25.9 C
Malang
Rabu, Februari 28, 2024

Rumah Tak Didapat, Istri Pilih Pegat

KOTA BATU – Setelah gagal mewujudkan mimpi memiliki rumah sendiri, Markonah, 46, warga Kecamatan Batu, Kota Batu, langsung kecewa berat. Dia menganggap Markucel, 55, suaminya, adalah sosok yang kurang bertanggung jawab. Keputusan besar pun dibuat olehnya. Yakni mengajukan gugatan cerai. ”Sejak 2017, saya ikut tinggal di mess tempat dia (Markucel) bekerja,” terang Markonah kepada koran ini, beberapa waktu lalu.

Di awal-awal, dia bisa menerima kenyataan tersebut. Namun setelah bertahun-tahun hidup satu rumah, Markonah merasa bila suaminya itu tidak akan sanggup mewujudkan mimpi awal. Yakni memiliki rumah sendiri. ”Setiap saya tanya, ada saja alasannya,” imbuh perempuan berusia 46 tahun itu. Sejak itulah dia memberi suaminya cap sebagai PPDB (pria penuh dengan bualan).

Baca Juga:  Lebaran, Truk Dilarang Melintas 28 April sampai 1 Mei

”Apa yang diharapkan dari gaji dia Rp 1,3 juta sebulan?,” kata dia.

Untuk membantu keuangan rumah tangga, Markonah sempat memilih untuk bekerja. Dari sana lah intensitas keduanya bertemu makin berkurang. Lambat laun, Markonah juga merasa dicuekin oleh Markucel. Saat malam hari, dia mengaku sering dianggurin. Tidur memang satu kasur, namun semua sama-sama menepi.

Hubungan keduanya pun semakin memburuk. Markonah akhirnya memutuskan untuk pergi. ”Saya tidak mau bersama dia lagi,” ujar Markonah. Upaya rujuk sebenarnya sempat dilakukan oleh keluarga Markonah. Namun usaha itu gagal total. Akhirnya, keduanya resmi berpisah setelah menjalani rangkaian sidang di Pengadilan Agama (PA) Kota Malang pada bulan lalu. (biy/by/rmc)

Baca Juga:  BI Malang Ungkap Dua Kunci Pertumbuhan Ekonomi di Malang Raya

 

KOTA BATU – Setelah gagal mewujudkan mimpi memiliki rumah sendiri, Markonah, 46, warga Kecamatan Batu, Kota Batu, langsung kecewa berat. Dia menganggap Markucel, 55, suaminya, adalah sosok yang kurang bertanggung jawab. Keputusan besar pun dibuat olehnya. Yakni mengajukan gugatan cerai. ”Sejak 2017, saya ikut tinggal di mess tempat dia (Markucel) bekerja,” terang Markonah kepada koran ini, beberapa waktu lalu.

Di awal-awal, dia bisa menerima kenyataan tersebut. Namun setelah bertahun-tahun hidup satu rumah, Markonah merasa bila suaminya itu tidak akan sanggup mewujudkan mimpi awal. Yakni memiliki rumah sendiri. ”Setiap saya tanya, ada saja alasannya,” imbuh perempuan berusia 46 tahun itu. Sejak itulah dia memberi suaminya cap sebagai PPDB (pria penuh dengan bualan).

Baca Juga:  Baru Nikah, Nyawa Pasutri Gondanglegi Melayang

”Apa yang diharapkan dari gaji dia Rp 1,3 juta sebulan?,” kata dia.

Untuk membantu keuangan rumah tangga, Markonah sempat memilih untuk bekerja. Dari sana lah intensitas keduanya bertemu makin berkurang. Lambat laun, Markonah juga merasa dicuekin oleh Markucel. Saat malam hari, dia mengaku sering dianggurin. Tidur memang satu kasur, namun semua sama-sama menepi.

Hubungan keduanya pun semakin memburuk. Markonah akhirnya memutuskan untuk pergi. ”Saya tidak mau bersama dia lagi,” ujar Markonah. Upaya rujuk sebenarnya sempat dilakukan oleh keluarga Markonah. Namun usaha itu gagal total. Akhirnya, keduanya resmi berpisah setelah menjalani rangkaian sidang di Pengadilan Agama (PA) Kota Malang pada bulan lalu. (biy/by/rmc)

Baca Juga:  Uang Belanja Kurang, Gugat Cerai Melayang

 

Artikel Terkait

Ketika Rahasia Suami Kepergok Anak

Cintaku Direbut Dukun Palsu

Cinta yang Terusik Mertua

Cinlok Berujung Pencampakan

Terpopuler

Artikel Terbaru

/