Olah Bahan Baku Bersama Suami, Hasilkan Rp 20 Juta Per Bulan

Yuriati mungkin bisa dijadikan contoh ibu rumah tangga yang produktif. Memproduksi keripik singkong selama tiga tahun terakhir, dia mampu menghasilkan pendapatan yang cukup menggiurkan.

Irisan singkong berukuran kecil dan tipis menghiasi dapur rumah milik Yuriati di Desa Kesamben, Kecamatan Ngajum. Di dapur berukuran sekitar 7×4 meter itulah, dia kerap menghabiskan waktu untuk memproduksi keripik singkong. ”Sudah sekitar tiga tahun lalu saya memproduksi keripik, Mas,” terang Yuriati ketika ditemui Jawa Pos Radar Kanjuruhan kemarin siang (5/9).

Rutinitasnya itu tidak hadir secara instan. Serangkaian trial and error harus dilewati Yuriati terlebih dulu. ”Awal membuat keripik, saya pernah merasakan kegagalan berkali-kali, baru sekitar satu bulan mencoba akhirnya bisa menghasilkan keripik seperti saat ini,” tutur ibu tiga anak ini. Berbekal ketelatenan, dia mampu menjadi produsen keripik singkong yang cukup sukses.

Keripik buatannya dipasarkan ke seluruh pelosok Malang Raya. Khusus untuk pasokan ke Kota Batu, Yuriati menyuplai dengan harga grosir. Untuk wadah plastik besar dengan berat 10 kg, dia banderol dengan harga Rp 360 ribu. Hal yang sama juga dia berlakukan untuk wilayah Sidoarjo.

Dari rutinitasnya itu, tambahan pendapatan yang signifikan bisa dia peroleh. ”Kalau lembur bisa dapat omzet kotor Rp 20 juta per bulan. Kalau pas lagi sibuk mengasuh anak, ya saya tinggal,” sambungnya.



Banyaknya pesanan yang datang kepadanya tak lepas dari usaha dia menjaga mutu produk. Untuk bahan baku singkong misalnya, Yuriati memilih singkong kuning. Hanya singkong berukuran besar dan panjang saja yang dia pilih. Dia juga pantang menggunakan bahan pengawet.

Sementara untuk pemanisnya, dia memakai gula dari pabrik. ”Soalnya konsumen akan enggan membeli produk saya jika menggunakan bahan dasar (singkong) yang asal-asalan,” tambahnya.

Total ada tiga varian rasa yang dia produksi. Yakni, rasa manis, asin, dan orisinal. Untuk varian keripik singkong rasa asin, dia menambahkan bahan baku berupa bawang putih, kemiri, dan garam. Sementara untuk varian rasa orisinal, singkong yang sudah digoreng bakal ditiriskan terlebih dulu, selanjutnya baru dimasukkan ke dalam kemasan. Setiap hari, dia dibantu suaminya, M. Yasin, untuk membuat ketiga varian keripik singkong itu.

Cara pembuatan secara manual (tradisional) memang dia pilih. Bukan karena ada alasan khusus, melainkan keterbatasan alat yang dimiliki. ”Jika ada modal lagi, saya ingin membeli mesin agar bisa memproduksi banyak keripik dan melebarkan segmentasi pasar,” sambung perempuan kelahiran 20 April 1979 itu.

Tidak adanya tempat yang luas juga memaksanya pintar-pintar memilih waktu untuk memproduksi keripik. Karena bila musim hujan tiba, bahan baku lebih mudah lembek.

Pewarta: Ashaq Lupito
Penyunting: Bayu Mulya
Copy Editor: Dwi Lindawati
Fotografer: Falahi Mubarok