ND Panik Saat Tahu Bayi yang Nyemplung di Kloset Tak Bernapas

JawaPos.com – Kasus pembuangan bayi di dalam kloset Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan pada pertengahan Oktober 2018 lalu akhirnya sampai ke meja hijau. Berstatus terdakwa, ND, 18, yang mengenakan kemeja putih sesekali menutupi wajahnya saat berada di sel tahanan sementara di Pengadilan Negeri PN Balikpapan, Rabu (30/1).

Warga Kelurahan Jaraksari, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Timur itu dihadirkan untuk mendengarkan dakwaan. Setelah mendapat izin dari Mujiono sebagai hakim ketua, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mirhan membeberkan alasan mengapa ND bisa duduk di kursi pesakitan.

Berdasarkan kronologi kejadian, terdakwa ND pada Jumat, 19 Oktober 2018 sekira pukul 23.00 Wita di toilet wanita A2 terminal kedatangan Bandara SAMS Sepinggan hendak buang hajat. Namun saat mengejan, dari alat kelaminnya keluar kepala bayi.

Seketika ND melanjutkan upaya persalinannya. Hingga bayinya masuk ke dalam kloset beserta ari-arinya.



“Saat pertama lahir, sang bayi ternyata tidak bergerak dan menangis,” ucap Mirhan dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Kamis (31/1).

ND disebut sempat mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke hidung bayi. Mengecek apakah ada napas atau tidak.

Begitu mengetahui bayinya tak bernapas, timbul kepanikan terdakwa. Dia langsung menutup kloset dan membiarkan bayi yang baru saja dilahirkannya itu.

“Selanjutnya, terdakwa pun membersihkan bercak darah dari sang bayi hingga kemudian cepat-cepat meninggalkan toilet,” sebut Mirhan.

Dakwaan juga menyebut, terdakwa sebelumnya telah menjalin hubungan asmara dengan seorang pria berinisial SR, tetangga ND di kampung halamannya. Cinta terlarang berujung kehamilan ND. Hingga kedatangannya di Balikpapan beserta orang tuanya, perempuan itu mampu merahasiakan perbuatannya.

“Orang tuanya tidak tahu sama sekali,” ujar Mirhan.

Setelah JPU menyelesaikan pembacaan dakwaan, sidang ditutup sementara. Lalu dilanjutkan pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi yang dihadirkan oleh jaksa.

Editor           : Estu Suryowati

Reporter      : Jpg