berbicara dengan orang yang terindikasi akan melakukan aksi bunuh diri.

Baca Juga:  Dua Rumah di Atas Plengsengan Ambrol

Satu hal yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan terhadap orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda bunuh diri. Misalnya mulai membicarakan tentang bunuh diri. Atau dalam percakapan lantas menyisipkan keinginan mau mati atau menyampaikan perasaan lelah dengan masalah yang dihadapi. Bisa juga tanda itu muncul dengan perkataan sudah lelah dengan penyakit yang diderita.

Yang tak kalah penting adalah mencermati orang di sekitar yang memiliki kebiasaan tanpa berpikir panjang (impulsif) dalam perilaku maupun bicara. Termasuk orang dengan masalah jiwa berat yang memiliki halusinasi tentang kematian. Risiko untuk bunuh diri juga lebih tinggi bagi mereka yang memiliki kebiasaan melukai diri sendiri untuk mendefinisikan luka batinnya.

Jika ditemukan perilaku – perilaku tersebut pada saudara, teman atau orang terdekat tentu bisa diwaspadai dengan melakukan tindakan pencegahan. Misalnya dengan cara menemani atau mendengarkan ceritanya. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan membantu serta mendorongnya mengakses layanan pusat kesehatan mental terdekat. Seperti rumah sakit, praktik mandiri psikolog klinis, psikiater atau rumah sakit jiwa. Termasuk memastikan dia tidak mengakses senjata tajam, alat-alat untuk bunuh diri, dan pergi ke tempat-tempat berbahaya.

Secara sosial, membiasakan saling menyapa di komunitas juga ampuh mengurangi resiko bunuh diri. Karena seperti dikatakan oleh Emile Durkheim, bunuh diri terjadi karena adanya perasaan teralienasi atau terasing dari lingkungan sosial. Menyapa tetangga adalah tindakan sederhana yang membuat tetangga merasa tetap terhubung dengan orang lain di lingkungannya.

Sehingga ”jaring pengaman” berupa kepedulian orang-orang terdekat diharapkan bisa menjadi penyelamat bagi mereka yang punya keinginan untuk bunuh diri.(*)

Artikel Terkait

Kepincangan Layanan Pendidikan

ChatGPT, I, Robot dan Anak Cak Nun

Pudarnya Wisata Kuliner Payung

Bayi, Lansia, dan Pejabat

Terpopuler

Artikel Terbaru

/