NU Hanya Rekom Satu Nama

KABUPATEN – Siapa figur yang bakal didukung kaum nahdliyin dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) Malang 2020 mendatang? Figur yang berpotensi mendapatkan rekomendasi pencalonan dari Nahdlatul Ulama (NU) adalah yang memenuhi kriteria dari tim Lajnah Siyasah (panitia seleksi).

Tim beranggotakan lima orang yang dibentuk melalui Koalisi Gasek pada 6 Agustus lalu itu sudah menetapkan rambu-rambu. Pertama, kandidat yang didukung berstatus sebagai calon bupati (cabup). Bukan calon wakil bupati (cawabup). Kedua, kader NU atau non-NU tapi mempunyai kepedulian terhadap kaum nahdliyin.

Ketiga, sudah mendapatkan rekomendasi pencalonan dari partai politik (parpol). Jika semua nama-nama yang masuk penjaringan sudah mendapatkan rekom parpol, maka diprioritaskan rekom dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Keempat, bersedia menandatangani pakta integritas yang disusun oleh tim Lajnah Siyasah (selengkapnya baca grafis).

Anggota tim Lajnah Siyasah, Imam Sibaweh, menyatakan kriteria tersebut dihasilkan setelah timnya menggelar pertemuan pertama. Informasi yang dihimpun wartawan koran ini, pertemuan tersebut digelar di kantor PC NU Kabupaten Malang.

Selain dihadiri kelima anggota tim Lajnah Siyasah, pertemuan perdana itu juga dihadiri Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar.

”KH Marzuki Mustamar mengamanatkan, terkait Pilbup Malang 2020, harapannya ya ada satu calon yang direkomendasikan,” ujar Sibaweh, kemarin (3/9).

Ditanya kenapa hanya satu nama yang akan direkomendasikan? Menurut dia, hal itu demi menyatukan suara kaum nahdliyin. Dengan kata lain, jika ada dua atau lebih kader nahdliyin maju di Pilbup Malang, dia khawatir suara kaum sarungan itu terpecah. ”Satu itu, kalau bisa ya bersama Partai Kebangkitan Bangsa,” tutur pria yang juga Khatib Syuriah PC NU Kabupaten Malang itu.

Tim Lajnah Siyasah Bukan Parpol

Meski ending-nya mengerucut satu nama, tapi pihaknya tidak akan menyeleksi kandidat. Sebab, tim Lajnah Siyasah bukan parpol. Dia bersama keempat anggota lain hanya memetakan.

Nama-nama yang memenuhi kriteria akan disetorkan ke Rois Syuriah PC NU Kabupaten Malang, untuk ditetapkan satu nama. Satu kandidat itulah yang berhak mengatasnamakan NU. ”Seleksi (mengerucut satu nama) bakal dibahas antar anggota NU,” kata Sibaweh.

Sibaweh menegaskan, hingga kini timnya untuk memetakan kandidat. Sebelumnya, tim Litbang Jawa Pos Radar Malang menemukan empat figur berlatar belakang nahdliyin yang siap meramaikan pesta demokrasi di Kabupaten Malang itu. Yakni H.M. Sanusi (Plt Bupati Malang yang juga nahdliyin), Ali Ahmad (ketua DPC PKB Kabupaten Malang), Saifullah Maksum (ketua DPP PKB), dan dr Umar Usman (ketua PC NU Kabupaten Malang).

Munculnya keempat kandidat itu membuat sejumlah kalangan NU resah. Mereka khawatir suara kaum nahdliyin pecah. Diduga, keresahan itulah yang menginisiasi pertemuan elite PKB dan tokoh NU di Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilurrosyad, Gasek, Kecamatan Sukun, Kabupaten Malang, pada 6 Agustus lalu.

Pertemuan yang kemudian dikenal koalisi Gasek itu bertujuan menyatukan suara NU. Dalam forum itu, juga dibentuk tim Lajnah Siyasah. Itu kali pertama PC NU Kabupaten Malang membentuk lembaga yang bergerak di bidang politik.

Disinggung mengenai keempat nama tersebut, Sibaweh menyatakan, dinamika politik bisa berubah setiap saat. Jika saat ini muncul empat kandidat, bisa jadi ke depan bertambah.

”Nanti di detik akhir ada pertemuan antara kiai NU dengan PKB dan calon yang paling terbaik. Kemungkinan jadi disumpah siap menjalankan amanat,” jelasnya. ”Kemungkinan, namanya muncul jelang pendaftaran (cabup-cawabup),” tambah Sibaweh.

Modal Sosial dan Finansial Jadi Pertimbangan

Sementara itu, anggota lain di tim Lajnah Siyasah, Gus H. Abu Yazid AM MA menerangkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Rois Syuriah PC NU Kabupaten Malang. ”Pertemuan awal, kami menggodok kriteria,” kata dia.

Dia ingin, cabup yang mewakili NU betul-betul punya kepedulian terhadap kaum nahdliyin. ”Gelem ngerungokno kiai opo enggak (mau mendengarkan kiai atau tidak). Itulah yang menjadi pertimbangan kami dalam menentukan,” kata pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Pendidikan Perguruan Agama Islam (PPAI) Darun Najah di Karangploso, Kabupaten Malang, itu.

Pria yang biasa disapa Gus Yazid itu tidak ingin kebesaran NU disalahgunakan demi urusan politik. Oleh karena itu, tim Lajnah Siyasah akan memperhatikan ke-NU-an masing-masing kandidat. ”Jangan sampai nama besar NU dimanfaatkan untuk kepentingan politik calon tertentu,” kata ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PC NU Kabupaten Malang itu.

Meski sangat mengedepankan ke-NU-an, tapi dia juga mempertimbangkan basis dukungan para figur. ”Modal sosial dan modal finansialnya bagaimana. Termasuk basis dukungan di grassroot bagaimana,” katanya.

Hingga kini, pihaknya belum menentukan siapa yang akan diusulkan oleh tim Lajnah. Dia membuka peluang sebesar-besarnya kepada warga NU yang ingin maju di pilbup. ”Seandainya nanti membutuhkan rekomendasi, silakan. Tunjukkan bargaining-nya di partai bagaimana,” kata dia.

Pakar: Perlu Kesepakatan AntarElite Politik

Sementara itu, Dosen Ilmu Politik Universitas Brawijaya (UB) Ahmad Hasan Ubaid SIP MIP optimistis tim Lajnah Siyasah bisa menyatukan suara kaum nahdliyin. Namun, penyatuan suara nahdliyin itu bisa terwujud dengan beberapa catatan.

”Catatannya, asal kesepakatan antar-elite politik sama, tidak ada pecah suara. Jadi tergantung elite politiknya juga,” ujar Hasan.

Dia menganalisis, selama ini suara NU kerap pecah karena elite politik tidak bisa memusyawarahkan sosok yang patut diusung. Dia mencontohkan dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) di sejumlah daerah, suara NU pecah karena calon dari nahdliyin lebih dari satu. ”Kalau saya melihat pola Lajnah ini, sepertinya berpotensi menyatukan suara,” kata pakar politik itu.

Demi meminimalisasi perpecahan, Hasan menyarankan agar tim Lajnah merekomendasikan kandidat yang figurnya kuat. Salah satu indikasinya, figur tersebut bisa meruntuhkan sekat-sekat antar-organisasi masyarakat (ormas), sekat antarparpol, dan organisasi keagamaan.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Mahmudan