Ngalap Berkah dari Tanah Pecah

Selalu ada berkah di balik musibah. Ungkapan itu agaknya cocok untuk menggambarkan musibah kekeringan yang melanda beberapa wilayah Kabupaten Malang. Dari pantauan koran ini dalam beberapa hari terakhir, warga memang aktif memanfaatkan tanah-tanah yang mengering.

KEPANJEN – Selalu ada berkah di balik musibah. Ungkapan itu agaknya cocok untuk menggambarkan musibah kekeringan yang melanda beberapa wilayah Kabupaten Malang. Dari pantauan koran ini dalam beberapa hari terakhir, warga memang aktif memanfaatkan tanah-tanah yang mengering. Apa yang dilakukan warga itu bisa diibaratkan seperti ngalap berkah (mencari berkah). Sebab, kondisi tanah yang pecah akibat kekeringan tetap dimanfaatkan warga untuk menambah pendapatan.

Seperti yang dilakukan Riyanto, salah satu nelayan sekaligus petani di Waduk Dempok, Kecamatan Pagak. Dikatakan dia, volume air di waduk tersebut memang jauh berkurang. Hal itu sudah terjadi sejak tiga bulan belakangan. ”Setiap tahun pasti seperti ini,” terangnya.

Warga memanfaatkan tanah basah yang mengering untuk becocok tanam. ”Biasanya, setelah satu bulan mengering mulai kami tanami jagung,” tambah pria 52 tahun tersebut.

Meski hasilnya tidak maksimal karena kebutuhan airnya tidak tercukupi, tetapi cara tersebut tetap dilakukannya. Karena jika hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan, kebutuhan keluarganya tidak akan tercukupi. Melihat kondisi yang ada, cara itu juga cukup tepat dilakukan lantaran lahan bercocok tanam warga menjadi lebih luas.

Seperti diketahui sebelumnya, kekeringan yang melanda wilayah Kabupaten Malang sudah diprediksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang. Dari catatan mereka, ada 20 desa di 10 kecamatan yang masuk kategori rawan kekeringan. Desa-desa yang terancam kekeringan itu tersebar di Kecamatan Donomulyo, Pagak, Lawang, Jabung, Sumbermanjing Wetan, Sumberpucung, Bantur, Gedangan, Kalipare, dan Singosari. Dua desa yang masuk prediksi bahkan sudah mengalami kekeringan.



”Hari ini (kemarin, Red) mulai kami salurkan bantuan air ke Desa Jabung, karena berdasarkan laporan perangkat desa, masyarakat mulai kekurangan air,” terang Kepala BPBD Kabupaten Malang Bambang Istiawan.

Satu kendaraan water tank diarahkan BPBD ke desa tersebut. ”Satu kali drop kami bawa muatan air sebanyak 5.000 liter,” ujar Bambang. Dari laporan petugas BPBD di lapangan, untuk memenuhi kebutuhan air di Desa Jabung dibutuhkan pengiriman air dua hingga tiga kali sehari.

Sebelumnya, kekeringan juga terjadi di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung. Selama lima hari terakhir, BPBD rutin menyalurkan air bersih ke daerah tersebut.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa di wilayah lain, BPBD terus berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) yang memiliki perlengkapan akomodasi, terutama kendaraan water tank. ”Kami sudah komunikasikan dengan PDAM dan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK). Mereka siap jika sewaktu-waktu kami mintai bantuan,” tambah mantan kepala satpol PP tersebut.

Disinggung terkait kekeringan yang mulai melanda Kecamatan Pagak, Bambang menyebutkan, hingga saat ini belum ada laporan dari pemerintah setempat. ”Kalau sudah melapor pasti segera kami tangani,” katanya.

Untuk diketahui, beberapa waduk juga mulai terdampak kekeringan. Selain Waduk Dempok, volume air di Waduk Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, juga berkurang. Warga memanfaatkan pengurangan volume air di Waduk Sengguruh dengan mencari ikan.

Pewarta : Farikh Fajarwati
Penyunting : Bayu Mulya
Copy Editor : Arief Rohman
Fotografer : Falahi Mubarok