25.5 C
Malang
Senin, Februari 12, 2024

Segera Kirim Surat Aduan ke PT LIB

MALANG KOTA – Manajemen Arema FC tidak akan tinggal diam setelah mengalami musibah penyerangan bus tim, Kamis lalu (26/1). Sejumlah langkah sudah dipersiapkan mereka. Salah satunya yakni berkirim surat ke operator kompetisi, PT Liga Indonesia Baru (LIB). Atau mengirimkan surat PSSI.

Manajer Arema FC Wiebie Dwi Andriyas menyebut kalau surat yang dikirim berupa aduan. ”Pastinya kami akan melakukan protes dengan apa yang terjadi,” jelas bapak tiga anak tersebut. Dia menyebut bila surat pengaduan itu masih disusun. Rencananya, surat itu akan dikirim pekan depan.

Wiebie mengungkapkan, respons tersebut adalah salah satu sarana untuk pembelajaran bersama. Agar kritik dan protes bisa disampaikan lebih elegan. ”Mudah-mudahan kejadian seperti ini tidak terulang lagi ke depannya,” harap dia.

Baca Juga:  Makin Banyak Opsi di Lini Belakang

Owner NZR Grup tersebut menyebut bila timnya sangat menyayangkan insiden tersebut. Sebab, para pemain yang datang ke Stadion Maguwoharjo hanya punya niatan untuk menjalankan profesi sebagai atlet. Selain itu juga mencari nafkah untuk keluarganya. ”Kami tidak pernah bayangkan kejadian ini. Niatnya tim ke sana ya hanya bertanding,” papar mantan manajer Borneo FC itu.

Lebih lanjut, dia menyebut bila sejatinya proses pengamanan sudah dijalankan semaksimal mungkin. Mulai dari menerjunkan aparat gabungan, dan menjalankan rencana evakuasi tim dengan aman. Salah satunya dilakukan dengan memulangkan terlebih dahulu sejumlah elemen tim. Selain itu, timnya juga datang tidak dengan bus mereka, yang ada logo Singo Edan. ”Tapi, mau bagaimana lagi. Ini sudah terjadi. Kami harus ambil pelajaran dari insiden itu,” tuturnya.

Baca Juga:  Sempat Dikritik, Jayus Hariono Beri Pembuktian di Dua Laga Big Match

Sementara itu, Asisten Pelatih Arema FC Kuncoro yang waktu itu terkena pecahan kaca juga menyayangkan insiden tersebut. ”Itu memang bagian risiko profesi kami. Tapi, kalau menyangkut nyawa, tentunya tidak bisa dibenarkan,” kata dia.

Terpisah, mengenai apa yang terjadi pada Kamis lalu, perwakilan Panitia Pelaksana (Panpel) PSS Sleman Yuyud Pujiarto mengaku sudah berusaha melakukan pengamanan ekstra. ”Polisi sudah mencoba mengawal di depan, samping, dan belakang. Tapi, karena kondisi yang crowded, bus tidak bisa jalan cepat saat ada oknum yang mencoba mengganggu,” jelasnya.

Menurut regulasi PSSI pasal 4 disebutkan, klub tuan rumah bertanggung jawab untuk memikirkan, merencanakan, dan menjalankan sistem keamanan. Selain itu, juga bertanggung jawab dengan elemen tim dan suporternya. (gp/by)

MALANG KOTA – Manajemen Arema FC tidak akan tinggal diam setelah mengalami musibah penyerangan bus tim, Kamis lalu (26/1). Sejumlah langkah sudah dipersiapkan mereka. Salah satunya yakni berkirim surat ke operator kompetisi, PT Liga Indonesia Baru (LIB). Atau mengirimkan surat PSSI.

Manajer Arema FC Wiebie Dwi Andriyas menyebut kalau surat yang dikirim berupa aduan. ”Pastinya kami akan melakukan protes dengan apa yang terjadi,” jelas bapak tiga anak tersebut. Dia menyebut bila surat pengaduan itu masih disusun. Rencananya, surat itu akan dikirim pekan depan.

Wiebie mengungkapkan, respons tersebut adalah salah satu sarana untuk pembelajaran bersama. Agar kritik dan protes bisa disampaikan lebih elegan. ”Mudah-mudahan kejadian seperti ini tidak terulang lagi ke depannya,” harap dia.

Baca Juga:  Arinda Jessy, Model dan Pembalap Trail Dijuluki Si Ratu Medan Tanjakan

Owner NZR Grup tersebut menyebut bila timnya sangat menyayangkan insiden tersebut. Sebab, para pemain yang datang ke Stadion Maguwoharjo hanya punya niatan untuk menjalankan profesi sebagai atlet. Selain itu juga mencari nafkah untuk keluarganya. ”Kami tidak pernah bayangkan kejadian ini. Niatnya tim ke sana ya hanya bertanding,” papar mantan manajer Borneo FC itu.

Lebih lanjut, dia menyebut bila sejatinya proses pengamanan sudah dijalankan semaksimal mungkin. Mulai dari menerjunkan aparat gabungan, dan menjalankan rencana evakuasi tim dengan aman. Salah satunya dilakukan dengan memulangkan terlebih dahulu sejumlah elemen tim. Selain itu, timnya juga datang tidak dengan bus mereka, yang ada logo Singo Edan. ”Tapi, mau bagaimana lagi. Ini sudah terjadi. Kami harus ambil pelajaran dari insiden itu,” tuturnya.

Baca Juga:  Transformasi Pemain Arema FC di Bawah Komando Eduardo Almeida

Sementara itu, Asisten Pelatih Arema FC Kuncoro yang waktu itu terkena pecahan kaca juga menyayangkan insiden tersebut. ”Itu memang bagian risiko profesi kami. Tapi, kalau menyangkut nyawa, tentunya tidak bisa dibenarkan,” kata dia.

Terpisah, mengenai apa yang terjadi pada Kamis lalu, perwakilan Panitia Pelaksana (Panpel) PSS Sleman Yuyud Pujiarto mengaku sudah berusaha melakukan pengamanan ekstra. ”Polisi sudah mencoba mengawal di depan, samping, dan belakang. Tapi, karena kondisi yang crowded, bus tidak bisa jalan cepat saat ada oknum yang mencoba mengganggu,” jelasnya.

Menurut regulasi PSSI pasal 4 disebutkan, klub tuan rumah bertanggung jawab untuk memikirkan, merencanakan, dan menjalankan sistem keamanan. Selain itu, juga bertanggung jawab dengan elemen tim dan suporternya. (gp/by)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/