Nunung Pakai Narkoba 20 Tahun, Seperti Ini Dampaknya Buat Otak

Nunung Pakai Narkoba 20 Tahun, Seperti Ini Dampaknya Buat Otak

JawaPos.com – Nama komedian Nunung tengah populer lantaran baru saja ditangkap polisi akibat kasus penyalahgunaan narkotika. Kepada penyidik, Nunung mengaku sudah mengonsumsi narkotika jenis sabu selama 20 tahun.

Opsi rehabilitasi terus didesak oleh para sahabat Nunung. Para sahabat dari grup lawak Srimulat menilai bahwa jika dijebloskan ke penjara, Nunung malah akan semakin menjadi-jadi dan tidak akan sembuh. Benarkah demikian?

Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie menegaskan seorang pecandu narkoba akan memiliki rasa adiksi yang sangat mengikat. Dalam kasus Nunung yang sudah 20 tahun memakai sabu, menghilangkan adiksi narkoba sudah membutuhkan komitmen yang sangat kuat.

Nunung, dan pecandu lainnya, kata Liza, tentu harus berusaha keras menempuh segala macam terapi untuk bisa melepaskan rasa ketergantungan dari obat-obatan haram itu.



“Butuh waktu yang panjang untuk konseling, terapi, dan rehabilitasi. Untuk sembuh, prosesnya harus dikontrol,” tukasnya kepada JawaPos.com, Senin (22/7).

Liza menganalogikan otak manusia ibarat spons yang akan menyerap apapun. Ketika seseorang menyantap makanan berlemak, spons itu juga akan nampak penuh lemak. Sebaliknya, jika spons itu menyerap air bersih, maka kandungan di dalamnya tetaplah air bersih.

“Kondisi otak pecandu yang sudah 20 tahun sudah mengalami adiksi yang kuat. Otak kita menyerap rasa yang seolah enak. Lidah sudah terlanjur enak. Ketika lima panca indera kita kehilangan hal yang sudah biasa masuk selama 20 tahun, rasanya tentu akan aneh. Sama seperti mereka yang suka kopi. Pasti rasanya aneh begitu berhenti minum kopi,” jelas Liza.

Menurut Liza, tubuh manusia sangat cepat beradaptasi atas rasa adiksi. Meski pecandu sudah sembuh terkontrol, Liza menjelaskan hal kebiasaan itu bisa kembali lagi jika tak diikuti komitmen yang kuat.

“Jika sudah adiksi bertahun-tahun, pasti ada momen-momen di mana tubuh kita refleks mencari-cari (narkoba) lagi. Semua tergantung komitmennya. Mau sembuh atau tidak?” katanya.

 

Penjara Tak Menjamin

 

Liza setuju bahwa opsi rehabilitasi adalah pilihan yang tepat untuk Nunung. Sebab, masuk penjara tak menjamin seseorang bisa jera pada narkoba.

“Banyak yang keluar masuk penjara enggak jera-jera juga,” tukasnya.

Apalagi, Nunung awalnya berdalih ia menggunakan narkoba untuk menjaga stamina dan sebagai jalan untuk bisa lebih kurus. Menurut Liza, efek narkoba pada tubuh seseorang berbeda. Salah satu efeknya justru menimbulkan rasa euforia dan semangat untuk terus makan. Alih-alih kurus, penggunanya malah bisa makin gemuk karena keinginan makan yang sangat besar.

“Ada yang malah euforia happy terus jadinya mau makan terus. Ada yang begadang semalaman dan enggak bisa kurus juga. Tergantung juga dari dosisnya,” tuturnya.

Jika nanti Nunung direhabilitasi, prosesnya pun tidak akan sebentar. Proses rehabilitasi bisa berjalan mulai dari 3 bulan. Selama proses itu, pecandu tak boleh bertemu keluarga atau orang-orang tertentu lainnya sampai batas waktu tertentu.

Liza pun mewanti-wanti agar orang-orang terdekat Nunung bisa terus memberikan dukungan dan tidak menjauhinya. Sebab, pecandu yang dikucilkan justru bisa semakin menggila. “Dikucilkan justru jadi bumerang. Pecandu akan merasa masyarakat nggak mau menerima lagi. Jadi ya mending pakai lagi,” jelasnya.