Nyaman dan Serasa seperti Pelatih

JawaPos.com – Seperti biasa, setiap kali Bali United melakoni pertandingan kandang, I Nyoman Arjana bersama istri dan tiga anaknya tak pernah absen menyaksikan. Tak terkecuali Jumat malam lalu (14/6), kala kesebelasan berjuluk Serdadu Tridatu itu menjamu Timnas U-23 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar.

Seperti biasanya pula, Arjana dan keluarganya menonton dari jarak yang dekat sekali. Bukan, bukan di tribun stadion. Laki-laki 35 tahun itu menikmati pertandingan kesebelasan kesayangannya di Bali United Cafe.

Letaknya persis di bawah tribun utama sisi selatan Stadion Kapten I Wayan Dipta. “Menonton dari sini jauh lebih nyaman untuk anak-anak,” ungkap Arjana.

Alasan lainnya, laki-laki asal Gianyar itu mengaku, dengan menonton di Bali United Cafe, dirinya serasa seperti pelatih. “Posisi di sini begitu dekat dengan lapangan. Kita duduk sejajar dengan pelatih,” katanya, lantas tertawa.

Dengan berada di bawah tribun, mereka yang menonton pertandingan di Bali United Cafe memang begitu dekat dengan lapangan. Jarak dengan lapangan serasa hanya sejengkal. Apalagi, pembatas kafe dengan lapangan adalah kaca. Jadinya, pemandangan ke lapangan begitu jelas. Tak terkecuali gerak-gerik pelatih. Utamanya pelatih kesebelasan lawan.

KAFE DI STADION: I Nyoman Arjasa (kanan) menyaksikan laga Bali United bersama keluarga dan rekan di Cafe Bali United yang berada di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, (14/6). (MIFTAKHUL FAHAMSYAH/Jawa Pos)

Dan, seperti kata Arjana, Bali United Cafe memang begitu nyaman. Kafenya cukup lega. Bisa menampung tak kurang dari 200 orang. Desainnya menarik. Khas sepak bola.

Mejanya didesain seperti lapangan bola. Tempat duduknya dilabeli nama dan nomor punggung pemain-pemain Bali United. Sembari menonton pertandingan, juga bisa makan dan minum dengan lebih leluasa. Tentunya makanan dan minumannya bukan sekadar mengenyangkan dan bisa menghapus dahaga semata.

“Harga tiket masuk kafe juga terjangkau. Sama dengan tribun VIP. Kalau di tribun VIP tidak dapat makan dan minum, di sini dapat voucher makan dan minum,” katanya.

Kala hari pertandingan, menikmati laga Bali United dari kafe memang dikenai tarif masuk. Harganya Rp 200 ribu. Sama persis dengan harga tiket tribun VIP. Tapi, di luar hari pertandingan, kalau sekadar masuk Bali United Cafe, tentu saja tak dipungut biaya.

Kenyamanan seperti itulah yang dijual Bali United untuk meyakinkan publik bahwa industri sepak bola tersebut menjanjikan. “Bagi Bali United, sepak bola itu bukan sekadar football. Tapi, lebih dari itu. Sepak bola itu bukan hanya 90 menit,” tegas CEO Bali United Yabes Tanuri.

Selain sepak bola itu sendiri, sepak bola dari sudut pandang Yabes terdiri atas komunitas yang di dalamnya ada suporter dan corporate yang menyangkut partner kerja kesebelasan. Karena itu, Bali United tidak hanya membangun kafe. Tapi, juga ada playland, store, televisi, dan radio.

Mereka juga mengembangkan tur stadion. Untuk tur, mereka membanderol harga Rp 500 ribu bagi dua orang. “Kami gabungkan jadi satu antara sepak bola, fashion, hiburan, media untuk brand Bali United,” sebut Yabes.

Dengan itu semua, Bali United percaya sepak bola Indonesia bisa lebih dijual. Dengan itu semua, cerita sepak bola nasional bukan lagi tentang tawuran, kericuhan, dan keruwetan.