OJK Ungkap Modus Investasi Bodong

 

KOTA MALANG – Minimnya literasi jadi penyebab utama masyarakat terjebak investasi bodong. Apalagi, modus investasi bodong semakin beragam.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) indeks literasi keuangan di Indonesia masih naik tipis. Indeks pasar modal nasional sebesar 4,4 persen meningkat dari sebelumnya tahun 2013 yaitu sebesar 3,79 persen. Artinya ada peningkatan 0,61 persen.

Berikut beberapa modus yang diungkap Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I OJK, Djustini Septiana dalam Bincang Santai Pasar Modal di Kantor OJK Malang, Jumat (15/11).

“Modus pertama biasanya perusahaan investasi bodong membuat SIUP (surat izin usaha perdagangan) untuk suatu produk. Nah SIUP ini dimanfaatkan untuk menjual ‘barang’ lain yang tidak terdaftar,” terangnya.

Ia mencontohkan kasus investasi bodong di Kampoeng Kurma yang heboh beberapa waktu lalu. Bila mengacu izinnya, Kampoeng Kurma adalah perusahaan yang menawarkan jasa jual beli tanah.

Namun dalam prakteknya, Kampoeng Kurma tidak sekadar jual beli tanah.

Dikutip dari berbagai media, perusahaan itu menjual tanah dengan berbagai iming-iming. Seperti memberi bonus pohon kurma 5 pohon dan menjanjikan keuntungannya. Tanah yang dijual pun tersebar di berbagai daerah, salah satunya Cirebon. Namun banyak yang tak menerima akta jual beli (AJB) tanah yang dibelinya.

“Ini, seakan-akan produknya sama. Sudah terdaftar. Ternyata yang dijual beda lagi. Hati-hati, karena setiap produk semua harus ada izin, jangan cuma ngecek izin perusahaanya aja,” lanjutnya.

Bahkan menurutnya dari perusahaan investasi bodong itu tak jarang yang menggunakan label izin OJK. Mereka dikatakannya memberi logo OJK di seluruh materi promosi. Bagi yang tak jeli, bisa tertipu dengan mudah.

Sedangkan modus di investasi di pedesaan dikatakannya lebih pada modus berdasarkan kedekatan dan kekeluargaan.

“Banyak sekali di temukan di pedesaan, ada petani banyak uang dirayu tetangganya untuk investasi. Mulai dari Rp 1 juta. Tetangga lain pun diajak dengan janji uangnya akan kembali 20 persen lebih banyak. Nyatanya uang itu hanya diputar bukan ditanam saham,” ungkapnya.

Untuk itu kata Djustini, pendirian perusahaan efek ke daerah-daerah pedesaan sangat penting. Karena menurutnya masyarakat pedesaan sangat potensial bergelut di pasar modal. “Mereka uangnya banyak tapi bingung buat apa,” tambahnya.

Perlu diketahui, Saat ini di Kota dan Kabupaten Malang ada 15 kantor cabang Perusahaan Efek (PE). Kantor cabang Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) sebanyak 55 kantor. Serta galeri Investasi sebanyak 12 unit.

Sementara kini ada 3 emiten di Wilayah Kerja OJK Malang yaitu PT Madusari Murni Indah (MOLI) , PT Bintang Oto Global Tbk (BOGA) dan PT Indonesian Tobacco Tbk. (ITIC). Adapun wilayah OJK Malang meliputi Kota dan Kabupaten Malang, Kota dan Kabupaten Pasuruan, Kota dan Kabupaten Pronolinggo, serta Kota Batu.

Pewarta: Rida Ayu

Foto : istimewa

Editor : Indra M