Neraca Dagang Surplus, Jawa Timur Tetap Defisit

JawaPos.com – Kinerja dagang RI membaik. Terbukti, berdasar laporan, neraca dagang pada Oktober lalu surplus. Setelah berkali-kali defisit, neraca dagang Oktober mencatat surplus USD 161,3 juta (sekitar Rp 2,26 triliun). Kinerja neraca dagang bulan lalu itu juga lebih baik ketimbang September 2019 yang defisit.

Meski Oktober lalu surplus, secara kumulatif, neraca dagang RI tetap defisit. Setidaknya itulah yang tergambar dalam periode Januari sampai Oktober. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menjelaskan, kinerja neraca dagang yang baik itu dipicu impor yang turun banyak.

“Menjadi catatan, surplus ini tercipta bukan karena ekspor yang naik, melainkan karena impor turun lebih dalam. Ekspor kan juga tercatat turun,” katanya di hadapan media Jumat (15/11).

Menurut Suhariyanto, surplus neraca dagang itu diperoleh dari sektor nonmigas. Nilainya mencapai USD 990,5 juta (sekitar Rp 13,9 triliun). Namun, sektor migas defisit USD 829,2 juta (sekitar Rp 11,6 triliun).

Dia mengungkapkan, perkembangan harga komoditas migas maupun nonmigas pada periode September–Oktober 2019 masih fluktuatif. Dia lantas mencontohkan bahwa harga minyak mentah Indonesia turun selama September dan Oktober.

Sebaliknya, harga beberapa komoditas nonmigas mengalami kenaikan. Di antaranya, cokelat, batu bara, minyak sawit, dan seng. “Kondisi inilah yang memengaruhi kinerja neraca perdagangan Indonesia,” ungkapnya.

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengakui, surplus neraca dagang Oktober memang baik. Namun, surplus itu belum mampu menjadi ukuran kinerja bahwa neraca dagang ke depan benar-benar membaik. Dia menegaskan bahwa tahun ini cukup sulit membalikkan neraca dagang sepanjang tahun menjadi surplus.

“Di tengah perlambatan ekonomi global, ekspor dan impor sama-sama menurun. Tapi, ekspor turun karena ada peristiwa lebih besar yang mengakibatkan neraca perdagangan defisit,” ujarnya melalui sambungan telepon, Jumat.

Ada beberapa faktor yang bisa memberikan harapan pada akhir tahun. Perbaikan harga CPO ini tidak terlepas dari kebijakan B20 yang diinisiatori pemerintah sejak awal tahun. Kebijakan tersebut berhasil mengurangi impor solar sekaligus pasokan CPO ke pasar global dan ikut berkontribusi pada kenaikan harga CPO.

“Tahun depan kebijakan ini ditingkatkan menjadi B30 dan diikuti Malaysia yang memulai program B20,” papar Piter.

Sementara itu, neraca dagang Jawa Timur (Jatim) selama Oktober 2019 justru defisit USD 300,21 juta atau setara Rp 4,2 triliun. Defisit disebabkan adanya selisih perdagangan yang negatif pada sektor nonmigas maupun migas. Secara agregat, neraca perdagangan minus.

Sektor migas mengalami defisit USD 267,26 juta (sekitar Rp 3,76 triliun). Kinerja sektor nonmigas defisit sebesar USD 32,95 juta (sekitar Rp 463 miliar). Secara kumulatif neraca dagang Jatim defisit, namun sektor nonmigas surplus.

“Surplus sektor nonmigas ini perlu lebih ditingkatkan supaya bisa menekan atau mengurangi defisit dari sektor migas,” tutur Kabid Distribusi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Satriyo Wibowo, Jumat. Defisit itu juga perlu dikontrol agar neraca dagang bisa berangsur surplus.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (ken/rin/c14/hep)