Nervous Jawab Pertanyaan Juri, Baca Salawat Jadi Lebih Tenang

Ajang pemilihan Duta Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim 2019 diborong mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM). Meski mewakili daerah yang berbeda, M. Alfan Salim dan Tsurroyah Adibah tampil sebagai juara. Bagaimana mereka bisa mengalahkan ratusan kontestan lainnya?

BIYAN MUZAKKI 

Momen awarding yang digelar di Grand City Mall Surabaya Sabtu malam (16/11) tidak bisa dilupakan M. Alfan Salim. Mahasiswa Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang (UM) ini akhirnya ditetapkan sebagai juara I Duta ISNU 2019 kategori putra. Dia mendampingi Tsurroyah Adibah yang didaulat menjadi juara I kategori putri.

Keduanya diketahui sebagai mahasiswa UM. Bedanya, kalau Alfan jurusan sastra Arab semester lima, sementara Adibah jurusan sastra Inggris semester tiga. Duta ISNU Jatim perdana ini ternyata sama-sama alumni MA Almaarif Singosari.

”Saya sendiri tidak menyangka, tapi dengan bekal ilmu dan kemampuan yang saya miliki, bisa melewati tahapan demi tahapan tes,” terangnya.

Dalam kontestasi tersebut, Alfan harus bersaing dengan 100 kontestan yang terpilih. ”Proses seleksi cukup ketat dan melelahkan. Namun, saya bersyukur bisa mengikuti ajang ini karena banyak ilmu yang berguna yang saya dapatkan,” ujar mahasiwa asal Pasuruan tersebut.

Pada tahapan pertama, dia harus melawan 600-an pendaftar yang mengikuti seleksi. ”Ada dari foto dan keharusan mengunggah video ke Instagram terkait pengenalan diri dan motivasi mengikuti Duta ISNU,” terang lulusan Pondok Pesantren Gasek, Malang, tersebut.

Setelah itu, peserta dikerucutkan menjadi 100 besar dan harus mengikuti karantina selama dua hari dua malam. ”Di sana kami harus diwawancarai lagi, saat itu tentang pengetahuan kami soal permasalahan di Jawa Timur dan Indonesia,” jelasnya.

Tidak hanya diwawancarai, dia juga diminta untuk menunjukkan bakatnya. ”Waktu itu saya pidato dua bahasa dan bernyanyi, kebetulan waktu itu saya bersalawat,” tambahnya.

Keseluruhan wawancara tersebut memakan waktu kurang lebih empat jam. Setelah itu dilanjutkan sesi materi. ”Ada soal ke-NU-an, wabil khusus Aswaja, catwalk, dan public speaking juga,” jelas dia. Keesokannya materi terus berlanjut dengan motivasi.

Pada malam penilaian di Grand City Mall Surabaya, Alfan sebenarnya tak memiliki target muluk saat tampil beserta 99 peserta lain. Hanya, dia berusaha menampilkan kemampuan terbaiknya sesuai dengan yang didapatkan masa seleksi dan karantina. ”Itu termasuk grand final juga,” kata dia.

Total ada 64 perempuan dan 36 lelaki yang bersaing di sana, dan dia harus menunjukkan bakat terbaiknya. ”Kami juga dites membaca Alquran yang ayatnya diundi oleh juri. Nah, kebetulan saya dapat surat Al Hujurat ayat 13 tentang penciptaan manusia,” jelasnya.

Dia juga kembali dites kemampuan berpikir oleh dewan juri. ”Ketika itu ditanyakan soal bagaimana menanggapi berita hoax dan harus dikaitkan dengan khazanah ke-NU-an,” jelasnya.

Saat menjawab pertanyaan itu, Alfan mengakui sempat nervous juga. Namun tak disangka, mahasiswa berusia 21 tahun tersebut akhirnya dinobatkan sebagai yang terbaik oleh dewan juri.

Sementara itu, Tsurroyah Adibah juga bersyukur akhirnya dinobatkan sebagai Duta ISNU Jatim kategori putri. Apalagi selama proses seleksi hingga karantina, dia juga bertemu dengan sosok-sosok hebat dan terbaik.

”Tapi, saat karantina saya sempat ada rasa minder juga,” terangnya. Maklum, dia mengetahui ada salah satu peserta yang telah menjuarai ajang beauty pageant level nasional.

Namun, saat melewati tahapan demi tahapan, Adiba mengaku berusaha tampil tanpa beban. Sebab dia yakin, Allah tak membebani hamba-hamba-Nya di luar kemampuan. ”Untuk menenangkan diri selama proses seleksi, membaca salawat adalah cara yang manjur untuk saya,” ujarnya.

Tentang keikutsertaan dirinya dan Alfan yang sama-sama mahasiswa UM, Adibah mengaku awalnya tidak tahu. ”Nggak janjian juga, saya tahunya justru dari teman saya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, selain Alfan dan dirinya, ada juga peserta lain yang juga sama-sama alumni MA Almaarif Singosari yang melaju hingga 20 besar. ”Tapi yang berkesempatan melaju hingga final saya dan Mas Alfan,” bebernya.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahmad Yani